PONTIANAK POST – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pengamanan pangan nasional dan swasembada pangan menjadi program utama pemerintah untuk menghadapi ketidakpastian global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia.
Pernyataan itu disampaikan Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR RI agenda Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
“Program utama saya adalah mengamankan pangan Indonesia. Kita harus swasembada pangan,” tegas Prabowo.
Menurutnya, berbagai krisis global dalam beberapa tahun terakhir menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik, hingga gangguan rantai pasok pangan dunia menyebabkan banyak negara pengekspor pangan menutup keran ekspor mereka.
“Begitu ada krisis dunia, negara-negara pengekspor pangan akan tutup. Harga pangan naik semua,” ujarnya.
Berbagai lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization dan World Bank sebelumnya juga mengingatkan ancaman krisis pangan global akibat perubahan iklim, perang, dan terganggunya distribusi pangan dunia.
Cadangan Beras Tembus 5,3 Juta Ton
Presiden Prabowo mengungkapkan produksi pangan nasional saat ini mencapai level tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Bahkan, kapasitas gudang pemerintah disebut tidak lagi mencukupi untuk menampung stok pangan yang terus meningkat.
“Cadangan yang ada di gudang pemerintah bahkan tidak cukup sehingga kita harus menyewa gudang tambahan,” katanya.
Pemerintah mencatat cadangan beras nasional yang pada Desember 2025 berada di angka 3,25 juta ton kini meningkat menjadi lebih dari 5,3 juta ton per 10 Mei 2026.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan stok cadangan beras pemerintah terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan mengantisipasi ancaman krisis pangan global.
Pemerintah juga mulai memperluas strategi ketahanan pangan melalui pembangunan infrastruktur penyimpanan pangan nasional. Presiden Prabowo baru-baru ini meresmikan pembangunan 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta peluncuran operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Tuban, Jawa Timur.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah kini tidak hanya fokus mempertahankan swasembada beras, tetapi juga memperkuat produksi jagung dan komoditas strategis lainnya sebagai antisipasi krisis pangan global.
Sawit dan Pertanian Jadi Penopang Ekonomi
Selain sektor pangan, Prabowo menyoroti kuatnya kontribusi pertanian dan perkebunan terhadap ekonomi nasional.
Indonesia disebut masih menjadi eksportir minyak kelapa sawit terbesar dunia dengan devisa ekspor mencapai USD 23 miliar atau sekitar Rp391 triliun sepanjang 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor sektor pertanian pada Januari–Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun atau naik sekitar Rp166 triliun dibanding periode sebelumnya. Sementara impor sektor pertanian turun sekitar Rp41 triliun.
Kondisi tersebut membuat sektor pertanian disebut menjadi bantalan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global.
Sektor pertanian juga masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar nasional. [Tambahkan data BPS terbaru terkait jumlah tenaga kerja sektor pertanian dan kontribusinya terhadap PDB nasional.]
Indonesia Mulai Ekspor Pupuk
Prabowo juga menyampaikan produksi pupuk nasional mengalami surplus sehingga Indonesia mulai membantu negara lain melalui pasokan pupuk.
“Kita diminta bantuan pupuk oleh negara-negara lain karena produksi pupuk kita lebih,” ujarnya.
Pemerintah menyebut total produksi urea nasional saat ini mencapai sekitar 7,8 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton. Kondisi surplus tersebut memungkinkan Indonesia melakukan ekspor tanpa mengganggu kebutuhan petani dalam negeri.
Sebelumnya, Andi Amran Sulaiman melepas ekspor perdana pupuk urea ke Australia dari PT Pupuk Kalimantan Timur di Bontang pada Mei 2026.
Kerja sama tersebut diawali komitmen ekspor 250 ribu ton pupuk dan ditargetkan meningkat menjadi 500 ribu ton dengan potensi nilai mencapai Rp7 triliun.
Selain Australia, pemerintah juga membuka peluang ekspor pupuk ke India, Filipina, Thailand, dan Brasil sebagai bagian dari penguatan rantai pasok pangan global.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese bahkan menyampaikan apresiasi langsung kepada pemerintah Indonesia atas pasokan pupuk tersebut karena dinilai penting untuk menjaga ketahanan pangan kawasan Indo-Pasifik di tengah gangguan rantai pasok global.
Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen
Pemerintah juga mengklaim berhasil menurunkan harga pupuk hingga 20 persen untuk membantu petani meningkatkan produktivitas.
Namun, Presiden Prabowo mengingatkan pentingnya pengawasan distribusi pupuk subsidi agar tidak terjadi penyelewengan.
“Kita harus menjaga bersama agar pupuk subsidi tidak diselewengkan atau diselundupkan ke tempat lain,” tegasnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan arahan Presiden menjadi pegangan utama Kementerian Pertanian dalam mempercepat swasembada pangan nasional.
“Kami bergerak cepat meningkatkan produksi, memperkuat cadangan pangan, mempercepat tanam, memperbaiki irigasi, memastikan pupuk tersedia, hingga memperkuat hilirisasi agar manfaatnya langsung dirasakan petani,” ujarnya.
Menurut Amran, peningkatan cadangan beras pemerintah yang kini menembus lebih dari 5,3 juta ton menjadi bukti strategi penguatan produksi mulai menunjukkan hasil nyata.
“Ini hasil kerja bersama. Stok meningkat, produksi meningkat, dan petani semakin bergairah karena pemerintah hadir mengawal dari produksi hingga penyerapan,” katanya.
Amran juga memastikan pengawasan distribusi pupuk subsidi akan diperketat agar benar-benar tepat sasaran hingga tingkat desa.
“Kami tidak akan memberi ruang bagi penyelewengan pupuk karena pupuk merupakan instrumen penting menjaga produktivitas dan keberhasilan swasembada pangan,” tegasnya.
Di media sosial dan forum daring seperti Reddit Indonesia, sejumlah warga menilai peningkatan stok pangan dan surplus pupuk menjadi kabar positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, sebagian petani juga mengingatkan pentingnya pengawasan distribusi pupuk subsidi agar tidak terjadi kelangkaan di daerah. (ars)
Target dan Capaian Pangan Nasional 2026
| Program | Capaian |
|---|---|
| Cadangan beras pemerintah | >5,3 juta ton |
| Stok beras Desember 2025 | 3,25 juta ton |
| Ekspor sawit 2025 | USD 23 miliar |
| Nilai ekspor pertanian 2025 | Rp756,59 triliun |
| Penurunan impor pertanian | Rp41 triliun |
| Penurunan harga pupuk | 20 persen |
| Produksi urea nasional | 7,8 juta ton |
| Kebutuhan pupuk domestik | 6,3 juta ton |
| Ekspor pupuk ke Australia | 250 ribu ton tahap awal |
| Potensi nilai ekspor pupuk | Rp7 triliun |
Fokus Program Pangan Pemerintah
| Fokus Program | Tujuan |
|---|---|
| Swasembada pangan | Mengurangi ketergantungan impor |
| Penguatan cadangan beras | Menjaga stabilitas harga |
| Percepatan tanam | Meningkatkan produksi nasional |
| Perbaikan irigasi | Mendukung produktivitas petani |
| Distribusi pupuk subsidi | Menjamin pupuk tepat sasaran |
| Hilirisasi pertanian | Meningkatkan nilai tambah hasil tani |
| Gudang pangan nasional | Memperkuat cadangan dan distribusi |
| Ekspor pupuk | Memperkuat posisi Indonesia di pasar global |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro