PONTIANAK POST – Di tengah wacana pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan, sebuah penelitian internasional menyoroti bambu sebagai material konstruksi yang efisien, ramah lingkungan, dan berpotensi memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung pengembangan transportasi masa depan.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam penelitian berjudul The Application of Bamboo in the Railway Industry: A Sustainable Solution for Track Construction yang ditulis Xinrui He, Wenli Jia, Yuxiang Dong, dan Mohammad Siahkouhi. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal ilmiah Infrastructures pada 2023.
Para peneliti menyebut bambu memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya menarik bagi industri perkeretaapian, mulai dari kekuatan tinggi, bobot ringan, kemudahan penanganan, hingga kemampuan tumbuh cepat sebagai sumber daya terbarukan.
Karakteristik tersebut dinilai dapat menjadikan bambu sebagai material yang lebih efisien dibanding sejumlah bahan konvensional untuk aplikasi tertentu dalam konstruksi jalur kereta api.
Dalam kajian tersebut, produk rekayasa bambu seperti bamboo plywood dan bamboo scrimber disebut memiliki sifat mekanis yang mampu bersaing dengan material bantalan rel berbahan kayu.
"Bahkan, kekuatan lentur bambu lapis mencapai sekitar 100 MPa atau setara dengan bantalan kayu berkualitas tinggi. Bobotnya yang hanya berkisar 60 hingga 75 kilogram juga membuat proses distribusi dan pemasangan berpotensi lebih mudah dibanding material yang lebih berat," ujar penulis dalam jurnal tersebut.
Bagi Kalimantan yang memiliki wilayah luas dan tantangan logistik tinggi, dan berlahan gambut, penggunaan material yang lebih ringan dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menekan biaya transportasi dan mobilisasi bahan konstruksi.
Apalagi, sebagian wilayah Kalimantan memiliki potensi sumber daya bambu yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku industri pendukung perkeretaapian.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa bambu tidak hanya berpotensi digunakan sebagai bantalan rel. Material ini juga telah diuji untuk perkuatan tanah jalur kereta, lantai gerbong, hingga komponen penyerap energi pada kendaraan rel. Hasilnya menunjukkan bambu memiliki prospek sebagai material konstruksi modern yang mendukung konsep pembangunan rendah karbon.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa penggunaan bambu pada infrastruktur kereta api masih menghadapi sejumlah tantangan. Ketahanan terhadap cuaca, kelembapan tinggi, serta performa jangka panjang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut sebelum diterapkan secara luas pada jalur kereta komersial.
Menurut penelitian tersebut, salah satu kelemahan bambu sebagai bantalan rel adalah bobotnya yang lebih ringan dibanding beton sehingga berpotensi memengaruhi stabilitas lateral lintasan. Selain itu, data mengenai umur pakai dan ketahanan dalam berbagai kondisi iklim masih relatif terbatas.
Meski masih memerlukan pengembangan teknologi dan pengujian lapangan, penelitian ini membuka perspektif baru bahwa pembangunan kereta api Kalimantan tidak hanya berbicara soal investasi dan trase jalur, tetapi juga peluang memanfaatkan material lokal yang efisien dan berkelanjutan.
Dengan meningkatnya perhatian dunia terhadap infrastruktur hijau, bambu berpotensi menjadi salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan dalam pengembangan transportasi masa depan di Pulau Kalimantan. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro