PONTIANAK POST - Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah strategis dalam peta pengembangan logam tanah jarang (rare earth elements/REE) Indonesia setelah pemerintah mengidentifikasi delapan lokasi potensial dan menyiapkan eksplorasi lanjutan di Kabupaten Ketapang.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional membangun industri mineral kritis yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri pertahanan.
Pemerintah menilai penguasaan rantai pasok REE dapat menjadi kunci bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku teknologi tinggi.
Kalimantan Barat Masuk Daftar Wilayah Prioritas Eksplorasi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah mengidentifikasi sejumlah cadangan logam tanah jarang di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat.
Wilayah Ketapang masuk dalam daftar daerah yang akan menjadi fokus eksplorasi lebih rinci bersama Sumatera Utara dan Pegunungan Tiga Puluh.
Keberadaan potensi REE di Kalimantan Barat semakin mendapat perhatian setelah Ketua Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto, pada Februari 2026 mengungkapkan bahwa pemerintah telah menetapkan delapan blok tambang yang mengandung unsur tanah jarang dan mineral strategis lainnya seperti tungsten, tantalum, serta antimon.
Meski lokasi seluruh blok belum diumumkan secara rinci, sebagian berada di Kalimantan dan Sulawesi. Pemerintah menyebut potensinya cukup menjanjikan untuk bersaing dengan negara-negara produsen mineral kritis dunia.
Bagi Kalimantan Barat, temuan ini membuka peluang baru di luar sektor perkebunan, kehutanan, dan pertambangan konvensional yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah.
Perminas Dibentuk untuk Mengelola Industri Rare Earth Nasional
Untuk mempercepat pengembangan sektor ini, pemerintah membentuk Perminas (Perusahaan Mineral Nasional), sebuah badan usaha milik negara yang secara khusus menangani pertambangan dan pengolahan logam tanah jarang.
Perusahaan tersebut berada di bawah pengelolaan dana investasi negara Danantara dan memiliki mandat berbeda dibanding BUMN tambang lainnya yang berfokus pada nikel, batu bara, atau timah.
Perminas akan menjadi ujung tombak pengembangan delapan blok REE nasional sekaligus mendorong terbentuknya rantai industri dari hulu hingga hilir.
"Perminas ini untuk tanah jarang atau rare earth yang memang kita potensinya sangat-sangat besar, tapi belum dioptimalisasi, masih jauh dari optimalisasi," kata CEO Danantara, Rosan Roeslani dikutip Antara, Selasa (3/2) di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Target pemerintah tidak hanya menambang mineral, tetapi juga membangun industri pengolahan dan manufaktur berbasis rare earth di dalam negeri.
Langkah ini dinilai penting karena selama ini sebagian besar nilai ekonomi mineral kritis justru berada pada tahap pengolahan dan manufaktur, bukan pada penambangan semata.
Baca Juga: Kasus Kontainer Batam Memanas, Satgas PKH Ungkap Dugaan Logam Tanah Jarang dalam Muatan Ekspor
Peluang Besar dari Transisi Energi Global
Logam tanah jarang merupakan komponen penting dalam berbagai teknologi modern.
Unsur seperti neodymium (Nd) dan praseodymium (Pr) digunakan untuk memproduksi magnet permanen yang menjadi komponen utama kendaraan listrik, turbin angin, peralatan elektronik, hingga sistem pertahanan modern.
Menurut data U.S. Geological Survey (USGS), produksi logam tanah jarang dunia mencapai sekitar 280.000 ton pada 2021 dan terus meningkat seiring pertumbuhan industri energi bersih.
Kebutuhan global terhadap mineral kritis semakin meningkat setelah berbagai negara mempercepat target pengurangan emisi karbon. Situasi ini menciptakan peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemasok baru dalam rantai pasok global yang selama ini didominasi China.
Saat ini China masih menguasai sekitar 85–90 persen kapasitas pengolahan REE dunia dan memiliki cadangan sekitar 44 juta ton. Dominasi tersebut membuat banyak negara mulai mencari sumber pasokan alternatif.
Baca Juga: Bahas Hilirisasi Mineral dan Logam Tanah Jarang
Kalimantan Barat Berpotensi Menjadi Pusat Industri Mineral Strategis Baru
Jika eksplorasi di Ketapang dan wilayah lain di Kalimantan Barat menunjukkan hasil ekonomis, provinsi ini berpotensi berkembang menjadi salah satu pusat industri mineral strategis nasional.
Posisi geografis Kalimantan Barat yang berdekatan dengan Malaysia dan berada di jalur perdagangan internasional juga menjadi nilai tambah bagi pengembangan industri hilir berbasis mineral kritis.
Selain membuka peluang investasi baru, proyek REE berpotensi menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi di bidang geologi, teknik pertambangan, pengolahan mineral, hingga manufaktur teknologi.
Namun para ahli mengingatkan bahwa manfaat ekonomi harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat lokal.
Tantangan Besar: Teknologi Pengolahan dan Isu Lingkungan
Meski memiliki sumber daya yang menjanjikan, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam pengembangan REE.
Hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas komersial pemisahan dan pemurnian logam tanah jarang.
Tanpa teknologi tersebut, bahan baku yang dihasilkan berpotensi tetap diekspor ke luar negeri sehingga nilai tambah tidak sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.
Selain itu, pengolahan beberapa jenis mineral tanah jarang dapat menghasilkan produk sampingan berupa thorium dan uranium yang memerlukan sistem pengelolaan limbah radioaktif yang ketat.
Karena itu, keberhasilan proyek REE di Kalimantan Barat dan daerah lainnya akan sangat bergantung pada kesiapan teknologi, regulasi lingkungan, kualitas pengawasan, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Harapan Baru bagi Kalimantan Barat
Masuknya Kalimantan Barat dalam peta pengembangan logam tanah jarang nasional memberi harapan baru bagi diversifikasi ekonomi daerah.
Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis, provinsi ini berpeluang menjadi bagian penting dari transformasi industri Indonesia menuju ekonomi berbasis teknologi dan energi bersih.
Namun seperti pengalaman hilirisasi komoditas lain, keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk.
Yang lebih penting adalah sejauh mana pengembangan industri tersebut mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang, serta menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.*
Editor : Uray Ronald