PONTIANAK POST- Kabupaten Lombok Utara mulai menyiapkan lompatan baru di sektor agribisnis melalui pembangunan pabrik mini pengolahan kacang sacha inchi yang diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi petani sekaligus pusat rantai pasok komoditas bernilai tinggi di Pulau Lombok.
Langkah tersebut kini dimatangkan oleh kelompok penggiat agribisnis Ukhuwah Datu Nusantara. Kehadiran mini plant itu dirancang untuk memperkuat ketahanan ekonomi petani melalui penerapan sistem pertanian tumpang sari modern atau intercropping, sekaligus mendorong lahirnya berbagai produk turunan bernutrisi tinggi berbahan kacang sacha inchi.
Komoditas yang dikenal dengan sebutan inca peanut itu dipilih sebagai tanaman unggulan baru karena memiliki nilai jual tinggi dan kandungan asam lemak esensial Omega 3, 6, dan 9 yang melimpah. Pengembangannya juga dinilai strategis lantaran diintegrasikan sebagai tanaman pendamping di area perkebunan kurma.
Pelopor sekaligus praktisi kurma dari Ukhuwah Datu Nusantara, Arif Munandar, mengatakan budidaya sacha inchi menjadi solusi atas tantangan finansial yang selama ini dihadapi petani kurma. Menurut dia, pola tumpang sari mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus menghadirkan pemasukan rutin bagi petani.
“Tanaman kurma yang ditanam dari bibit itu baru bisa berproduksi secara optimal pada umur 6 tahun. Nah, di sela-sela ruang kosong antara tanaman kurma itulah kita optimalkan dengan menanam kacang sacha inchi,” jelasnya.
Ia menambahkan, masa panen sacha inchi relatif singkat dengan nilai ekonomi yang menjanjikan. “Masa panennya cepat dan nilai ekonominya luar biasa karena kandungan Omega 3, 6, dan 9 miliknya diklaim jauh lebih tinggi daripada ikan salmon,” sambung Arif.
Rencana pembangunan pabrik pengolahan tersebut nantinya diposisikan sebagai episentrum produksi dan distribusi untuk wilayah Pulau Lombok. Sementara untuk memperluas penetrasi pasar di Pulau Sumbawa, manajemen juga menyiapkan Kabupaten Dompu sebagai pusat pengolahan paralel. (*)
Editor : Basilius Andreas Gas