Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis

Uray Ronald • Minggu, 31 Mei 2026 | 21:57 WIB
Eksplorasi tambang logam tanah jarang. (Rare-earth-mining.com)
Eksplorasi tambang logam tanah jarang. (Rare-earth-mining.com)

 

PONTIANAK POST - Kementerian ESDM menyatakan delapan proyek logam tanah jarang yang telah teridentifikasi masih berada pada tahap awal eksplorasi. Namun, langkah ini dinilai penting untuk membangun rantai pasok industri hilir yang memiliki nilai tambah tinggi.

Kementerian ESDM menyatakan bahwa pemerintah berencana memperluas eksplorasi ke sejumlah wilayah baru. Beberapa daerah yang menjadi fokus lanjutan antara lain Ketapang di Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Sibolga di Sumatera Utara, dan Pegunungan Tiga Puluh di Sumatera.

Data pemerintah menunjukkan cadangan yang teridentifikasi di beberapa lokasi tersebut mencapai ratusan ribu ton mineral yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku industri strategis.

Mengapa Logam Tanah Jarang Menjadi Rebutan Dunia?

Logam tanah jarang merupakan komponen penting dalam berbagai teknologi modern. Mineral ini digunakan dalam kendaraan listrik, baterai, turbin angin, telepon pintar, komputer, layar televisi, hingga peralatan pertahanan.

Permintaan global terhadap REE terus meningkat seiring percepatan transisi energi bersih.

Baca Juga: Kalbar Masuk Peta Pengembangan Logam Tanah Jarang Nasional, Indonesia Siapkan Delapan Blok Tambang dan BUMN Khusus

Menurut data U.S. Geological Survey, produksi tambang logam tanah jarang dunia mencapai sekitar 280.000 ton pada 2021, meningkat 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, Indonesia menghadapi tantangan besar. China saat ini masih mendominasi industri logam tanah jarang global dengan total cadangan mencapai sekitar 44 juta ton, menjadikannya pemain utama dalam rantai pasok dunia.

Analis industri dari Bank Mandiri, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma, menilai pasar domestik logam tanah jarang akan berkembang seiring pertumbuhan industri energi terbarukan nasional.

Namun, Indonesia perlu menemukan keunggulan khusus agar mampu bersaing dengan produk serupa dari China yang memiliki ketersediaan bahan baku lebih besar.

Hilirisasi Diharapkan Meningkatkan Nilai Tambah dan Pendapatan Negara

Pemetaan cadangan REE merupakan bagian dari kebijakan hilirisasi mineral yang telah dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, Indonesia memberlakukan larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 untuk mendorong pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri.

Kebijakan serupa juga tengah disiapkan untuk sejumlah komoditas mineral lain. Pemerintah bahkan menyusun peta jalan industri hilir logam tanah jarang yang mencakup inventarisasi cadangan nasional serta pembatasan ekspor produk tertentu seperti mineral hidroksida dan karbonat.

Menurut estimasi Kementerian ESDM, pengolahan mineral dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah berpotensi meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor pertambangan secara signifikan.

Baca Juga: Melimpah di Kalbar: BRIN Ungkap Potensi Mineral Tanah Jarang Skandium, Harta Karun Baru dari Limbah Bauksit

Hilirisasi dinilai mampu menciptakan lapangan kerja baru, menarik investasi, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri teknologi global.

Meski memiliki sumber daya yang menjanjikan, Indonesia masih menghadapi hambatan besar di sektor hilir.

Sayangnya, hingga 2026, Indonesia belum memiliki fasilitas komersial untuk memisahkan dan memurnikan unsur tanah jarang.

Akibatnya, konsentrat monasit berpotensi tetap dikirim ke luar negeri, terutama ke China, yang saat ini menguasai sekitar 85–90 persen kapasitas pengolahan REE dunia.

Teknologi pemisahan REE membutuhkan fasilitas ekstraksi pelarut yang kompleks, bahan kimia khusus, serta keahlian teknis yang dikembangkan selama puluhan tahun.

Persaingan untuk memperoleh teknologi juga semakin ketat karena negara-negara seperti Australia, Kanada, dan Amerika Serikat tengah membangun kapasitas pengolahan mereka sendiri.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia berupaya mempercepat transfer teknologi melalui kerja sama internasional.

Kerja Sama Global dan Peluang Menjadi Pemain Baru Dunia

BUMN Perminas mulai memperluas jaringan internasional dengan menandatangani nota kesepahaman bersama New Energy Metals Holdings Ltd (NEM) dari Gabon.

Kerja sama tersebut mencakup kajian pengembangan proyek niobium dan logam tanah jarang Maboumine di Gabon yang hasilnya dapat menjadi pasokan bahan baku untuk industri magnet permanen di Indonesia.

Selain Gabon, Malaysia dan Korea Selatan juga disebut dalam pembahasan awal terkait transfer teknologi dan pengembangan fasilitas pengolahan.

Baca Juga: Skandium Diburu Industri Pesawat dan Kendaraan Listrik Dunia, Ada di Tambang Bauksit Kalbar

Meski demikian, Indonesia masih belum masuk dalam daftar produsen REE utama dunia menurut data U.S. Geological Survey (USGS). Sebagai perbandingan, China memproduksi sekitar 240.000 ton rare earth oxide (REO) pada 2024, jauh di atas negara-negara lain.

Dampak bagi Daerah Penghasil, Termasuk Kalimantan Barat

Masuknya Kalimantan Barat dalam daftar wilayah eksplorasi logam tanah jarang membuka peluang ekonomi baru bagi daerah.

Jika cadangan yang ditemukan terbukti ekonomis untuk ditambang, kawasan tersebut berpotensi menjadi bagian penting dalam ekosistem industri energi bersih nasional.

Namun, pengembangan sektor ini juga menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat akan menghadapi tantangan untuk memastikan eksplorasi dilakukan secara berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar.

Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap teknologi rendah emisi, keberhasilan Indonesia mengelola logam tanah jarang dapat menjadi salah satu penentu posisi negara dalam persaingan industri masa depan.*

Editor : Uray Ronald
#hilirisasi mineral #logam tanah jarang Indonesia #cadangan rare earth Kalimantan Barat #energi terbarukan Indonesia #investasi pertambangan