Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Bernilai Jutaan Rupiah per Kilogram, Skandium Kalbar dari Limbah Bauksit Berpotensi Jadi Mineral Masa Depan

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 31 Mei 2026 | 17:25 WIB
Ilustrasi serbuk Skandium
Ilustrasi serbuk Skandium

 

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat berpotensi memiliki peran penting dalam rantai pasok mineral strategis dunia. Di balik residu pengolahan bauksit atau red mud yang selama ini lebih dikenal sebagai limbah industri, tersimpan potensi skandium, logam kritis yang dibutuhkan industri pesawat terbang, kendaraan listrik, energi bersih, hingga pertahanan.

Potensi tersebut diungkap Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Setiawan, dalam konferensi Indonesia Miner 2026 di Jakarta. Menurutnya, skandium banyak berkaitan dengan residu pengolahan bauksit yang terdapat di Kalimantan Barat.

“Skandium banyak berkaitan dengan residu pengolahan bauksit (red mud) di Kalimantan Barat,” kata Iwan, dikutip dari rilis resmi BRIN.

Temuan tersebut membuka perspektif baru terhadap limbah pengolahan bauksit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Jika teknologi ekstraksi terus berkembang, material yang sebelumnya dianggap residu dapat berubah menjadi sumber bahan baku bernilai tinggi.

Skandium (Sc) merupakan bagian dari kelompok Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements bersama itrium dan 15 unsur lantanida lainnya. Encyclopaedia Britannica mencatat skandium menjadi salah satu unsur penting dalam pembuatan paduan aluminium berkinerja tinggi karena mampu menghasilkan material yang ringan, kuat, tahan korosi, dan stabil pada suhu ekstrem.

Karakteristik tersebut membuat skandium banyak digunakan dalam industri dirgantara, manufaktur presisi, teknologi energi bersih, hingga kendaraan listrik.

Bahkan kantor berita Reuters melaporkan Departemen Pertahanan Amerika Serikat mendukung pengembangan paduan aluminium-skandium untuk berbagai kebutuhan strategis, termasuk pesawat tempur dan peralatan militer modern.

Di pasar global, skandium termasuk mineral bernilai tinggi meski tidak diperdagangkan secara luas seperti emas atau nikel. Harga skandium sangat bergantung pada tingkat kemurnian, bentuk produk, volume transaksi, serta kontrak industri.

Berbagai publikasi perdagangan mineral menunjukkan skandium oksida dapat diperdagangkan pada kisaran ratusan hingga ribuan dolar Amerika Serikat per kilogram. Sementara skandium metal dapat mencapai beberapa ribu dolar AS per kilogram tergantung spesifikasinya.

Dengan kurs saat ini, nilai tersebut setara puluhan juta rupiah per kilogram.

Meski demikian, skandium bukanlah logam yang lebih mahal dibanding emas. Harga emas dunia saat ini masih berada pada kisaran lebih dari dua miliaran rupiah per kilogram. Nilai strategis skandium justru terletak pada pasokannya yang terbatas dan tingginya kebutuhan industri teknologi tinggi.

Data Geological Survey Amerika Serikat (USGS) menunjukkan skandium sebenarnya tidak lebih langka dibanding emas dari sisi keberadaan di kerak bumi. Namun unsur tersebut hampir selalu tersebar dalam kadar rendah sehingga jarang ditemukan dalam konsentrasi yang ekonomis untuk ditambang.

Britannica mencatat sebagian besar bijih hanya mengandung skandium dalam jumlah sangat kecil. Akibatnya, proses pemisahan dan pemurnian memerlukan teknologi yang rumit serta investasi besar.

Kondisi tersebut membuat produksi skandium dunia relatif terbatas. Para ahli mineral menilai skandium termasuk salah satu logam strategis yang paling sulit diproduksi secara ekonomis meski keberadaannya cukup luas di alam.

Sebagai salah satu daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia, Kalimantan Barat memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri berbasis mineral kritis.

Peluang tersebut semakin terbuka karena tren global menunjukkan limbah industri mulai dimanfaatkan sebagai sumber mineral bernilai tinggi. Reuters melaporkan perusahaan tambang global Rio Tinto di Kanada berhasil memproduksi skandium oksida dari limbah industri titanium tanpa membuka tambang baru.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa limbah industri tidak selalu berakhir sebagai beban lingkungan. Dengan dukungan riset dan teknologi yang tepat, material serupa dapat menjadi sumber bahan baku strategis bagi industri masa depan.

Bagi Kalimantan Barat, pengembangan skandium berpotensi menghadirkan nilai tambah baru dari sektor bauksit yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah.

Iwan menegaskan tantangan terbesar saat ini bukan hanya hilirisasi, tetapi juga percepatan eksplorasi dan penguasaan teknologi pengolahan logam tanah jarang.

Menurut data yang dipaparkannya, sekitar 95 persen sumber daya bijih LTJ Indonesia masih berstatus tereka sehingga membutuhkan eksplorasi lebih lanjut untuk meningkatkan kepastian cadangan.

“Penguasaan teknologi pemrosesan mineral itu penting, tetapi yang lebih mendasar adalah memastikan ketersediaan bahan baku. Perlu percepatan eksplorasi dan pengembangan teknologi yang berkesesuaian dengan karakteristik keterdapatan bahan baku di alam Indonesia,” ujar Iwan.

Jika potensi tersebut berhasil dikembangkan, Kalimantan Barat tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bauksit. Daerah ini juga berpeluang menjadi bagian penting dari rantai pasok mineral strategis dunia yang menopang industri pesawat terbang, kendaraan listrik, energi bersih, hingga pertahanan. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Logam tanah jarang #limbah bauksit #skandium #mineral strategis #Kalimantan Barat.