Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kenapa Kalimantan Barat Justru Diuntungkan dengan Melemahnya Rupiah terhadap Dolar

Siti Sulbiyah Kurniasih • Selasa, 12 Mei 2026 | 23:04 WIB
Bongkar muat di Pelabuhan Kijing
Bongkar muat di Pelabuhan Kijing

 

PONTIANAK POST – Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.529 per dolar Amerika Serikat (AS) membawa dua wajah bagi perekonomian Kalimantan Barat.

Di satu sisi, sektor ekspor seperti sawit, alumina, karet, hingga bauksit menikmati lonjakan keuntungan.

Namun di sisi lain, pelaku UMKM dan industri yang bergantung pada bahan baku impor mulai menghadapi tekanan biaya produksi.

Kondisi ini membuat Kalbar menjadi salah satu daerah yang relatif diuntungkan dibanding wilayah lain karena struktur ekonominya masih ditopang komoditas ekspor berbasis dolar AS.

Ketua Umum Kadin Kalbar, Arya Rizqi Darsono, mengatakan pelemahan rupiah justru meningkatkan nilai penerimaan eksportir ketika dikonversi ke mata uang rupiah.

“Nilai penerimaan dalam rupiah menjadi lebih tinggi dan daya saing ekspor meningkat,” ujarnya kepada Pontianak Post, Selasa (12/5).

Komoditas Kalbar Ketiban Untung

Kalbar selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil komoditas ekspor utama nasional, mulai dari crude palm oil (CPO), alumina, karet, hasil perkebunan, hingga produk turunan pertambangan.

Ketika dolar AS menguat, harga komoditas yang diperdagangkan menggunakan mata uang dolar otomatis memberikan keuntungan lebih besar bagi eksportir.

Aktivitas bongkar muat bauksit dan alumina di Pelabuhan Terminal Kijing, misalnya, diperkirakan ikut terdongkrak karena permintaan pasar global masih cukup tinggi.

Kondisi tersebut juga membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harga barang dalam dolar menjadi relatif lebih murah.

“Kalbar memiliki potensi besar di sektor sawit, alumina, perikanan, dan produk pangan olahan. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” kata Arya.

Ketua Apindo Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, juga menilai pelemahan rupiah memberi keuntungan bagi pengusaha yang bergerak di sektor ekspor.

“Barang atau jasa yang dijual ke luar negeri harganya menjadi lebih murah dalam USD,” ujarnya.

Menurut dia, sektor yang paling diuntungkan antara lain sawit, batu bara, tekstil, furnitur, hingga sektor pariwisata.

UMKM dan Industri Mulai Tertekan

Meski sektor ekspor menikmati keuntungan jangka pendek, tekanan justru mulai dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.

Arya menjelaskan penguatan dolar membuat biaya operasional perusahaan meningkat, mulai dari pembelian sparepart, alat berat, logistik, hingga pembayaran kewajiban dalam valuta asing.

“UMKM dan industri dengan margin tipis akan lebih rentan karena kenaikan biaya tidak selalu bisa langsung dibebankan ke konsumen,” katanya.

Sektor yang diperkirakan paling terdampak ialah perdagangan umum, makanan-minuman, konstruksi, transportasi, otomotif, serta industri berbasis bahan baku impor.

Kondisi serupa juga disampaikan Andreas Acui Simanjaya. Ia menyebut banyak industri di Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku seperti gandum, kedelai, BBM, hingga mesin industri.

“Ekspansi usaha juga cenderung tertahan karena biaya bahan dan mesin impor meningkat,” ujarnya.

Selain itu, beban utang luar negeri perusahaan juga ikut meningkat akibat nilai tukar dolar yang terus menguat.

Ancaman Inflasi Mulai Diwaspadai

Di balik keuntungan sektor ekspor, pelaku usaha mulai mengkhawatirkan ancaman imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor.

Arya mengatakan pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga pangan, energi, obat-obatan, hingga berbagai barang konsumsi lain.

“Kalau berlangsung lama, daya beli masyarakat bisa melemah dan berdampak pada perlambatan ekonomi daerah,” katanya.

Kekhawatiran itu juga disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Wendy M.Sc. Menurutnya, pelemahan rupiah memang membawa peluang bagi daerah berbasis komoditas seperti Kalbar, tetapi tetap harus diwaspadai dampaknya terhadap harga kebutuhan masyarakat.

“Harga barang impor, alat berat, pupuk, pakan, suku cadang mesin industri, hingga kebutuhan pokok diperkirakan mengalami kenaikan,” ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih bijak mengelola pengeluaran supaya daya beli tetap terjaga.

Faktor Global Jadi Pemicu

Wendy menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa langsung diartikan sebagai sinyal melemahnya ekonomi Indonesia. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu dinamika global.

Beberapa faktor utama ialah masih tingginya suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset aman (safe haven), hingga ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia.

“Ketidakpastian global mendorong penguatan indeks dolar AS dan berpotensi memicu keluarnya arus modal asing dari negara berkembang,” katanya.

Selain faktor global, Wendy menyebut terdapat peningkatan kebutuhan dolar AS di dalam negeri pada periode April–Mei 2026 untuk pembayaran utang luar negeri, pembagian dividen investor asing, pembiayaan impor energi, hingga kebutuhan musim haji.

Meski begitu, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Inflasi inti tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di atas lima persen, dan cadangan devisa Indonesia dinilai aman.

Momentum Perkuat Hilirisasi

Di tengah tekanan global, pelemahan rupiah justru dinilai menjadi momentum penting bagi Kalbar untuk mempercepat hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.

Arya menilai pemerintah perlu memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat sektor riil, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Hilirisasi industri, ketahanan pangan dan energi, efisiensi logistik, serta dukungan pembiayaan bagi UMKM perlu dipercepat agar ekonomi daerah tetap kuat menghadapi tekanan global,” katanya.

Wendy juga menilai kondisi ini bisa menjadi peluang bagi UMKM lokal untuk berkembang. Ketika harga produk impor naik, masyarakat cenderung beralih ke produk lokal yang lebih terjangkau.

“Produk substitusi dari dalam negeri punya peluang memperluas pasar domestik,” ujarnya.

Bagi Kalbar, pelemahan rupiah kali ini tidak hanya menjadi alarm ekonomi, tetapi sekaligus peluang besar bagi daerah berbasis ekspor untuk menikmati lonjakan keuntungan dari pasar global. (sti)

 

Dampak Kenaikan Dolar bagi Kalbar

Dampak Positif Dampak Negatif
Nilai ekspor sawit, alumina, karet, dan bauksit meningkat Harga bahan baku impor naik
Pendapatan eksportir bertambah saat dikonversi ke rupiah Biaya logistik dan BBM industri meningkat
Produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global UMKM dengan margin tipis mulai tertekan
Sektor hilirisasi berpeluang tumbuh Harga pangan dan obat-obatan berpotensi naik
Produk lokal berpeluang gantikan barang impor Daya beli masyarakat terancam melemah
Pariwisata lebih murah bagi wisatawan asing Utang luar negeri perusahaan membengkak

Sektor Paling Diuntungkan

Sektor Paling Terdampak

Kurs Rupiah

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Ekonomi #kalimantan barat #dolar #untung #rupiah