PONTIANAK POST – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian mengkhawatirkan. Dalam dua pekan terakhir, rupiah terus melemah hingga menembus Rp 17.719 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Bahkan, Center of Economics and Law Studies (Celios) memproyeksikan kurs rupiah berpotensi menyentuh level Rp 20 ribu per dolar AS pada akhir Juni 2026 apabila pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi domestik.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar dipengaruhi tekanan global, melainkan lebih dominan disebabkan persoalan internal pemerintah.
“Akhir Juni, rupiah Rp 20.000 itu tidak terelakkan. Proyeksi yang memang masih sangat moderat itu Rp 20.000,” ujarnya, kemarin.
Data Bank Indonesia menunjukkan tren pelemahan rupiah terjadi hampir setiap hari perdagangan sejak awal Mei. Pada 4 Mei rupiah berada di level Rp 17.368 per dolar AS, lalu terus bergerak melemah hingga menyentuh Rp 17.719 per dolar AS pada 19 Mei.
Pasar Mulai Kehilangan Kepercayaan
Bhima menilai pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi pemerintah. Ia menyoroti belum dipublikasikannya laporan keuangan Danantara hingga arah kebijakan APBN 2026 yang dinilai tidak realistis.
“Pemerintah terkesan denial, seolah-olah uangnya ada. Selalu meninabobokan dan membuat narasi positif. Padahal situasinya sekarang sebenarnya sudah penuh tekanan,” katanya.
Menurut dia, pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal disebut menjadi risiko yang sulit dihindari apabila kurs terus melemah.
Bhima juga mendorong Presiden segera melakukan reshuffle tim ekonomi kabinet serta merasionalisasi belanja negara berdasarkan tingkat urgensi. “Harus segera ada reshuffle. Arah APBN juga harus dilakukan rasionalisasi berdasarkan urgensi. Kalau itu tidak dilakukan, rupiah akan terus melemah,” tegasnya.
BI Dinilai Kehilangan Kredibilitas
Tekanan terhadap rupiah turut menjadi sorotan dalam rapat kerja Bank Indonesia bersama Komisi XI DPR RI. Anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio bahkan secara terbuka meminta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri karena dinilai gagal menjaga stabilitas nilai tukar.
“Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendah terhadap dolar AS,” ujarnya.
Primus menilai pelemahan rupiah menunjukkan turunnya kredibilitas bank sentral di mata pasar global. Ia juga menyoroti kondisi pasar saham Indonesia yang masih tertinggal dibanding mayoritas negara lain.
“Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen. Global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia sebagai bank sentral,” katanya.
Menurut dia, pelemahan rupiah kini tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap berbagai mata uang lain seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, hingga euro.
“Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Itu bukan penghinaan, justru akan lebih dihormati seperti di Korea atau Jepang ketika merasa tidak bisa menjalankan tugas dengan baik,” ujarnya kepada Perry.
BI Yakin Rupiah Akan Menguat
Di tengah tekanan tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan pelemahan rupiah hanya bersifat sementara dan merupakan siklus tahunan.
Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah lazim terjadi pada April hingga Juni akibat tingginya kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen perusahaan, utang luar negeri, dan kebutuhan musim haji.
“Kalau dilihat dari tahun ke tahun, rupiah memang umumnya dalam tekanan pada April, Mei, Juni karena demand devisa tinggi. Tetapi Juli-Agustus biasanya mulai menguat,” kata Perry.
BI optimistis rata-rata nilai tukar sepanjang tahun masih dapat kembali ke kisaran asumsi APBN 2026 yang dipatok Rp 16.500 per dolar AS. Untuk menahan pelemahan rupiah, BI mengaku telah meningkatkan intervensi di pasar valuta asing baik di pasar domestik maupun offshore.
Akibat kebijakan tersebut, cadangan devisa Indonesia turun sekitar USD 10 miliar. Meski demikian, Perry memastikan posisi cadangan devisa masih berada di atas standar kecukupan internasional menurut indikator IMF.
BI Rate Diprediksi Naik
Sementara itu, analis mata uang Lukman Leong menilai pelemahan rupiah menunjukkan sentimen pasar terhadap aset domestik masih lemah. Menurut dia, investor kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung hari ini (20/5). Lukman memprediksi BI akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin dari level 4,75 persen menjadi 5 persen demi menjaga stabilitas rupiah.
“Pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujarnya.
Industri Terancam Terpukul
Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu persoalan internal, terutama terkait kesinambungan fiskal dan kepastian kebijakan pemerintah. “Postur fiskal kita semakin menyempit dengan banyaknya program flagship seperti MBG dan KDMP, ditambah beban subsidi BBM yang terus meningkat,” katanya.
Menurut dia, sektor industri menjadi pihak paling rentan terdampak apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka menengah.
Mayoritas industri nasional masih bergantung pada impor bahan baku dan mesin produksi. Kondisi itu berpotensi memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor, mulai tekstil, otomotif, elektronik, hingga makanan dan minuman.
Ketika biaya impor naik, pelaku usaha disebut hanya memiliki dua pilihan: menaikkan harga jual atau memangkas margin keuntungan. (jpc)
Editor : Hanif