PONTIANAK POST — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menyatakan kesiapan mendukung pembangunan jalur kereta api di Pulau Kalimantan apabila direalisasikan pemerintah pusat. Infrastruktur tersebut dinilai strategis untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus menekan biaya logistik di Kalimantan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalbar, Linda Purnama, mengatakan dukungan itu disampaikan setelah adanya pembahasan bersama Kementerian Koordinator Infrastruktur dalam audiensi yang dipimpin Wakil Gubernur Kalbar beberapa waktu lalu, Jumat (29/5).
“Kereta api ini nantinya bukan hanya mendukung konektivitas yang lebih ekonomis di Kalimantan, tetapi juga mempercepat mobilitas logistik,” ujar Linda kepada wartawan Pontianak Post.
Pemerintah pusat saat ini tengah menyiapkan rencana pembangunan jaringan kereta api sepanjang 2.772 kilometer di Pulau Kalimantan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan proyek tersebut masih dalam tahap perencanaan dan penghitungan lintas kementerian.
“Rencana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan masih kami hitung dan rencanakan secara matang,” kata AHY usai rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional di Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta pada Rabu (22/4) lalu.
Menurutnya, pembangunan jaringan kereta api penting untuk memperkuat konektivitas antarwilayah di Kalimantan yang hingga kini belum memiliki jalur rel aktif.
Pemprov Kalbar berharap pembangunan jalur kereta api di Kalimantan nantinya dapat dimulai dari wilayah Kalbar.
Hal itu dinilai strategis untuk mendukung operasional Pelabuhan Internasional Kijing sekaligus memperkuat distribusi logistik dari kawasan industri dan wilayah pedalaman menuju pelabuhan ekspor.
Menurut Linda, keberadaan jalur kereta api akan membantu distribusi komoditas dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih efisien dibanding ketergantungan penuh pada angkutan jalan darat.
“Dengan adanya kereta api, konektivitas antarwilayah akan semakin kuat,” jelasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian Kalbar tumbuh 34,14 persen pada triwulan I 2026, ditopang komoditas seperti bauksit dan alumina yang membutuhkan dukungan distribusi logistik besar.
Pengamat Transportasi Intermoda Kalbar, Syarif Usmulyani Alqadrie, menilai pembangunan kereta api penting untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi di Kalimantan Barat.
Menurutnya, angkutan logistik dalam jumlah besar akan lebih efektif menggunakan moda kereta api dibanding terus bergantung pada kendaraan berat di jalur darat.
“Diperlukan percepatan pembangunan transportasi yang saling terhubung dan terintegrasi,” ujarnya kepada Pontianak Post di Pontianak, belum lama ini.
Ia menilai jalur kereta api nantinya dapat menjadi penghubung utama distribusi komoditas menuju Pelabuhan Kijing dan kawasan industri di pesisir.
Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Eng. Akbar Rahman, menilai pembangunan kereta api di Kalimantan memungkinkan secara teknis, termasuk di wilayah bergambut.
Menurutnya, teknologi konstruksi rel di kawasan gambut sudah tersedia dan digunakan di berbagai negara. Karena itu, tantangan utama proyek kereta api Kalimantan dinilai bukan persoalan teknis, melainkan kepastian kebijakan dan kesiapan pembangunan.
“Rekayasa konstruksi di wilayah gambut sudah tersedia, mulai dari sistem pancangan hingga pendekatan teknis lainnya,” ujarnya. (bar)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro