Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Ada Harapan, BRIN dan PalmCo Ubah Limbah Sawit Jadi Pengganti LPG

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 28 Mei 2026 | 22:39 WIB
KAJI: Peninjauan yang dilakukan  dengan melihat pengolahan limbah sawit di PT Gunung Rijuan Sejahtera di Desa Selutung Kecamatan Mandor, Selasa (10/12). HUMAS PEMKAB
KAJI: Peninjauan yang dilakukan  dengan melihat pengolahan limbah sawit di PT Gunung Rijuan Sejahtera di Desa Selutung Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak. / HUMAS PEMKAB LANDAK

PONTIANAK POST — Limbah sawit yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan mulai diubah menjadi sumber energi alternatif bernilai ekonomi tinggi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PTPN IV PalmCo tengah mengembangkan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG), gas biomethana berbasis limbah sawit yang diproyeksikan menjadi pengganti LPG impor.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan pengembangan Bio-CBG menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mengoptimalkan limbah sawit menjadi energi baru terbarukan.

“Selama ini limbah sawit identik dengan persoalan lingkungan. Sekarang pendekatannya berubah. Limbah justru bisa menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional,” katanya, Kamis (28/5) dilansir dari ANTARA.

Menurut dia, Bio-CBG memiliki kualitas setara compressed natural gas (CNG) atau gas alam terkompresi sehingga dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar fosil.

“Bio-CBG ini pada dasarnya merupakan ‘kembaran hijau’ dari CNG. Fungsinya sama dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lainnya,” ujarnya.

Proyek pengembangan Bio-CBG difokuskan pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) serta biomassa tandan kosong menjadi biomethana berkadar tinggi.

Gas tersebut kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.

PalmCo saat ini tengah membangun fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit Tinjowan, Sumatera Utara.

Perusahaan juga menargetkan pembangunan 17 instalasi Bio-CBG hingga 2029 dan memulai groundbreaking delapan proyek baru sepanjang 2026.

“Harapannya, fasilitas pengolahan limbah sawit tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga gas siap pakai yang bisa dimanfaatkan sektor industri maupun transportasi,” kata Jatmiko.

Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia menghasilkan limbah cair dan biomassa dalam jumlah besar setiap tahun.

Dalam proses alami, limbah cair sawit melepaskan gas metana yang memiliki dampak emisi lebih besar dibanding karbon dioksida.

Karena itu, penangkapan gas metana untuk diolah menjadi energi dipandang mampu menekan emisi sekaligus menciptakan sumber energi alternatif.

Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Hens Putra mengatakan sektor sawit memiliki potensi besar mendukung agenda transisi energi nasional apabila limbahnya dimanfaatkan secara optimal.

“Kajian ini bukan hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

BRIN juga melihat peluang pengembangan technopark berbasis industri sawit yang mengintegrasikan riset, pengolahan limbah, dan energi baru terbarukan.

Peneliti Energi BRIN Samuel Pati Senda menjelaskan audit lapangan di fasilitas Pembangkit Tenaga Biogas Sei Pagar, Riau, menunjukkan peningkatan produksi gas metana.

Produksi metana meningkat dari rata-rata 36.706 normal meter kubik (Nm3) per bulan pada 2025 menjadi 46.683 Nm3 per bulan pada periode pengujian 2026.

“Data itu menunjukkan teknologi pengolahan limbah sawit untuk energi sudah cukup matang dan layak direplikasi dalam skala lebih besar,” katanya.

Menurut Samuel, pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi alternatif, tetapi juga bagian dari penerapan ekonomi sirkular di sektor perkebunan.

“Limbah yang sebelumnya menjadi sumber emisi kini bisa diubah menjadi energi bersih. Jadi ada manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi,” ujarnya.

Pengembangan biomethana berbasis sawit dinilai dapat memperkuat target pemerintah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen.

Di tengah tingginya impor LPG, pengolahan limbah sawit menjadi “kembaran hijau” gas alam mulai dipandang sebagai solusi realistis dari sektor agroindustri nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut pemanfaatan gas domestik menjadi strategi penting untuk menekan impor energi.

“Gasnya ada di kita, industrinya juga ada di dalam negeri. Karena itu pengembangannya perlu terus diperluas,” katanya. (ars)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Bio-CBG sawit #limbah sawit jadi energi #pengganti LPG impor #BRIN PalmCo #energi terbarukan sawit