PONTIANAK POST - Ancaman kemarau 2026 mulai diantisipasi serius. Kementerian Pertanian Republik Indonesia langsung tancap gas dengan menggelar tanam padi serentak di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur, demi menjaga stok pangan nasional tetap aman.
Langkah ini bukan sekadar seremoni. Pemerintah menargetkan lonjakan luas tambah tanam (LTT) hingga 3,4% dalam satu hari — bahkan disebut dua kali lipat dari capaian hari sebelumnya.
Kenapa Ini Penting?
Indonesia tengah menghadapi potensi tekanan iklim akibat fenomena El Niño yang diprediksi memuncak pada pertengahan 2026. Dampaknya bisa langsung terasa pada produksi pangan.
Namun data terbaru justru menunjukkan tren positif:
- 📈 Luas tanam naik 9,7% (Okt 2025 – Maret 2026)
- 🌾 Produksi beras meningkat lebih dari 2% dibanding tahun lalu
Artinya, percepatan tanam jadi kunci menjaga momentum ini.
Gerakan Besar dari Ngawi
Program ini dipusatkan di Kabupaten Ngawi, salah satu lumbung padi unggulan di Jawa Timur.
Menurut Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto, gerakan ini bukan simbolik:
“Ini harus berdampak nyata. Kita ingin Jawa Timur tidak hanya nomor satu, tapi juga hasilnya meningkat.”
Pendekatan yang dilakukan meliputi:
- Percepatan olah tanah
- Optimalisasi irigasi & pompa air
- Sinergi TNI, penyuluh, dan petani
- Penguatan koordinasi lintas sektor
Teknologi Ikut Turun Sawah
Menariknya, pengawasan hama kini tidak lagi manual.
Melalui sistem digital SIFORTUNA, pemerintah bisa:
- Memprediksi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT)
- Mengambil tindakan cepat sebelum gagal panen terjadi
Sistem ini bahkan sudah terhubung dengan dashboard nasional yang digunakan Kantor Staf Presiden untuk pelaporan langsung ke Presiden.
Ngawi Makin Moncer
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, mengungkapkan capaian daerahnya:
- Produksi padi 2025: 772.571 ton GKG
- Kontribusi ke Jawa Timur: ±7%
- Peringkat: 3 besar se-Jatim (setelah Lamongan & Bojonegoro)
Keberhasilan ini didorong oleh:
- Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB)
- Modernisasi irigasi
- Adaptasi teknologi pertanian
Sawah Bersholawat, Sentuhan Spiritual Petani
Uniknya, program ini juga mengusung pendekatan spiritual lewat tema “Sawah Bersholawat”.
Perwakilan Nahdlatul Ulama menegaskan:
Petani adalah “gudangnya negara” — profesi mulia yang menopang bangsa.
Pendekatan ini juga menyoroti:
- Peran besar perempuan dalam pertanian
- Kekuatan doa dan kebersamaan dalam menghadapi krisis
Pesan Tegas Menteri Pertanian
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan:
“Swasembada pangan adalah kebutuhan bangsa yang tidak bisa ditunda.”
Kesimpulan
Dengan ancaman kemarau dan El Nino di depan mata, strategi percepatan tanam ini jadi langkah krusial.
Kuncinya jelas: cepat, serentak, dan berbasis teknologi.
Jika berhasil, bukan hanya Jawa Timur yang diuntungkan — tapi ketahanan pangan Indonesia secara keseluruhan. (ars)