PONTIANAK POST - Ekosistem burung kicau di Indonesia terbukti memiliki nilai ekonomi yang sangat besar bagi pertumbuhan pasar domestik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebutkan angka perputaran ekonomi sektor ini mencapai Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun.
Budi menyampaikan potensi ini akan terus meningkat seiring maraknya penyelenggaraan lomba burung berkicau di berbagai daerah.
“Kalau lomba burung berkicau semakin banyak, maka dampaknya juga semakin besar,” ucap Budi di Jakarta, Minggu (3/5) dilansir Antara.
Selain pasar lokal, nilai ekspor burung hias Indonesia tahun lalu juga tercatat menyentuh angka Rp12,5 miliar.
Mendag optimis pertumbuhan ini akan ikut mendorong kesejahteraan pelaku usaha yang terlibat dalam rantai ekosistem tersebut.
Baca Juga: Bupati Karolin Dorong Penangkaran dan Pelestarian Burung Kicau di Landak
Dampak Berantai Bagi Sektor UMKM
Geliat hobi ini memicu pertumbuhan berbagai sektor, mulai dari peternak burung hingga industri pendukung seperti pakan.
“Pembuat sangkar burung semakin banyak, pabrik pakan semakin banyak, hingga peternak jangkrik juga ikut bertambah,” katanya.
Budi menjelaskan bahwa rantai pasok ini menciptakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat di banyak wilayah.
Industri perlengkapan burung pun kini menjadi sektor usaha yang semakin menjanjikan seiring tingginya permintaan pasar.
Mendag menegaskan bahwa pengembangan ekosistem ini tetap sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup di Indonesia.
Ia menekankan bahwa seluruh burung yang dilombakan merupakan hasil ternak, bukan hasil tangkapan dari alam liar.
Baca Juga: Kapolres Melawi Cup 2025, Lomba Burung Kicau Meriahkan HUT Bhayangkara ke-79
“Kita ingin memperkenalkan bagaimana mencintai lingkungan dan melestarikan burung kicau, yang dilombakan ini murni burung ternak,” tuturnya.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung penyelenggaraan lomba burung yang lebih profesional dan ramai di masa mendatang.(ant)
Editor : Uray Ronald