PONTIANAK POST - Mineral tanah jarang (rare earth) skandium kini semakin dibutuhkan dunia. Kalimantan Barat berpeluang menjadi pemasok mengingat potensi skandium yang terkandung dalam residu pengolahan bauksit atau red mud yang sangat besar di daerah ini.
Menurut laporan mordorintelligence, pasar skandium global diproyeksikan mencapai USD 2,01 miliar pada 2031.
Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Iwan Setiawan, dalam forum Indonesia Miner 2026 di Jakarta mengungkapkan bahwa skandium memiliki keterkaitan erat dengan residu pengolahan bauksit yang selama ini dihasilkan industri alumina di Kalbar.
Pernyataan tersebut memperkuat posisi Kalbar sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mendukung kebutuhan mineral kritis dunia, terutama mengingat pasokan global masih terbatas dan terkonsentrasi pada sejumlah negara penghasil utama.
Mengapa Skandium Menjadi Rebutan Industri Dunia?
Pasar skandium global diperkirakan tumbuh dari USD 1,02 miliar pada 2026 menjadi USD 2,01 miliar pada 2031 dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) mencapai 14,53 persen.
Permintaan terutama berasal dari industri energi bersih, semikonduktor, manufaktur aditif (additive manufacturing), hingga sektor kedirgantaraan dan pertahanan.
Baca Juga: Limbah Bauksit Skandium Kini Dicari Industri Modern Dunia, Kalbar Punya Peluang Jadi Pemasok Utama
Salah satu alasan utama meningkatnya permintaan adalah kemampuan skandium meningkatkan performa paduan aluminium.
Berbagai penelitian material menunjukkan bahwa penambahan skandium mampu meningkatkan kekuatan mekanik, ketahanan terhadap korosi, serta kemampuan pengelasan tanpa menambah bobot secara signifikan.
Lembaga industri internasional Scandium International Mining menyebut penggunaan paduan aluminium-skandium dapat mengurangi bobot komponen pesawat hingga 15–20 persen.
Pengurangan berat tersebut berdampak langsung pada efisiensi bahan bakar dan penurunan biaya operasional maskapai.
Reuters juga melaporkan bahwa industri pertahanan Amerika Serikat tengah mengembangkan paduan aluminium-skandium untuk aplikasi pesawat dan sistem pertahanan generasi baru karena material ini ringan, kuat, tahan korosi, serta tetap stabil pada berbagai kondisi suhu ekstrem.
"Aluminium-skandium menawarkan kombinasi unik antara kekuatan tinggi, bobot ringan, dan kemampuan pengelasan yang sangat baik, menjadikannya material yang sangat menarik untuk aplikasi dirgantara," tulis Scandium.org dalam kajian mengenai pemanfaatan logam kritis tersebut.
Harta Karun di Balik Limbah Bauksit
Selama bertahun-tahun, red mud dikenal sebagai limbah hasil pengolahan bauksit menjadi alumina. Namun perkembangan teknologi ekstraksi membuka peluang baru untuk memanfaatkan limbah tersebut sebagai sumber logam kritis bernilai tinggi.
Dalam konteks ekonomi sirkular, pemanfaatan red mud tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru bagi daerah penghasil bauksit.
Berbagai proyek di Eropa dan Amerika Utara saat ini bahkan mulai mengembangkan teknologi pemulihan skandium dari limbah industri sebagai bagian dari strategi ketahanan pasokan mineral kritis.
Kalimantan Barat Memiliki Modal Besar
Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kalbar menunjukkan sumber daya bauksit di daerah ini mencapai 2,07 miliar ton atau sekitar 57,32 persen dari total sumber daya bauksit nasional.
Besarnya cadangan tersebut menjadikan Kalbar sebagai pusat produksi bauksit nasional. Sedikitnya 55 perusahaan tambang bauksit tercatat beroperasi di wilayah ini sejak 2018.
Namun hingga kini, jumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina masih relatif terbatas dibandingkan potensi sumber daya yang tersedia.
Harga Skandium Tembus Ratusan Ribu Dolar
Selain memiliki nilai strategis, skandium juga termasuk logam dengan harga sangat tinggi di pasar internasional.
Laporan pasar global menunjukkan harga skandium oksida pada 2025 berada di kisaran USD 1.200 per kilogram.
Sementara logam skandium murni dengan tingkat kemurnian 99,99 persen diperdagangkan pada kisaran USD 185.000 hingga USD 210.000 per kilogram.
Tingginya harga tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan global yang saat ini diperkirakan hanya sekitar 40 ton ekuivalen oksida per tahun.
Kondisi tersebut membuat skandium banyak digunakan pada produk bernilai tinggi seperti komponen pesawat tempur, teknologi energi, semikonduktor, hingga peralatan olahraga premium.
Tantangan Hilirisasi Masih Besar
Meski memiliki cadangan bauksit melimpah, Kalbar masih menghadapi tantangan dalam membangun rantai hilirisasi yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi seperti skandium.
Keterbatasan smelter dan fasilitas pemrosesan lanjutan menyebabkan potensi logam kritis yang tersimpan dalam red mud belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, ketika dunia berlomba mengamankan pasokan mineral strategis untuk transisi energi dan industri teknologi tinggi, Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga pemain penting dalam rantai pasok global.
Peluang Ekonomi untuk Daerah dan Masyarakat
Apabila teknologi ekstraksi skandium berhasil dikembangkan secara komersial, manfaatnya tidak hanya dirasakan industri nasional. Investasi baru, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah, hingga penguatan industri hilir berpotensi tumbuh di Kalbar.
Potensi tersebut menjadikan red mud yang selama ini dipandang sebagai limbah memiliki peluang berubah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap material ringan, energi bersih, dan teknologi canggih, Kalbar berpeluang besar menjadi salah satu titik penting dalam peta mineral strategis global.
Fakta Singkat Skandium Kalimantan Barat
-
Pasar skandium global diproyeksikan mencapai USD 2,01 miliar pada 2031.
-
Kalimantan Barat menyimpan 57,32 persen sumber daya bauksit Indonesia.
-
Cadangan bauksit Kalbar mencapai 66,77 persen dari total nasional.
-
Skandium dapat diekstraksi dari residu pengolahan bauksit (red mud).
-
Aluminium-skandium mampu mengurangi bobot komponen pesawat hingga 15–20 persen.
-
Harga skandium murni mencapai USD 185.000–210.000 per kilogram.
-
Hilirisasi menjadi kunci agar Indonesia memperoleh nilai tambah maksimal dari mineral strategis ini.*