Investasi Hilirisasi Mineral Rp3.800 Triliun Diminta Berdampak Besar bagi Industri Nasional

Hanif • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 10:46 WIB
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani

PONTIANAK POST - Program hilirisasi mineral dinilai belum cukup jika hanya berhenti pada pembangunan smelter dan pemurnian bahan mentah. Indonesia, termasuk Kalimantan Barat sebagai salah satu penghasil bauksit terbesar, didorong masuk lebih dalam ke industri turunan agar mampu menciptakan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, mengatakan nilai tambah terbesar sektor tambang justru berada pada industri hilir dan manufaktur lanjutan, bukan pada penjualan bahan mentah maupun tahap pemurnian semata. “Nilai tambah terbesar bukan di tambang, tetapi di industri turunannya,” kata Aviliani di Jakarta, Selasa (26/5).

Menurut dia, hilirisasi harus diarahkan hingga ke rantai industri lebih dalam seperti manufaktur lanjutan, petrokimia, industri hijau, baterai, serta ekosistem industri hilir terintegrasi.

Dalam paparannya, produk olahan mineral disebut memiliki nilai tambah 10 hingga 20 kali lebih tinggi dibandingkan bahan mentah. Hal ini dinilai relevan bagi Kalimantan Barat yang beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu pusat industri bauksit dan alumina nasional.

Baca Juga: Pemerintah Genjot Hilirisasi Tambang di Kalbar, Apa Untungnya bagi Masyarakat?

Namun, Aviliani mengingatkan penguatan industri mineral tidak boleh berhenti pada tahap refining atau pemurnian semata. Tanpa pendalaman industri, hilirisasi dinilai hanya menghasilkan nilai tambah terbatas.

“Penguatan nilai tambah tidak cukup hanya mengolah bahan mentah. Industri lanjutan juga harus dibangun agar mampu menyerap teknologi, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperkuat daya saing nasional,” ujarnya.

Pemerintah sendiri menargetkan investasi hilirisasi lebih dari Rp3.800 triliun hingga 2030. Investasi itu difokuskan pada 15 komoditas prioritas, termasuk nikel, tembaga, bauksit, timah, dan baja.

Selain itu, pemerintah mulai mendorong hilirisasi mineral kritis untuk mendukung transisi energi dan penguatan rantai pasok global. Aviliani menilai Indonesia memiliki momentum besar karena menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia serta memiliki cadangan mineral strategis lainnya, termasuk bauksit.

Namun, keberhasilan hilirisasi dinilai sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, energi, teknologi, sumber daya manusia, hingga kepastian pasar. “Berilah iklim yang kondusif kepada swasta karena itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi,” katanya.

BPS sebelumnya mencatat industri pengolahan nasional tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026. Subsektor industri mesin dan perlengkapan tumbuh 21,93 persen, sedangkan industri komputer, barang elektronik, dan optik tumbuh 10,35 persen.

Data tersebut menunjukkan ruang pengembangan industri turunan masih terbuka lebar apabila hilirisasi diarahkan untuk memperdalam struktur manufaktur nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Aviliani menilai Indonesia justru memiliki kesempatan memperkuat struktur industri domestik.

“Momentum ini sebenarnya adalah momentum membereskan domestik. Nanti ketika perang global itu sudah selesai, kita akan mendapatkan manfaat itu,” ujarnya. (ant)

Editor : Hanif
Sumber : Antara
hilirisasi mineral ekonomi nasional nilai tambah industri