Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rekor Baru, Pertumbuhan Ekonomi Kalbar Tembus 6,14 Persen

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 5 Mei 2026 | 22:16 WIB
Sejumlah pekerja mengawasi proses ekskavator melakukan aktivitas bongkar muat bauksit untuk dibawa ke PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. (ANTARA FOTO/JESSICA WUYSANG)
Sejumlah pekerja mengawasi proses ekskavator melakukan aktivitas bongkar muat bauksit untuk dibawa ke PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. (ANTARA FOTO/JESSICA WUYSANG)

 

PONTIANAK POST — Ekonomi Kalimantan Barat melesat ke level tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Pada triwulan I-2026, pertumbuhan menembus 6,14 persen (year-on-year), melampaui capaian nasional dan menandai fase akselerasi yang tidak biasa bagi daerah ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, lonjakan tersebut terutama didorong sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh fantastis hingga 34,14 persen—tertinggi di antara seluruh lapangan usaha.

Di saat yang sama, belanja pemerintah ikut mengerek pertumbuhan dengan kenaikan 28,95 persen pada awal tahun.

Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalbar atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp86,78 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 sebesar Rp44,21 triliun.

Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, menyebut geliat ekonomi juga tercermin dari meningkatnya aktivitas masyarakat.

Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 12,20 persen, perdagangan 9,58 persen, serta transportasi dan pergudangan 9,00 persen.

“Ini menunjukkan mobilitas dan konsumsi masyarakat yang terus meningkat,” ujarnya dalam siaran pers, Selasa (5/5).

Namun, di balik capaian tinggi tersebut, ekonomi Kalbar masih menyisakan catatan.

Secara triwulanan (quarter-to-quarter), pertumbuhan justru mengalami kontraksi tipis sebesar 0,01 persen.

Pelemahan ini dipicu turunnya sektor konstruksi yang terkontraksi 10,02 persen serta investasi (PMTB) yang menyusut 7,95 persen.

Struktur ekonomi Kalbar pun masih bertumpu pada sektor tradisional. Pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 22,64 persen, disusul industri pengolahan 15,29 persen, perdagangan 14,09 persen, dan konstruksi 11,57 persen.

Ironisnya, sektor pertanian yang dominan tersebut hanya tumbuh 1,37 persen—jauh di bawah sektor pendorong utama.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 49,22 persen. Sementara itu, investasi menyumbang 30,82 persen dan ekspor barang serta jasa sebesar 19,05 persen.

Jika ditarik ke belakang, lonjakan ini tergolong tidak lazim. Dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kalbar berkutat di kisaran 4 hingga 5,6 persen.

Tembusan 6,14 persen pada awal 2026 menjadi sinyal kuat pemulihan sekaligus ekspansi ekonomi, meski masih sangat bergantung pada sektor yang fluktuatif.

Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga momentum ini tetap berkelanjutan.

Ketergantungan pada sektor tambang dan belanja pemerintah dinilai berisiko jika tidak diimbangi penguatan sektor yang lebih stabil seperti pertanian dan industri pengolahan.

Secara nasional, ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen (YoY), meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.

Pertumbuhan ditopang konsumsi domestik dan industri pengolahan, terutama selama momentum Ramadan dan Idulfitri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai capaian tersebut sebagai sinyal ekonomi mulai keluar dari stagnasi. “Kita mulai lepas dari ‘kutukan’ pertumbuhan 5 persen. Ekonomi bergerak lebih cepat,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai tantangan global. Sejumlah stimulus disiapkan untuk menjaga daya dorong ekonomi, mulai dari subsidi kendaraan listrik hingga pembiayaan murah bagi industri manufaktur. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#investasi #PDRB #kalbar #pertambangan #pertumbuhan ekonomi