PONTIANAK POST - Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia pada Maret 2026 mengalami penurunan signifikan. Di saat bersamaan, ekspor produk sawit nasional juga melemah tajam hingga lebih dari 34 persen dibanding bulan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat stok sawit nasional meningkat di akhir Maret 2026.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, menyebut produksi CPO Maret 2026 tercatat sebesar 4,403 juta ton. Angka itu turun 12,22 persen dibanding Februari 2026 yang mencapai 5,015 juta ton.
Produksi minyak inti sawit atau PKO juga turun dari 485 ribu ton menjadi 418 ribu ton.
"Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Maret 2026 hanya mencapai 4,821 juta ton atau turun 12,35 persen dibanding bulan sebelumnya sebesar 5,500 juta ton,"ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/5/2026).
Konsumsi Domestik Ikut Melemah
Penurunan tidak hanya terjadi pada sektor produksi. Konsumsi domestik produk sawit sepanjang Maret 2026 juga mengalami kontraksi sebesar 8,25 persen.
Total konsumsi dalam negeri turun dari 2,305 juta ton pada Februari menjadi 2,115 juta ton pada Maret 2026.
Penurunan terbesar terjadi pada sektor pangan. Konsumsi pangan berbasis sawit turun menjadi 897 ribu ton atau merosot 9,03 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 986 ribu ton.
Konsumsi biodiesel juga melemah 7,71 persen, dari 1,144 juta ton menjadi 1,056 juta ton. Sementara konsumsi oleokimia turun 7,43 persen menjadi 162 ribu ton.
"Meski demikian, secara tahunan atau year on year (YoY), konsumsi sawit nasional hingga Maret 2026 masih mencatat kenaikan. Total konsumsi mencapai 6,524 juta ton atau naik 7,47 persen dibanding periode sama tahun 2025 sebesar 6,071 juta ton," katanya.
Ekspor Sawit Anjlok Lebih dari 34 Persen
Penurunan paling tajam terjadi pada sektor ekspor. Total ekspor produk sawit Indonesia pada Maret 2026 hanya mencapai 2,168 juta ton atau turun 34,25 persen dibanding Februari yang mencapai 3,297 juta ton.
Ekspor CPO mentah menjadi sektor yang paling terdampak. Volume ekspor CPO turun drastis dari 395 ribu ton menjadi hanya 96 ribu ton atau merosot 75,61 persen.
Ekspor olahan minyak inti sawit juga turun 44,67 persen, dari 171 ribu ton menjadi 94 ribu ton. Sementara ekspor olahan minyak sawit turun 33,57 persen menjadi 1,506 juta ton.
Di tengah pelemahan itu, sektor oleokimia menjadi satu-satunya produk yang mencatat kenaikan ekspor. Volume ekspor oleokimia naik tipis menjadi 468 ribu ton dari sebelumnya 462 ribu ton.
Tabel Kinerja Industri Minyak Sawit Indonesia Maret 2025-Maret 2026
| Uraian | 2025 Mar | 2025 s/d Mar | 2025 s/d Des | 2026 Feb | 2026 Mar | 2026 s/d Mar |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Stok Awal | 2.250 | 2.577 | 2.577 | 2.124 | 2.026 | 2.068 |
| Total Produksi | 4.808 | 13.135 | 56.553 | 5.500 | 4.821 | 15.558 |
| Produksi CPO | 4.391 | 12.008 | 51.660 | 5.015 | 4.403 | 14.196 |
| Produksi PKO | 417 | 1.127 | 4.892 | 485 | 418 | 1.362 |
| Impor | 3 | 13 | 53 | 5 | 4 | 14 |
| Total Konsumsi Lokal | 2.168 | 6.071 | 24.772 | 2.305 | 2.115 | 6.524 |
| Pangan | 889 | 2.501 | 9.834 | 986 | 897 | 2.729 |
| Oleokimia | 182 | 554 | 2.234 | 175 | 162 | 527 |
| Biodiesel | 1.097 | 3.016 | 12.704 | 1.144 | 1.056 | 3.269 |
| Total Ekspor | 2.876 | 7.637 | 32.343 | 3.297 | 2.168 | 8.546 |
| CPO | 169 | 455 | 2.964 | 395 | 96 | 823 |
| Olahan PO | 2.128 | 5.656 | 22.727 | 2.267 | 1.506 | 5.945 |
| CPKO | 4 | 7 | 16 | 3 | 3 | 9 |
| Olahan PKO | 167 | 360 | 1.560 | 171 | 94 | 390 |
| Oleokimia Ekspor | 407 | 1.159 | 5.076 | 462 | 468 | 1.380 |
| Stok Akhir | 2.017 | 2.017 | 2.068 | 2.026 | 2.568 | 2.568 |
| Nilai Ekspor (US$ Juta) | 3.283 | 8.749 | 35.868 | 3.688 | 2.606 | 9.656 |
| Nilai Ekspor (Rp Miliar) | 54.023 | 143.170 | 590.349 | 62.060 | 44.067 | 162.703 |
China dan India Kurangi Impor Sawit Indonesia
Penurunan ekspor terbesar terjadi pada sejumlah negara tujuan utama Indonesia.
Ekspor ke China turun 314 ribu ton. India turun 291 ribu ton. Penurunan juga terjadi ke Pakistan sebesar 113 ribu ton, Bangladesh 90 ribu ton, kawasan Afrika 81 ribu ton, Timur Tengah 77 ribu ton, Malaysia 71 ribu ton, Amerika Serikat 41 ribu ton, dan Uni Eropa 25 ribu ton.
Satu-satunya kenaikan ekspor tercatat ke Rusia sebesar 24 ribu ton.
Nilai Ekspor Turun hingga US$ 2,61 Miliar
Sejalan dengan turunnya volume ekspor, nilai ekspor produk sawit Indonesia pada Maret 2026 juga mengalami penurunan tajam.
Nilai ekspor turun dari US$ 3,69 miliar pada Februari menjadi US$ 2,61 miliar pada Maret atau terkoreksi 29,27 persen.
Namun secara tahunan, nilai ekspor sawit Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif. Hingga Maret 2026, total nilai ekspor mencapai US$ 9,66 miliar atau naik 10,40 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar US$ 8,75 miliar.
Kenaikan tahunan itu dipicu oleh meningkatnya volume ekspor dan tingginya harga rata-rata CPO global. Harga rata-rata Januari-Maret 2026 tercatat mencapai US$ 1.356 per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dibanding periode sama 2025 sebesar US$ 1.230 per ton.
Stok Sawit Nasional Meningkat
Di tengah pelemahan produksi, konsumsi, dan ekspor, stok sawit nasional justru meningkat.
Dengan stok awal Maret 2026 sebesar 2,026 juta ton, total produksi 4,821 juta ton, konsumsi 2,115 juta ton, serta ekspor 2,168 juta ton, maka stok akhir Maret 2026 tercatat mencapai 2,568 juta ton.
Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding stok akhir Februari 2026 yang berada di angka 2,026 juta ton.
Peningkatan stok ini menjadi sinyal adanya perlambatan penyerapan pasar, baik di dalam negeri maupun pasar ekspor global. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro