Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Indonesia dan Prancis Mulai Bahas Rare Earth, Komoditas yang Diperebutkan Dunia untuk Industri Masa Depan

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 4 Juni 2026 | 18:22 WIB
Delegasi Indonesia dan Prancis berfoto bersama setelah Dialog Ekonomi Tingkat Tinggi (HLED) pertama di Paris, Selasa (2/6/2026). Salah satu agenda utama pertemuan adalah pembahasan rantai pasok mineral kritis dan logam tanah jarang (rare earth) yang semakin dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi tinggi. (FOTO KEMENKEU)
Delegasi Indonesia dan Prancis berfoto bersama setelah Dialog Ekonomi Tingkat Tinggi (HLED) pertama di Paris, Selasa (2/6/2026). Salah satu agenda utama pertemuan adalah pembahasan rantai pasok mineral kritis dan logam tanah jarang (rare earth) yang semakin dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi tinggi. (FOTO KEMENKEU)

PONTIANAK POST – Pembiayaan pembangunan rantai pasok mineral kritis menjadi salah satu agenda strategis yang dibahas Indonesia dan Prancis dalam Dialog Ekonomi Tingkat Tinggi (High-Level Economic Dialogue/HLED) perdana yang berlangsung di Paris, Selasa (2/6).

Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Juda Agung, mengatakan kedua negara bertukar pandangan mengenai berbagai isu ekonomi global, termasuk kerja sama multilateral dan pengembangan rantai pasok mineral kritis yang berkelanjutan di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku industri teknologi dan energi bersih.

"Indonesia dan Prancis membahas berbagai isu strategis, termasuk pembiayaan pembangunan rantai pasok mineral kritis yang berkelanjutan," kata Juda Agung dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan.

Dialog ekonomi tingkat tinggi pertama Indonesia-Prancis tersebut dipimpin langsung oleh Juda Agung bersama Direktur Jenderal Perbendaharaan Prancis, Bertrand Dumont.

Forum ini menjadi tindak lanjut dari semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara, termasuk setelah kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Prancis pada 28 Mei 2026.

Pembahasan mengenai mineral kritis menjadi perhatian karena komoditas tersebut kini memegang peranan penting dalam transformasi ekonomi global.

Mineral kritis, termasuk logam tanah jarang atau rare earth, menjadi bahan baku utama berbagai produk teknologi tinggi seperti kendaraan listrik, baterai, turbin angin, panel surya, semikonduktor, hingga industri pertahanan.

Di tengah meningkatnya permintaan global, banyak negara mulai berlomba mengamankan pasokan mineral strategis untuk mendukung industri masa depan mereka.

Indonesia memiliki posisi penting dalam rantai pasok tersebut. Selain dikenal sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia juga memiliki potensi mineral kritis dan logam tanah jarang yang dinilai dapat menjadi modal besar dalam pengembangan industri hilir bernilai tambah.

Dalam forum tersebut, Indonesia dan Prancis juga membahas prospek ekonomi kedua negara di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan tata kelola ekonomi internasional, serta peluang kerja sama investasi pada sektor-sektor prioritas.

Prancis turut menawarkan berbagai instrumen pembiayaan ekspor untuk mendukung penguatan hubungan ekonomi kedua negara.

Skema tersebut berpotensi membuka peluang kerja sama yang lebih luas, termasuk pada proyek-proyek pengolahan mineral strategis dan pengembangan industri berbasis teknologi.

Sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama Eropa dan anggota G20, Prancis merupakan mitra penting Indonesia. Saat ini negara tersebut tercatat sebagai investor terbesar kedua dari kawasan Eropa di Indonesia.

Juda Agung menilai hubungan ekonomi kedua negara memiliki prospek yang semakin besar, terutama setelah tercapainya Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa pada September 2025.

Kesepakatan tersebut diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan arus perdagangan serta investasi.

Menurutnya, penguatan kerja sama ekonomi Indonesia-Prancis sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron untuk mempererat kemitraan strategis kedua negara.

Melalui HLED, Indonesia dan Prancis sepakat untuk terus memperkuat pertukaran pandangan dan kerja sama ekonomi.

Kedua negara juga berharap forum ini menjadi platform berkelanjutan yang mampu mendorong pengembangan investasi, perdagangan, serta sektor-sektor strategis seperti mineral kritis yang semakin menentukan arah ekonomi dunia. (ars)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Rare Earth Elements #mineral kritis #indonesia #Ekonomi #Prancis