Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tekan Biaya Logistik hingga Dukung Industri Bauksit dan Sawit, Giliran Pemprov Kalbar Dorong Jalur Kereta Api

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 29 Mei 2026 | 22:46 WIB
Ilustrasi pemerintah tengah menyiapkan rencana jalur kereta api di Pulau Kalimantan. (GEMINI AI)
Ilustrasi pemerintah tengah menyiapkan rencana jalur kereta api di Pulau Kalimantan. (GEMINI AI)

PONTIANAK — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyatakan kesiapan mendukung pembangunan jalur kereta api di Pulau Kalimantan apabila direalisasikan pemerintah pusat. Infrastruktur tersebut dinilai strategis untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini masih mahal di Kalimantan.

Pemprov Kalbar bahkan berharap pembangunan jalur rel dapat dimulai dari wilayah Kalbar untuk mendukung operasional Pelabuhan Internasional Kijing dan distribusi komoditas industri dari kawasan pedalaman menuju pelabuhan ekspor.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalbar, Linda Purnama, mengatakan dukungan itu disampaikan setelah adanya pembahasan bersama Kementerian Koordinator Infrastruktur dalam audiensi yang dipimpin Wakil Gubernur Kalbar beberapa waktu lalu.

“Kereta api ini nantinya bukan hanya mendukung konektivitas yang lebih ekonomis di Kalimantan, tetapi juga mempercepat mobilitas logistik,” ujar Linda kepada Pontianak Post, Jumat (29/5).

Menurut Linda, keberadaan jalur kereta api akan membantu distribusi komoditas dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih efisien dibanding ketergantungan penuh pada angkutan jalan darat. “Dengan adanya kereta api, konektivitas antarwilayah akan semakin kuat,” jelasnya.

Dukung Distribusi Bauksit dan Alumina

Pembangunan kereta api dinilai semakin penting seiring meningkatnya aktivitas industri dan pertambangan di Kalbar, terutama sektor sawit, bauksit dan alumina yang membutuhkan dukungan logistik besar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian Kalbar tumbuh 34,14 persen pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan produksi komoditas mineral seperti bauksit dan alumina.

Selama ini distribusi komoditas tambang dan industri di Kalbar masih bergantung pada angkutan jalan raya dan truk bertonase besar yang dinilai kurang efisien untuk pengiriman dalam volume besar.

Karena itu, jalur kereta api dinilai dapat menjadi solusi logistik jangka panjang, terutama untuk menghubungkan kawasan industri, tambang, dan pelabuhan ekspor.

Pelabuhan Internasional Kijing yang berada di Kabupaten Mempawah disebut menjadi titik strategis apabila nantinya terhubung jaringan rel logistik dari kawasan industri di pedalaman Kalbar. Dengan konektivitas tersebut, biaya distribusi komoditas ekspor diharapkan bisa ditekan sekaligus meningkatkan daya saing industri daerah.

Pemerintah Pusat Siapkan Jalur 2.772 Kilometer

Pemerintah pusat saat ini tengah menyiapkan rencana pembangunan jaringan kereta api sepanjang 2.772 kilometer di Pulau Kalimantan. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan proyek tersebut masih dalam tahap perencanaan dan penghitungan lintas kementerian.

“Rencana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan masih kami hitung dan rencanakan secara matang,” kata AHY usai rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pembangunan jaringan rel menjadi penting karena hingga kini Pulau Kalimantan belum memiliki jalur kereta api aktif yang menghubungkan antarwilayah. Padahal, kebutuhan distribusi logistik dan mobilitas barang di Kalimantan terus meningkat seiring pertumbuhan industri, kawasan ekonomi, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Transportasi Terintegrasi Dinilai Mendesak

Pengamat Transportasi Intermoda Kalbar, Syarif Usmulyani Alqadrie, menilai pembangunan kereta api sangat penting untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi di Kalimantan Barat.

Menurutnya, distribusi logistik dalam jumlah besar akan lebih efektif menggunakan moda kereta api dibanding terus mengandalkan kendaraan berat di jalan raya. “Diperlukan percepatan pembangunan transportasi yang saling terhubung dan terintegrasi,” ujarnya.

Ia menilai jalur kereta api nantinya dapat menjadi tulang punggung distribusi komoditas menuju Pelabuhan Kijing dan kawasan industri di pesisir Kalbar. Selain menekan biaya logistik, keberadaan kereta api juga dinilai dapat mengurangi kerusakan jalan akibat tingginya mobilitas kendaraan berat pengangkut komoditas tambang dan industri.

Teknologi Rel di Gambut Dinilai Sudah Tersedia

Sementara itu, akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Eng. Akbar Rahman, menilai pembangunan jalur kereta api di Kalimantan memungkinkan secara teknis, termasuk di wilayah bergambut yang selama ini dianggap menjadi tantangan utama pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, teknologi konstruksi rel di kawasan gambut telah banyak digunakan di berbagai negara. “Rekayasa konstruksi di wilayah gambut sudah tersedia, mulai dari sistem pancangan hingga pendekatan teknis lainnya,” ujarnya.

Karena itu, tantangan utama proyek kereta api Kalimantan dinilai bukan lagi persoalan teknis, melainkan kepastian kebijakan, investasi, dan kesiapan pembangunan jangka panjang.

Akbar menilai apabila proyek tersebut direalisasikan secara bertahap dan terintegrasi dengan kawasan industri serta pelabuhan, maka kereta api dapat menjadi penggerak ekonomi baru di Kalimantan. (bar)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#kereta api kalimantan #logistik Kalimantan #jalur rel Kalbar #bauksit alumina #pelabuhan kijing