PONTIANAK POST - Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah prioritas dalam peta pengembangan mineral kritis nasional setelah Badan Industri Mineral (BIM) mengidentifikasi dua blok strategis, yakni Blok Melawi dan Blok Boyan Hulu, yang memiliki potensi logam tanah jarang (LTJ) dan antimon bernilai tinggi.
Dari delapan blok yang diprioritaskan untuk eksplorasi di Indonesia, dua di antaranya berada di Kalbar dengan potensi cadangan yang dinilai penting bagi industri teknologi masa depan.
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR Februari 2026 lalu, Kepala BIM Brian Yuliarto menyebut Blok Melawi dan Boyan Hulu masuk dalam daftar kawasan yang dipetakan memiliki sumber daya mineral kritis primer.
"Kemudian juga yang berikutnya itu adalah Blok Melawi, Blok Boyan Hulu, Blok Mamuju, dan Blok Bombana," ujarnya dikutip Bloomberg.
Kalimantan Barat Menjadi Salah Satu Kunci Hilirisasi Mineral Kritis
Blok Melawi di Kalimantan Barat tercatat memiliki kandungan logam tanah jarang dengan kadar total sekitar 81.720 parts per million (ppm), tertinggi dibanding sejumlah blok LTJ lain yang dipetakan BIM.
Wilayah eksplorasi ini memiliki luas sekitar 54.000 hektare, meski sekitar 20 persen arealnya berada di kawasan hutan lindung. Besarnya kandungan LTJ membuat Melawi berpotensi menjadi salah satu aset strategis Indonesia dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan mineral untuk industri kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga teknologi digital.
Sementara itu, Blok Boyan Hulu memiliki karakteristik berbeda. Kawasan seluas 8.492 hektare tersebut dipetakan mengandung antimon berkadar 70 hingga 95 persen, salah satu mineral kritis yang banyak digunakan dalam industri elektronik, baterai, semikonduktor, dan material tahan api.
Sekitar 15 persen wilayah Boyan Hulu berada di kawasan hutan lindung sehingga pengembangan eksplorasi memerlukan kajian lingkungan yang ketat.
Delapan Blok Mineral Kritis Diprioritaskan BIM
Selain Kalimantan Barat, BIM memetakan sejumlah wilayah lain yang dinilai memiliki potensi mineral kritis nasional.
Daftar blok prioritas tersebut meliputi:
- Blok Toboali (Bangka Belitung): tungsten 8.287 ppm, LTJ 2.391 ppm, serta tantalum dengan luas 10.000 hektare.
- Blok Keposang (Bangka Belitung): LTJ sekitar 1.000 ppm dengan luas 5.000 hektare.
- Blok Mentikus (Bangka Belitung): timah 23.400 ppm dan tungsten 9.000 ppm dengan luas 200 hektare.
- Blok Batubesi (Bangka Belitung): timah 5.000 ppm dan tungsten 2.500 ppm dengan luas 500 hektare.
- Blok Melawi (Kalimantan Barat): LTJ 81.720 ppm dengan luas 54.000 hektare.
- Blok Boyan Hulu (Kalimantan Barat): antimon 70–95 persen dengan luas 8.492 hektare.
- Blok Mamuju (Sulawesi Barat): LTJ sekitar 2.000 ppm dengan luas 23.000 hektare.
- Blok Bombana (Sulawesi Tenggara): LTJ 220 ppm dan antimon 6.170 ppm dengan luas 64.000 hektare.
Khusus Blok Bombana, sekitar 60 persen wilayahnya berada di kawasan hutan lindung, sementara status wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) Blok Mentikus masih perlu dikonfirmasi.
Baca Juga: Indonesia Petakan Cadangan Logam Tanah Jarang, Kalbar Masuk Daftar Wilayah Strategis
Logam Tanah Jarang Jadi Rebutan Dunia
Pemetaan mineral kritis oleh BIM berlangsung di tengah meningkatnya persaingan global untuk mengamankan pasokan logam tanah jarang.
Menurut International Energy Agency (IEA), permintaan terhadap unsur tanah jarang magnetik seperti neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium telah meningkat dua kali lipat sejak 2015.
Permintaan diperkirakan kembali bertambah sekitar sepertiga pada 2030 seiring pertumbuhan kendaraan listrik, turbin angin, robotika, pusat data kecerdasan buatan (AI), dan teknologi digital.
Ketergantungan dunia terhadap pasokan tanah jarang dari China juga semakin terlihat. Negara tersebut menguasai sekitar 60 persen produksi global dan hampir 90 persen kapasitas pemurnian logam tanah jarang.
Dari laporan DW.com, pembatasan ekspor yang diterapkan China pada sejumlah unsur tanah jarang pada 2025 memperlihatkan betapa pentingnya rantai pasok mineral kritis bagi industri global. Sejumlah produsen otomotif bahkan dilaporkan menghadapi gangguan produksi akibat keterbatasan pasokan bahan baku tersebut.
Peluang Besar dan Tantangan bagi Kalimantan Barat
Masuknya Melawi dan Boyan Hulu dalam peta mineral kritis nasional membuka peluang ekonomi baru bagi Kalimantan Barat. Jika eksplorasi dan hilirisasi berjalan sesuai rencana, wilayah ini berpotensi menjadi bagian penting dari rantai pasok industri teknologi dan energi masa depan Indonesia.
Namun, keberadaan sebagian area tambang di kawasan hutan lindung juga menuntut keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan lingkungan. Aspek keberlanjutan diperkirakan menjadi faktor penentu dalam setiap tahap pengembangan kedua blok tersebut.*
Editor : Uray Ronald