PONTIANAK POST — Perekonomian Kalimantan Barat mencatat kinerja impresif pada Q1 atau triwulan I-2026. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 6,14 persen secara tahunan (year-on-year).
Dari catatan Pontianak Post, kalau tidak bisa dibilang tertinggi sepanjang sejarah, angka ini sangat tinggi dan jarang terjadi dalam satu dekade terakhir.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalbar atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp86,78 triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 sebesar Rp44,21 triliun.
Kenaikan signifikan ini terutama didorong oleh lonjakan tajam sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 34,14 persen—tertinggi di antara seluruh lapangan usaha.
"Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan juga ditopang kuat oleh konsumsi pemerintah yang melonjak 28,95 persen, seiring meningkatnya realisasi belanja negara di awal tahun," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat Muh Saichudin, dalam siaran persnya, Selasa (5/5).
Selain itu, sektor-sektor jasa turut menunjukkan geliat. Lapangan usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 12,20 persen, diikuti perdagangan 9,58 persen dan transportasi serta pergudangan 9,00 persen. Aktivitas ini mencerminkan meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat.
Meski demikian, secara triwulanan (quarter-to-quarter), ekonomi Kalbar mengalami kontraksi tipis sebesar 0,01 persen.
Pelemahan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya kinerja sektor konstruksi yang terkontraksi 10,02 persen, serta komponen investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang turun 7,95 persen.
Struktur ekonomi Kalbar masih didominasi sektor tradisional. "Pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 22,64 persen, diikuti industri pengolahan 15,29 persen, perdagangan 14,09 persen, dan konstruksi 11,57 persen," kata dia.
Namun, sektor pertanian yang dominan ini hanya tumbuh 1,37 persen, jauh di bawah sektor-sektor yang menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Dari sisi pengeluaran, ekonomi Kalbar masih bergantung pada konsumsi rumah tangga yang mencapai 49,22 persen, disusul investasi (PMTB) 30,82 persen, dan ekspor barang dan jasa 19,05 persen.
Capaian pertumbuhan di atas 6 persen ini menempatkan Kalbar pada fase akselerasi yang tidak biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi daerah ini umumnya berada di kisaran 4 hingga 5,5 persen.
Lonjakan pada awal 2026 menjadi sinyal kuat pemulihan sekaligus ekspansi, meski masih menyisakan catatan pada aspek pemerataan dan keberlanjutan pertumbuhan.
Ke depan, tantangan utama adalah menjaga momentum ini agar tidak hanya bergantung pada sektor yang fluktuatif seperti pertambangan dan belanja pemerintah, tetapi juga diperkuat oleh sektor-sektor utama yang lebih stabil seperti pertanian dan industri pengolahan.
Nasional Capai 5,61 Persen
Kinerja ekonomi nasional menunjukkan akselerasi pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (YoY). Angka itu meningkat dari 4,87 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, pertumbuhan ini ditopang kuatnya konsumsi domestik serta kinerja industri pengolahan. “Ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen secara year on year,” ujarnya, kemarin (5/5).
Dari sisi lapangan usaha, mayoritas sektor tumbuh positif. Industri pengolahan menjadi kontributor utama dengan andil 1,03 persen, ditopang permintaan domestik selama Ramadan dan Idul Fitri serta ekspor CPO dan turunannya.
Sektor perdagangan tumbuh 6,26 persen, sementara pertanian naik 4,97 persen berkat panen raya dan meningkatnya permintaan pangan. Pertumbuhan tertinggi dicatat sektor akomodasi dan makan minum yang melonjak 13,14 persen, diikuti jasa lainnya 9,91 persen serta transportasi dan pergudangan 8,04 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 54,36 persen terhadap PDB dan tumbuh 5,52 persen.
Sedangkian investasi (PMTB) tumbuh 5,96 persen dengan kontribusi 28,29 persen. “Konsumsi pemerintah melonjak 21,81 persen, didorong belanja pegawai termasuk gaji ke-14 serta belanja barang dan jasa,” imbuhnya.
Secara wilayah, pertumbuhan terjadi merata. Pulau Jawa masih mendominasi dengan kontribusi 57,24 persen terhadap PDB, diikuti Sumatera 22,08 persen. Sementara pertumbuhan tertinggi tercatat di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen.
Keluar dari “Kutukan” 5 Persen
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai capaian kuartal I 2026 menjadi sinyal kuat akselerasi ekonomi. “Sudah terlihat kita mulai lepas dari ‘kutukan’ pertumbuhan 5 persen. Ekonomi bergerak lebih cepat,” ujarnya.
Meskipun demikian, dia mengingatkan tantangan global masih besar. Pemerintah akan menjaga momentum dengan memperkuat konsumsi domestik dan sektor industri.
Sejumlah stimulus disiapkan, termasuk subsidi kendaraan listrik untuk mendorong konsumsi sekaligus mengurangi ketergantungan energi impor. Program ini ditargetkan berjalan mulai Juni 2026.
“Sektor manufaktur seperti tekstil dan alas kaki akan didorong melalui pembiayaan murah untuk peremajaan mesin,” imbuhnya. (ars)
INFOGRAFIS EKONOMI KALBAR Q1-2026
Kinerja Utama
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan (Q-to-Q) | -0,01% |
| Pertumbuhan (Y-on-Y) | 6,14% |
| Pertumbuhan (C-to-C) | 6,14% |
| PDRB (ADHB) | Rp86.780,77 Miliar |
Perbandingan Nasional
| Wilayah | Pertumbuhan (Y-on-Y) |
|---|---|
| Kalimantan Barat | 6,14% |
| Nasional | 5,61% |
Historis Pertumbuhan (4 Tahun Terakhir)
| Tahun | Triwulan | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|
| 2023 | Q I | 4,65 |
| Q II | 4,00 | |
| Q III | 4,27 | |
| Q IV | 4,90 | |
| 2024 | Q I | 4,98 |
| Q II | 4,76 | |
| Q III | 4,87 | |
| Q IV | 4,98 | |
| 2025 | Q I | 5,00 |
| Q II | 5,59 | |
| Q III | 5,31 | |
| Q IV | 5,62 | |
| 2026 | Q I | 6,14 |
Struktur Pengeluaran
| Komponen | Kontribusi |
|---|---|
| Konsumsi Rumah Tangga | 49,22% |
| Investasi (PMTB) | 30,82% |
| Ekspor | 19,05% |
Sumber Pertumbuhan Utama
| Sektor | Pertumbuhan |
|---|---|
| Pertambangan & Penggalian | 34,14% |
| Konsumsi Pemerintah | 28,95% |
| Akomodasi & Makan Minum | 12,20% |
| Perdagangan | 9,58% |
| Transportasi & Pergudangan | 9,00% |
Catatan Penting
| Indikator | Keterangan |
|---|---|
| Kontraksi Q-to-Q | Dipicu sektor konstruksi (-10,02%) |
| Investasi (PMTB) | Turun 7,95% |
| Pertanian (dominan) | Tumbuh hanya 1,37% |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro