PONTIANAK POST — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,66 persen atau 115 poin ke level Rp17.529 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5). Pelemahan mata uang nasional tersebut dinilai membawa dampak berbeda bagi berbagai sektor usaha di Kalimantan Barat.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kalimantan Barat, Arya Rizqi Darsono menilai pelemahan rupiah memberikan dampak yang berbeda bagi tiap sektor usaha di provinsi ini.
Dari sisi positif, sektor berbasis ekspor seperti sawit, alumina, karet, dan beberapa komoditas perkebunan memperoleh keuntungan karena pendapatan mereka berbasis dolar AS.
Baca Juga: Kenapa Kalimantan Barat Justru Diuntungkan dengan Melemahnya Rupiah terhadap Dolar
"Nilai penerimaan dalam rupiah menjadi lebih tinggi dan daya saing ekspor meningkat," katanya, Selasa.
Namun di sisi lain, kata dia, biaya produksi ikut naik karena banyak bahan baku, spare part, alat berat, dan logistik masih bergantung pada impor atau harga global berbasis dolar. Dampak negatif paling terasa bagi UMKM dan sektor perdagangan yang bergantung pada daya beli masyarakat domestik.
Ia menilai, ketika dolar menguat hingga Rp17.500, biaya operasional perusahaan otomatis meningkat, mulai dari bahan baku impor, BBM industri, biaya logistik, hingga pembayaran kewajiban dalam valuta asing.
"Perusahaan besar yang memiliki pendapatan ekspor mungkin masih bisa mengimbangi tekanan tersebut. Tetapi UMKM dan industri dengan margin tipis akan lebih rentan karena kenaikan biaya tidak selalu bisa langsung dibebankan ke konsumen," ujarnya.
Baca Juga: BI dan Pemerintah Hidupkan Lagi Dana Stabilitas Obligasi untuk Jaga Rupiah
Ia menilai, sektor yang paling terdampak adalah perdagangan umum, industri makanan-minuman, konstruksi, transportasi, otomotif, dan UMKM yang menggunakan bahan baku impor. Sektor logistik juga cukup tertekan karena biaya transportasi dan energi meningkat.
Sementara sektor berbasis ekspor relatif lebih diuntungkan dalam jangka pendek, meskipun tetap harus mewaspadai dampak inflasi dan perlambatan konsumsi masyarakat.
Namun, menurutnya terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan pengusaha di Kalbar di tengah melemahnya rupiah, khususnya untuk memperkuat ekspor dan hilirisasi industri daerah. Produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional ketika rupiah melemah.
"Kalbar memiliki potensi besar di sektor sawit, alumina, perikanan, dan produk pangan olahan. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan terhadap impor," paparnya.
Di sisi lain, lanjut dia, terdapat kekhawatiran terhadap potensi inflasi atau kenaikan biaya hidup akibat pelemahan rupiah tersebut. Pelemahan rupiah dinilai dapat memicu imported inflation, terutama pada pangan, energi, obat-obatan, dan barang konsumsi tertentu.
"Jika berlangsung lama, daya beli masyarakat bisa melemah dan berdampak pada perlambatan ekonomi daerah," katanya.
Baca Juga: Kadin Kalbar: Pertumbuhan 6,14 Persen Positif, Tapi Pemerataan dan Daya Beli Jadi Tantangan
Dengan fenomena ini, pihaknya berharap, pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat sektor riil.
"Hilirisasi industri, ketahanan pangan dan energi, efisiensi logistik, serta dukungan pembiayaan bagi UMKM perlu dipercepat agar ekonomi daerah tetap kuat menghadapi tekanan global," pungkasnya. (sti)
Editor : Miftahul Khair