Dilansir dari Jawapos, akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Prof Dr Rudi Purwono SE MSE, menyatakan tidak cukup hanya mengandalkan tabungan biasa. Instrumen investasi harus disesuaikan dengan jangka waktu persiapan.
Untuk lebih dari 10 tahun, reksa dana saham atau obligasi pemerintah bisa dipilih. Untuk 5–10 tahun, reksa dana campuran atau sukuk ritel relatif aman. Sedangkan untuk jangka pendek di bawah lima tahun, deposito atau tabungan pendidikan lebih sesuai.
’’Prinsipnya di versifikasi. Jangan taruh semua dana di satu instrumen,’’ tegasnya.
Baca Juga: Ini Cara Cerdas Menabung untuk Dana Kuliah Anak Tanpa Beban Berat
Kesalahan lain yang sering dilakukan orang tua adalah baru menyiapkan dana menjelang anak kuliah. Akibatnya, pos lain harus dikorbankan, bahkan sampai berutang.
’’Selain itu, banyak yang tidak memisahkan tabungan khusus pendidikan, sehingga dana mudah terpakai untuk kebutuhan sehari-hari,’’ ungkapnya.
Dalam keuangan rumah tangga, prioritas juga harus jelas. Kebutuhan dasar seperti makan, kesehatan, dan tempat tinggal tetap menjadi yang utama. Setelah itu, dana darurat perlu disiapkan, baru kemudian mengalokasikan dana untuk pendidikan anak.
Dengan menabung sejak dini, beban keuangan rumah tangga akan lebih stabil.
Baca Juga: Menyiapkan Biaya Pendidikan Anak
Tren Menabung Meningkat
Rudi melihat kesadaran menabung masyarakat mulai meningkat. Berdasarkan survei LPS 2024, Indeks Intensitas Menabung (IIM) naik 0,6 poin menjadi 72,4.
’’Artinya semakin banyak orang yang rutin menabung, meski jumlahnya kecil. Ini tren positif,’’ jelasnya.
Ia juga menyarankan agar anak dilibatkan dalam diskusi biaya kuliah.
’’Anak perlu diberi pemahaman bahwa kuliah butuh persiapan dana. Dengan begitu, mereka belajar literasi finansial sejak dini,’’ ujarnya.
Langkah ini sekaligus membantu menyelaraskan cita-cita anak dengan kondisi finansial keluarga. (*)
Editor : Chairunnisya