Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Forbes Mei 2026: Peta Kekayaan Indonesia Masih Dikuasai, Taipan Asal Kalbar.

Deny Hamdani • Rabu, 6 Mei 2026 | 19:17 WIB
PRAJOGO PANGESTU
PRAJOGO PANGESTU

 

PONTIANAK POST – Peta konglomerat papan atas Indonesia kembali mengalami dinamika pada Mei 2026. Berdasarkan rilis terbaru Forbes Real Time Billionaires, sejumlah nama lama masih mendominasi daftar orang terkaya di Tanah Air, meski terjadi fluktuasi nilai kekayaan akibat pergerakan pasar global dan harga komoditas.

Sorotan utama tertuju pada Prajogo Pangestu, taipan kelahiran Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang tetap bertahan di posisi teratas. Pendiri Barito Group itu tercatat memiliki kekayaan sekitar US$20,9 miliar atau setara Rp362,28 triliun (kurs Rp17.330).

Meski saham sejumlah emiten yang terafiliasi dengan bisnisnya mengalami koreksi sepanjang tahun berjalan, dominasi Prajogo belum tergeser. Bisnisnya yang mencakup sektor petrokimia, energi, dan energi terbarukan masih menjadi penopang utama kekayaan.

Prajogo Pangestu sendiri diketahui merupakan Taipan Perkayuan terbesar di Indonesia sebelum Krisis Ekonomi 1997 terjadi. Bisnisnya berawal pada akhir tahun 70-an di bawah perusahaan Djajanti Timber Group dan selanjutnya membentuk nama Barito Pacific. Nilai kekayaan Prajogo per Desember 2022 dikabarkan tercatat sebesar US$4,9 miliar atau setara dengan Rp 76 triliun. Laporan terbaru 2023 versi forbes bahkan kabarnya sudah menyentuh level angka 5,7 miliar USD.

Namun, di balik kesuksesan Prayogo Pangestu mengelola perusahaan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, ternyata dulunya pria asli bernama Phang Djoem Phen harus memulainya dari bawah. Kurang beruntung secara finansial dalam kehidupan keluarnya waktu itu, hingga sempat menjadikannya sebagai sopir angkot di kotanya.

Semasa kecil, Prajogo Pangestu juga menjalani hidup yang cukup keras. Sejak kecil juga, Taipan asal Kalbar ini harus bekerja demi membantu sang keluarga. Waktu itu ayahnya bahkan bekerja sebagai seorang penyadap getah karet.

Karena keterbatasan biaya, Prajogo Pangestu juga hanya mampu dapat menamatkan bangku sekolahnya hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meskipun hidup di tengah keterbatasan, namun tak membuat Phang Djoem Phen menyesali nasib hidupnya. Justru dia lebih bekerja keras memikirkan nasib keluarganya.

Sikap baik dan motivasi tingginya menghidupi keluarga dengan cara halal, justru menjadi sebagai gerbang pembuka kesuksesannya. Prajogo bahkan sampai merantau ke Jakarta mengejar impian kecilnya. Tinggal di ibukota, Indonesia tak serta merta membuatnya mendapat penghasilan.

Prayogo bahkan sempat kecewa hingga harus kembali ke kampung halamannya. Dikutip dari Data Indonesia, saat pulang ke kampung halamannya, Prajogo kembali membulatkan tekadnya mengais rezeki dari bawah. Dia menjadi sopir angkot. Sekitar tahun 1960, sambil menjalani pekerjaannya, Prayogo membuka awal mula kunci suksesnya. Dia bertemu bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia bernama Bong Sun On atau Burhan Uray. Dari pertemuan dengan pengusaha kayu asal Malaysia tersebut, akhirnya jalan menuju sukses seperti terbuka. Prajogo pun waktu itu mulai meniti karir di PT Djajanti Group milik Sun On pada 1969. Berkat kerja keras dan tangan midasnya, tujuh tahun kemudian Prajogo mendapatkan jabatan sebagai general manager (GM) di pabrik Plywood Nusantara.

Kurang lebih setahun berkarir, dia pun memberanikan diri membuka usaha sendiri. Mulanya, dia membeli CV. Pacific Lumber Coy yang bermodalkan utang bank. Perusahaan ini sukses dan membawa ke lantai bursa pasar modal Indonesia pada tahun 1993, sebelum akhirnya berganti nama menjadi PT Barito Pacific pada tahun 2007.

Bisnis Prajogo Pangestu terus melesat hingga bekerja sama dengan berbagai pengusaha termasuk penguasa waktu itu. Karier, Prajogo Pangestu sendiri juga cukup menyebar dan pernah di berbagai posisi. Dari menjadi Presiden Komisaris PT.Tri Polyta Indonesia Tbk, Presiden Komisaris PT.Chandra Asri Petrochemical Center, Wakil Presiden Komisaris PT.Tanjungenim Lestari Pulp & Paper, Presiden Komisaris PT.Barito Pacific Timber Tbk, hingga Komisaris PT.Astra International, 1993-1998 pernah dijalaninya.

Namun melesatnya perkembangan bisnis Prajogo Pangestu dilansir Forbes, setelah tahun 2007 Barito Pacific mengakuisisi 70 persen perusahaan petrokimia Chandra Asri. Perusahaan ini juga melantai di Bursa Efek Indonesia. Tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.

Waktu itu juga, Thai oil mengakuisisi 15 persen saham Chandra Asri sekitar bulan Juli 2021. Kesuksesan bisnis petrokimia dalam negeri, selanjutnya bulan Maret 2022, keluarga Pangestu kembali mengambil alih produsen energi panas Star Energy. Caranya dengan mengakuisisi 33 persen saham dari BCPG Thailand seharga US$440 juta atau Rp6,8 triliun.

Perusahaan ini diincar Prajogo Pangestu sejak tahun 2009 silam. Setelah itu, Prajogo akhirnya melakukan akuisisi sehingga jumlah saham Star Energy menjadi 66,66 persen saham beredar. Hasilnya, selain bisnis bidang perkayuan, usaha Barito Group meluas di berbagai bidang.

Diketahui PT. Barito Pacific Tbk dengan kode emiten saham BRPT adalah perusahaan energi terintegrasi berbasis di Indonesia dengan berbagai aset di sektor energi dan industri. Melalui Star Energy, Barito Pacific mengoperasikan perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia yang juga merupakan perusahaan panas bumi terbesar ketiga di dunia.

Di posisi kedua, Low Tuck Kwong masih bertahan dengan kekayaan sekitar US$16,5 miliar. Pengusaha batu bara ini diuntungkan oleh kinerja sektor energi yang sempat melonjak dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, sektor perbankan tetap menjadi salah satu pilar kekayaan para konglomerat Indonesia. Nama R. Budi Hartono dan Michael Hartono masih konsisten berada di jajaran atas dengan kekayaan masing-masing sekitar US$15,8 miliar dan US$15 miliar.

Keduanya dikenal sebagai pemilik Grup Djarum dan pemegang saham mayoritas di Bank Central Asia (BCA), yang menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia.

Di bawahnya, nama Anthoni Salim menempati posisi berikutnya dengan kekayaan sekitar US$11,9 miliar. Salim Group dikenal memiliki portofolio bisnis yang sangat luas, mulai dari pangan, infrastruktur, hingga investasi digital.

Kemudian ada Tahir bersama keluarga dengan kekayaan sekitar US$9,7 miliar yang berasal dari sektor kesehatan dan jasa keuangan.

Sektor industri berbasis manufaktur dan petrokimia juga turut menyumbang nama-nama besar seperti Sri Prakash Lohia dengan kekayaan sekitar US$8,8 miliar.

Menariknya, sektor ekonomi digital dan infrastruktur data mulai menunjukkan peran signifikan. Mariana Budiman, misalnya, masuk dalam daftar dengan kekayaan sekitar US$6 miliar dari bisnis pusat data (data center).

Selain itu, nama Lim Hariyanto Wijaya Sarwono dan Haryanto Tjiptodiharjo melengkapi daftar dengan kekayaan masing-masing sekitar US$5,3 miliar dan US$5 miliar.

Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia (Mei 2026 versi Forbes):

1. Prajogo Pangestu – US$20,9 miliar

2. Low Tuck Kwong – US$16,5 miliar

3. R. Budi Hartono – US$15,8 miliar

4. Michael Hartono – ~US$15 miliar

5. Anthoni Salim – ~US$11,9 miliar

6. Tahir & keluarga – ~US$9,7 miliar

7. Sri Prakash Lohia – ~US$8,8 miliar

8. Mariana Budiman – ~US$6 miliar

9. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono – ~US$5,3 miliar

10. Haryanto Tjiptodiharjo – ~US$5 miliar

Perubahan posisi dalam daftar ini tak lepas dari dinamika global, terutama fluktuasi harga komoditas seperti batu bara dan energi, serta volatilitas pasar saham. Meski demikian, dominasi sektor tradisional seperti tambang, energi, dan perbankan masih menjadi tulang punggung kekayaan para taipan Indonesia.

Kehadiran sektor baru seperti data center dan ekonomi digital menunjukkan adanya pergeseran arah investasi, meski belum sepenuhnya menggeser dominasi sektor lama.

Dengan komposisi tersebut, peta orang terkaya Indonesia mencerminkan kombinasi antara kekuatan bisnis konvensional dan pertumbuhan sektor modern, dengan figur asal Kalimantan Barat tetap kokoh di puncak.(den)

 

 

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#taipanindonesia #forbes #kalimantanbarat #Prayogo Pangestu #ihsg menguat