PONTIANAK POST – Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pemerintah dan Bank Indonesia perlu bersinergi lebih kuat dalam mengintervensi nilai tukar rupiah untuk mencegah tekanan lebih luas pada inflasi.
Yusuf menyebut pelemahan rupiah mulai menimbulkan tekanan harga meski inflasi secara umum masih relatif rendah. "Tekanan mulai terasa, terutama dari kenaikan biaya impor, energi, dan distribusi," ujarnya di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, ketergantungan Indonesia pada impor pangan, BBM, bahan baku industri, dan barang modal membuat pelemahan rupiah cepat atau lambat berdampak pada harga barang dan jasa. Awalnya produsen menahan kenaikan harga, tetapi jika kurs tetap lemah, penyesuaian harga hampir tak terelakkan.
Yusuf mengidentifikasi tiga tekanan utama: pangan impor seperti gandum, kedelai, dan gula; energi dan transportasi; serta biaya produksi industri berbasis bahan baku impor yang memicu kenaikan harga ke konsumen.
Ia menekankan intervensi BI penting untuk menahan kepanikan pasar, namun langkah tunggal BI tidak cukup tanpa koordinasi pemerintah. "Pasar juga melihat defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor energi, dan persepsi terhadap ruang fiskal pemerintah," jelasnya.
Yusuf menyarankan langkah mendesak berupa memperkuat pasokan devisa domestik, menjaga disiplin fiskal, mengurangi ketergantungan impor, dan memperluas transaksi dengan mata uang lokal untuk menekan permintaan dolar AS.
Pada penutupan perdagangan hari ini, kurs rupiah tercatat menguat menjadi Rp17.476 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.529 per dolar AS. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas