PONTIANAK POST – Mantan Gubernur Kalimantan Barat periode 2018-2023, Sutarmidji, meminta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) terbuka kepada publik mengenai kondisi sebenarnya Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui sejauh mana perkembangan pelabuhan internasional terbesar di Kalbar tersebut setelah dibangun dengan investasi besar.
Pernyataan itu disampaikan Sutarmidji saat menanggapi rencana pembangunan kereta api Kalimantan yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Ia menilai pembahasan konektivitas logistik tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Pelabuhan Kijing yang digadang-gadang menjadi pintu gerbang ekspor-impor Kalimantan Barat.
“Kijing itu saya melihat Pelindo harus jujur. Menurut mereka ekonomis tidak, menguntungkan tidak? Kalau menguntungkan kenapa sampai sekarang begitu-begitu saja, tidak ada pengembangan. Harus disampaikan kepada masyarakat Kalbar kendalanya apa,” kata Sutarmidji, Selasa (2/6).
Investasi Besar, Aktivitas Pelabuhan Jadi Sorotan
Menurut Sutarmidji, keberadaan Pelabuhan Kijing seharusnya tercermin dari tingginya aktivitas bongkar muat dan pengembangan fasilitas pendukung yang terus berlanjut.
Namun hingga kini, ia menilai perkembangan pelabuhan tersebut belum menunjukkan lompatan signifikan yang dapat dirasakan masyarakat maupun pelaku usaha di Kalimantan Barat.
Karena itu, ia mempertanyakan tingkat utilisasi pelabuhan, termasuk volume bongkar muat yang saat ini terjadi di kawasan tersebut.
“Sekarang berapa volume bongkar muat di sana (Kijing)? Crane saja tidak mencerminkan pelabuhan internasional,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan agar investasi besar yang telah digelontorkan mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan ekspor, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Pelabuhan Kijing Diharapkan Jadi Motor Ekonomi Kalbar
Sebagai pelabuhan internasional pertama di Kalimantan Barat, Pelabuhan Kijing sejak awal diproyeksikan menjadi simpul logistik utama yang menghubungkan Kalbar dengan pasar nasional maupun internasional.
Keberadaannya diharapkan dapat menurunkan biaya logistik, mempercepat distribusi barang, dan memperkuat daya saing produk unggulan daerah seperti kelapa sawit, bauksit, alumina, hingga produk perkebunan dan perikanan.
Namun menurut Sutarmidji, berbagai tantangan yang menghambat optimalisasi pelabuhan perlu diungkap secara terbuka agar dapat dicarikan solusi bersama.
Ia menilai transparansi penting untuk memastikan masyarakat mengetahui hambatan yang dihadapi, baik dari sisi volume muatan, infrastruktur pendukung, maupun konektivitas logistik.
Konektivitas Jadi Kunci Optimalisasi Pelabuhan
Dalam kesempatan yang sama, Sutarmidji menyinggung pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung yang terintegrasi dengan Pelabuhan Kijing.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pelabuhan internasional tidak hanya ditentukan oleh fasilitas pelabuhan, tetapi juga ketersediaan akses distribusi barang menuju kawasan industri, sentra produksi, dan pasar ekspor.
Karena itu, wacana pembangunan jaringan kereta api Kalimantan perlu dikaji secara matang agar benar-benar mampu mendukung pergerakan logistik dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Publik Menunggu Jawaban dan Arah Pengembangan
Di tengah besarnya harapan masyarakat terhadap Pelabuhan Kijing, berbagai pertanyaan mengenai tingkat utilisasi dan prospek pengembangannya masih menjadi perhatian.
Bagi pelaku usaha, petani, eksportir, hingga pekerja sektor logistik, optimalisasi pelabuhan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Keberhasilan pelabuhan akan menentukan seberapa besar peluang ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat Kalimantan Barat.
Karena itu, keterbukaan informasi mengenai kinerja pelabuhan dinilai penting agar publik dapat memahami tantangan yang ada sekaligus mengetahui arah pengembangan pelabuhan internasional yang selama ini menjadi salah satu proyek strategis terbesar di Kalbar. (bar)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro