PONTIANAK POST — Perusahaan kripto dan teknologi finansial di Amerika Serikat mulai ramai-ramai mengurus izin pendirian bank setelah pemerintahan Presiden Donald Trump melonggarkan pengawasan sektor keuangan.
Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai penantang sistem perbankan konvensional kini justru masuk langsung ke industri perbankan dengan mengajukan banking charter atau lisensi perbankan.
Dilansir The New York Times, sejumlah perusahaan besar seperti PayPal, Affirm, hingga perusahaan aset digital dan broker kripto mulai mengurus izin tersebut. Tiga produsen otomotif asal Detroit, yakni Ford, General Motors, dan Stellantis, juga ikut mengajukan lisensi serupa.
World Liberty Financial yang disebut memiliki keterkaitan dengan keluarga Trump turut masuk dalam daftar perusahaan yang mengajukan izin perbankan.
“Perusahaan kripto dan para pendatang baru di sektor teknologi finansial telah lama memosisikan diri sebagai penantang bank-bank tradisional. Namun kini, banyak di antara mereka justru mengajukan lisensi untuk masuk ke industri yang sebelumnya ingin mereka ubah,” tulis The New York Times.
Fenomena itu muncul setelah pemerintah AS mulai membuka ruang lebih luas bagi pendatang baru di industri perbankan.
Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) disebut aktif mendorong lahirnya bank-bank baru setelah pergantian pemerintahan.
Comptroller of the Currency AS Jonathan Gould mengatakan kebijakan tersebut dilakukan untuk menciptakan keberagaman di sektor perbankan.
“Lisensi baru memastikan adanya keberagaman dalam sektor perbankan. Kami percaya inovasi, kompetisi, dan akses yang adil harus selalu lebih diutamakan dibanding stagnasi regulasi,” ujarnya.
Secara teknis, banking charter memungkinkan perusahaan mengelola pinjaman dan aset secara langsung tanpa terlalu bergantung pada pihak ketiga.
Namun sebagian besar izin yang diajukan berbentuk national trust bank yang tidak menerima simpanan tradisional dan tidak selalu mendapat perlindungan penuh FDIC.
Di balik euforia inovasi keuangan digital, sejumlah kalangan mulai menyuarakan kekhawatiran.
American Bankers Association menilai skema tersebut berpotensi membuka celah arbitrase regulasi karena perusahaan dapat memperoleh keuntungan layaknya bank tanpa tunduk pada seluruh aturan ketat perbankan tradisional.
Kelompok bank komunitas di AS juga memperingatkan bahwa batas antara perusahaan teknologi dan lembaga keuangan kini semakin kabur.
Mereka khawatir lemahnya pengawasan dapat meningkatkan risiko sistemik dalam industri keuangan.
Lebih dari 100 kelompok konsumen di AS turut menyampaikan kritik terhadap fenomena tersebut.
Mereka menilai sebagian perusahaan pemohon lisensi berpotensi fokus pada kredit berisiko tinggi dan pinjaman berbunga mahal yang dapat membebani masyarakat.
“Kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan konsumen di tengah sistem keuangan yang semakin kompleks,” tulis kelompok tersebut.
Meningkatnya minat perusahaan teknologi, otomotif, hingga kripto untuk menjadi bank menunjukkan perubahan besar dalam industri keuangan Amerika Serikat.
Batas antara perusahaan teknologi dan lembaga perbankan kini semakin tipis seiring masuknya perusahaan digital ke fungsi inti sektor keuangan.
Bagi sebagian konsumen, kehadiran bank digital baru memang menawarkan akses layanan keuangan yang lebih cepat dan fleksibel.
Namun di sisi lain, kekhawatiran soal keamanan dana, bunga pinjaman tinggi, hingga lemahnya perlindungan konsumen mulai menjadi perhatian serius. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro