PONTIANAK POST - Nama taipan kelahiran Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang (dulu bagian Kabupaten Sambas), Prajogo Pangestu kembali menjadi sebagai orang terkaya se-Indonesia.
Berdasarkan rilis Forbes Real Time Billionaires edisi Mei 2026, pendiri Barito Group tersebut mencatatkan kekayaan sekitar US$20,9 miliar atau setara Rp362,28 triliun (kurs Rp17.330). Angka itu menempatkannya sebagai orang terkaya nomor sdatu di Indonesia.
Di balik angka fantastis tersebut, tersimpan kisah hidup yang jauh dari gemerlap. Pria bernama asli Phang Djoem Phen ini tumbuh dalam keterbatasan ekonomi.
Ayahnya bekerja sebagai penyadap karet, sementara dirinya hanya mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat SMP.
Sejak muda, ia sudah bekerja keras membantu keluarga. Bahkan, dalam fase hidup yang sulit, Prajogo pernah menjadi sopir angkutan kota di kampung halamannya. Dari titik itulah, jalan panjang menuju kesuksesan mulai terbuka.
Pertemuan dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Bong Sun On atau Burhan Uray, menjadi titik balik hidupnya.
Ia kemudian bergabung dengan PT Djajanti Group pada 1969 dan berkat kerja kerasnya, hanya dalam waktu beberapa tahun berhasil menempati posisi penting sebagai general manager.
Tak berhenti di sana, keberanian mengambil risiko membawanya mendirikan usaha sendiri.
Ia mengakuisisi CV Pacific Lumber Coy dengan modal pinjaman bank—langkah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Barito Pacific.
Perusahaan tersebut melantai di bursa pada 1993 dan terus berkembang hingga berekspansi ke sektor petrokimia, energi, hingga energi terbarukan.
Akuisisi Chandra Asri dan ekspansi ke bisnis panas bumi melalui Star Energy menjadi tonggak penting yang melambungkan nilai bisnisnya.
Kini, Barito Group dikenal sebagai salah satu pemain utama di sektor energi terintegrasi di Indonesia.
Melalui Star Energy, perusahaan ini bahkan mengoperasikan salah satu jaringan panas bumi terbesar di dunia.
Meski sejumlah saham yang terafiliasi dengan bisnisnya sempat mengalami koreksi, kekuatan diversifikasi usaha membuat posisinya tetap sulit tergeser.
Di bawah Prajogo, nama Low Tuck Kwong masih bertahan di posisi kedua dengan kekayaan sekitar US$16,5 miliar, disusul duo bersaudara R. Budi Hartono dan Michael Hartono yang mengandalkan sektor perbankan melalui kepemilikan di Bank Central Asia (BCA).
Nama lain seperti Anthoni Salim, Tahir, hingga Sri Prakash Lohia juga masih menghuni jajaran elite dengan bisnis yang tersebar di sektor pangan, kesehatan, manufaktur, dan infrastruktur.
Menariknya, sektor ekonomi digital mulai menunjukkan pengaruh. Mariana Budiman, misalnya, masuk daftar melalui bisnis pusat data yang kini semakin berkembang di tengah transformasi digital.
Meski demikian, peta kekayaan Indonesia masih didominasi sektor tradisional seperti energi, tambang, dan perbankan. Fluktuasi harga komoditas dan pasar saham menjadi faktor utama yang memengaruhi pergeseran posisi para konglomerat.
Namun satu hal tetap tak berubah: dari seorang sopir angkot di pelosok Kalimantan Barat, Prajogo Pangestu kini berdiri di puncak, membuktikan bahwa kerja keras dan keberanian mengambil peluang mampu mengubah nasib secara drastis. (den)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro