Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kereta Api Kalimantan Lebih Cocok Angkut Barang daripada Penumpang: Mobilitas Antar-Provinsi Minim dan Populasi Belum Cukup Padat

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 2 Juni 2026 | 21:39 WIB
Ilustrasi jalur kereta api Trans Kalimantan yang terhubung dengan Pelabuhan Internasional Kijing di Kalimantan Barat. Infrastruktur ini dinilai strategis untuk mendukung industri, memperkuat konektivitas dan menekan biaya logistik di Pulau Kalimantan.
Ilustrasi jalur kereta api Trans Kalimantan yang terhubung dengan Pelabuhan Internasional Kijing di Kalimantan Barat. Infrastruktur ini dinilai strategis untuk mendukung industri, memperkuat konektivitas dan menekan biaya logistik di Pulau Kalimantan.

PONTIANAK POST – Mantan Gubernur Kalimantan Barat periode 2018-2023, Sutarmidji, menilai pembangunan kereta api Kalimantan akan lebih realistis jika difokuskan untuk mendukung angkutan barang dan logistik dibandingkan angkutan penumpang. Menurutnya, tingkat mobilitas masyarakat antarwilayah di Pulau Kalimantan saat ini masih belum cukup tinggi untuk menopang operasional kereta api penumpang dalam skala besar.

Pernyataan itu disampaikan Sutarmidji saat menanggapi masuknya proyek jaringan kereta api Kalimantan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Ia menyambut baik rencana tersebut, namun mengingatkan pemerintah agar menghitung secara matang aspek kelayakan ekonomi dan kebutuhan riil masyarakat sebelum proyek dijalankan.

“Kalau dari angkutan orang, kita lihat saja jalur penerbangan. Pontianak penduduknya paling besar. Sekarang Pontianak-Balikpapan ada setiap hari? Pontianak-Samarinda ada setiap hari? Pontianak-Banjarmasin ada? Pontianak-Palangkaraya ada? Kan sesekali saja,” kata Sutarmidji, Selasa (2/6).

Menurut dia, frekuensi penerbangan antar kota di Kalimantan dapat menjadi indikator sederhana untuk melihat tingkat mobilitas masyarakat. Jika perjalanan udara antarkota saja belum terlalu padat, maka pemerintah perlu berhati-hati dalam memproyeksikan jumlah penumpang kereta api di masa depan.

Logistik dan Ekspor Dinilai Menjadi Pasar yang Lebih Menjanjikan

Sutarmidji melihat peluang terbesar kereta api Kalimantan justru berada pada sektor logistik. Jaringan rel yang menghubungkan kawasan produksi dengan pelabuhan dan pusat perdagangan dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih nyata.

Menurutnya, karakteristik Kalimantan yang kaya sumber daya alam dan komoditas perkebunan membuat kebutuhan angkutan barang jauh lebih potensial dibandingkan angkutan penumpang.

“Ini bisa menjadi cerminan kepadatan mobilitas di Kalimantan. Kecuali untuk angkutan barang, terutama yang mendukung kegiatan ekspor,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan kereta api dapat membantu menekan biaya distribusi logistik yang selama ini masih bergantung pada transportasi jalan dan angkutan laut. Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing produk daerah di pasar nasional maupun internasional.

Kelayakan Investasi Harus Menjadi Pertimbangan Utama

Meski mendukung pembangunan kereta api Kalimantan, Sutarmidji mengingatkan agar pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Aspek investasi dan pengembalian modal harus dihitung secara rinci agar proyek tidak menimbulkan persoalan baru setelah selesai dibangun.

Menurut dia, proyek infrastruktur berskala besar harus memiliki dasar perencanaan yang kuat, termasuk perhitungan break even point (BEP) dan proyeksi manfaat ekonomi jangka panjang.

“Harus direncanakan secara komprehensif, termasuk break even point-nya kapan, berapa tahun. Dilihat investasinya berapa besar, pengembalian investasi itu berapa lama. Jangan sampai nanti seperti kereta cepat. Kita sih suka saja dan berharap bisa terwujud, tetapi setelah terwujud jangan malah menjadi masalah,” katanya.

Kalbar Dinilai Berpeluang Menjadi Simpul Logistik

Dalam pandangan Sutarmidji, Kalimantan Barat memiliki peluang besar menjadi salah satu simpul utama jaringan kereta api apabila proyek tersebut benar-benar direalisasikan. Selain memiliki jumlah penduduk terbesar di Kalimantan, Kalbar juga memiliki potensi ekonomi yang terus berkembang.

Keberadaan kawasan industri, sentra perkebunan, serta Pelabuhan Internasional Kijing dinilai dapat menjadi faktor pendukung apabila jaringan kereta api diarahkan untuk memperkuat arus logistik dan ekspor.

“Harusnya mulainya dari Pontianak, dari Kalbar. Karena penduduk paling besar di Kalimantan ada di Kalbar. Potensi ekonomi ke depan juga Kalbar,” ujarnya.

Dukung Kereta Api, Asal Tidak Mangkrak

Sutarmidji menegaskan dirinya mendukung penuh pembangunan kereta api Kalimantan sebagai bagian dari upaya meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan. Namun, ia meminta pemerintah memastikan seluruh aspek pembiayaan, kelayakan usaha, dan keberlanjutan proyek benar-benar matang.

Menurutnya, proyek strategis sebesar kereta api lintas Kalimantan harus mampu menjadi penggerak ekonomi baru dan memperkuat distribusi logistik, bukan justru berhenti di tengah jalan akibat perencanaan yang kurang matang.

“Yang jelas saya berharap kereta api ini benar-benar bisa direalisasikan. Hanya harus dihitung dari sisi visibilitas dan pembiayaannya. Jangan sampai mangkrak di tengah jalan,” pungkasnya. (bar)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#kereta api kalimantan #logistik Kalimantan #Proyek Strategis Nasional #angkutan barang #sutarmidji