PONTIANAK POST — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum akan mereda pada pekan ini. Bahkan, rupiah disebut berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) akibat kombinasi sentimen global dan persoalan struktural ekonomi domestik.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah saat ini tidak semata dipengaruhi faktor teknis kebijakan moneter. Menurut dia, persoalan mendasar justru berasal dari struktur ekonomi dalam negeri yang belum kuat.
“Untuk rupiah sendiri ada kemungkinan besar akan menuju level Rp18.000,” ujarnya, Minggu (24/5).
Defisit Transaksi Berjalan Jadi Beban
Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor utama yang membebani rupiah adalah defisit transaksi berjalan yang terus melebar dan mendekati 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Kalau kita lihat, pelemahan rupiah ini bukan kesalahan teknis Bank Indonesia, tetapi persoalan struktural. Defisit transaksi berjalan yang bersifat struktural membuat rupiah terus tertekan,” katanya.
Menurut dia, penguatan rupiah seharusnya ditopang arus investasi produktif dan modal asing jangka panjang. Namun, aliran dana yang masuk selama ini dinilai masih didominasi utang, bukan investasi riil yang mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia menyatakan posisi cadangan devisa nasional hingga akhir April 2026 masih berada pada level aman.
Cadangan devisa Indonesia tercatat pada April 2026 sendiri tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS. Nilai tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Level itu juga masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Meski demikian, Bank Indonesia tetap memprakirakan transaksi berjalan Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran defisit 1,3 persen hingga 0,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Kondisi tersebut dinilai membuat penguatan sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi penting untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional.
“Penguatan sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia perlu diperkuat untuk meningkatkan surplus neraca modal dan finansial guna menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional dan sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi gejolak global,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, belum lama ini.
Data tersebut menjadi salah satu penopang optimisme pasar bahwa tekanan terhadap rupiah masih dapat dikendalikan meski sentimen global dan arus modal asing keluar terus membayangi pasar keuangan domestik.
Tekanan Global Dinilai Makin Berat
Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga disebut semakin besar seiring penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS pada periode 25–29 Mei masih bergerak di kisaran 97,6 hingga 101. Sementara harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diprediksi berada di level USD 92,6 hingga USD 105,5 per barel.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia, yang masih sensitif terhadap pergerakan modal asing dan kenaikan biaya impor energi.
Pasar Soroti Kebijakan Ekspor SDA
Pasar juga disebut mencermati rencana pemerintah terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam melalui satu pintu di bawah Danantara.
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap prospek utang Indonesia dan stabilitas iklim investasi.
“Ini mendapatkan respons negatif dari pemeringkat internasional, salah satunya S&P Global. Pasar khawatir rating utang Indonesia diturunkan sehingga arus modal asing keluar cukup deras,” ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis kekhawatiran pasar. Dia mengungkapkan sejumlah pejabat dari Kementerian Keuangan dan kementerian/lembaga (K/L) lain akan ditempatkan sebagai pengawas di PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Purbaya menyampaikan penempatan unsur pengawas dari berbagai kementerian/lembaga itu merupakan usulan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
"Usulan Pak Menko itu, kalau untuk pengawasan biar benar kita harus taruh orang di sana, termasuk dari keuangan, dari kementerian lain juga supaya tidak jadi monopoli," kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat.
Menurut dia, pengawasan tersebut diperlukan agar DSI tidak menjadi lembaga monopoli yang dapat bertindak semaunya dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Pergerakan Rupiah Sepekan Terakhir
| Hari | Nilai Tukar Rupiah |
|---|---|
| Senin (18/5) | Rp17.666 per dolar AS |
| Selasa (19/5) | Rp17.719 per dolar AS |
| Rabu (20/5) | Rp17.685 per dolar AS |
| Kamis (21/5) | Rp17.673 per dolar AS |
| Jumat (22/5) | Rp17.717 per dolar AS |
Sumber: Bank Indonesia
IHSG Diproyeksi Menguat Terbatas
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas.
Pengamat pasar modal Hans Kwee mengatakan sentimen positif datang dari potensi meredanya konflik di Timur Tengah, terutama perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
“Selain itu, musim laporan keuangan perusahaan di AS juga terlihat sangat baik sehingga memberi optimisme bagi investor,” katanya.
Namun, Hans menilai pasar saham domestik tetap menghadapi tekanan setelah muncul rencana aturan baru terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam.
“Banyak kekhawatiran terhadap gangguan penjualan, pembatasan lebih ketat bagi perusahaan swasta, dan prospek laba yang melemah di sektor utama penghasil devisa,” ujarnya.
Menurut Hans, IHSG diperkirakan bergerak pada area support 5.950 hingga 5.882 dan resistance di kisaran 6.459 sampai 6.631.
Dampak Pelemahan Rupiah ke Masyarakat
Pelemahan rupiah berpotensi berdampak langsung terhadap harga barang impor, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat. Tekanan kurs juga dapat memicu kenaikan harga bahan bakar, pangan, dan kebutuhan pokok lain yang bergantung pada impor atau distribusi energi.
Kondisi tersebut membuat stabilitas rupiah tidak hanya menjadi isu pasar keuangan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kalimantan Barat, Arya Rizqi Darsono menilai pelemahan rupiah memberikan dampak yang berbeda bagi tiap sektor usaha di provinsi ini.
Dari sisi positif, sektor berbasis ekspor seperti sawit, alumina, karet, dan beberapa komoditas perkebunan memperoleh keuntungan karena pendapatan mereka berbasis dolar AS.
"Nilai penerimaan dalam rupiah menjadi lebih tinggi dan daya saing ekspor meningkat," katanya, belum lama ini kepada Pontianak Post.
Namun di sisi lain, kata dia, biaya produksi ikut naik karena banyak bahan baku, spare part, alat berat, dan logistik masih bergantung pada impor atau harga global berbasis dolar. Dampak negatif paling terasa bagi UMKM dan sektor perdagangan yang bergantung pada daya beli masyarakat domestik.
Ia menilai, ketika dolar menguat, biaya operasional perusahaan otomatis meningkat, mulai dari bahan baku impor, BBM industri, biaya logistik, hingga pembayaran kewajiban dalam valuta asing.
"Perusahaan besar yang memiliki pendapatan ekspor mungkin masih bisa mengimbangi tekanan tersebut. Tetapi UMKM dan industri dengan margin tipis akan lebih rentan karena kenaikan biaya tidak selalu bisa langsung dibebankan ke konsumen," ujarnya. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro