PONTIANAK POST – Di tengah stigma yang selama ini melekat pada anak punk, puluhan pemuda di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta, justru memilih jalan berbeda. Melalui Komunitas Petani Punk Gunungkidul, mereka mengubah lahan tidur menjadi produktif dan mengajak generasi muda kembali menekuni pertanian.
Gerakan yang dimulai sejak 2018 itu lahir dari kegelisahan sederhana. Saat berkumpul di tepian sawah, Pratisna Sibag dan rekan-rekannya melihat semakin sedikit anak muda yang tertarik bertani. Sebaliknya, mayoritas petani yang masih bertahan sudah berusia 50 hingga 60 tahun.
“Kami miris. Rata-rata petani hari ini usianya sudah 50 sampai 60 tahun. Saya berpikir, 15 tahun lagi mungkin tidak ada petani lagi kalau kita tidak bergerak sekarang,” ujar Sibag, dikutip dari Radar Jogja (kelompok Pontianak Post).
Kegelisahan itu kemudian berubah menjadi aksi nyata. Dari hanya belasan orang, kini sekitar 40 anggota tergabung dalam Komunitas Petani Punk Gunungkidul. Mereka yang sebelumnya identik dengan kehidupan jalanan mulai akrab dengan lumpur sawah dan aktivitas bercocok tanam.
Menghidupkan Lahan Tidur dan Harapan Anak Muda Desa
Di Kapanewon Karangmojo, komunitas tersebut menggarap lahan tidur milik warga dengan luas antara 800 hingga 1.500 meter persegi. Lahan yang sebelumnya terbengkalai kini menghasilkan padi dan berbagai tanaman palawija.
Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan komunitas, hasil panen juga dibagikan kepada warga sekitar. Sebagian lahan yang telah produktif bahkan dihibahkan pengelolaannya kepada kelompok-kelompok pemuda desa.
Hingga kini, Komunitas Petani Punk Gunungkidul tercatat telah mendampingi sekitar 120 pemuda di Padukuhan Kalangan untuk mengelola lahan pertanian secara mandiri.
“Misi kami sederhana, meyakinkan anak-anak muda bahwa rupiah bisa dipanen dari tanah sendiri tanpa harus mengadu nasib menjadi buruh di kota besar,” kata Sibag.
Menurutnya, banyak pemuda desa memilih merantau karena menganggap pertanian tidak menjanjikan. Padahal, jika dikelola dengan baik, lahan yang tersedia mampu menjadi sumber penghasilan sekaligus menjaga ketahanan pangan desa.
Perjuangan Menghapus Stigma Anak Punk
Perjalanan komunitas tersebut tidak selalu mudah. Pada awalnya, banyak warga yang memandang sebelah mata kemampuan mereka mengelola pertanian.
Sebagian anggota bahkan mengaku kesulitan menggunakan alat-alat pertanian karena tidak memiliki pengalaman bertani sebelumnya. Namun perlahan, kepercayaan warga mulai tumbuh ketika lahan yang selama bertahun-tahun terbengkalai kembali menghasilkan panen.
Dengan menerapkan pola pertanian organik, mereka berhasil membuktikan bahwa anak punk juga mampu menjadi penggerak ekonomi desa.
“Gunungkidul itu punya lahan, tapi banyak warganya yang harus merantau. Padahal, kita bisa hidup dari lahan kita sendiri,” ujarnya.
Kini Bersiap Menjadi Penyuplai Program Makan Bergizi Gratis
Memasuki babak baru, Komunitas Petani Punk Gunungkidul memutuskan ikut mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.
Keputusan tersebut sempat memunculkan beragam komentar. Namun bagi Sibag, keterlibatan komunitas bukan semata untuk menjadi pemasok hasil pertanian, melainkan juga menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau besok di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun,” tegasnya.
Langkah tersebut mendapat dukungan dari Yayasan Bijana Paksi Sitengsu. Yayasan itu mendorong agar petani lokal menjadi pemasok utama kebutuhan pangan untuk dapur-dapur MBG di Gunungkidul.
Sekretaris Jenderal Yayasan Bijana Paksi Sitengsu Teddy Anggoro mengatakan, ke depan akan terdapat lima dapur MBG di Gunungkidul yang diharapkan dapat memberdayakan petani lokal.
“Yang menjadi penyuplai atau yang ikut mencari rezeki di sana benar-benar petani lokal,” ujarnya.
Menjaga Masa Depan Pertanian dari Desa
Apa yang dilakukan Komunitas Petani Punk Gunungkidul bukan hanya soal menanam padi atau menghidupkan lahan tidur. Gerakan itu juga menjadi upaya menjaga regenerasi petani di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
Di saat banyak anak muda memilih meninggalkan desa, puluhan anak punk di Gunungkidul justru menunjukkan bahwa masa depan bisa dibangun dari tanah sendiri.
Mereka tidak hanya menanam benih di sawah, tetapi juga menanam harapan bahwa pertanian tetap memiliki masa depan di tangan generasi muda. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro