Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

BEI Yakin Indonesia Tetap Masuk Emerging Market MSCI, Investor Diminta Tak Terpengaruh Rumor

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 4 Juni 2026 | 23:05 WIB
Pegawai berjalan di bawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (5/8/2024).
Pegawai berjalan di bawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

PONTIANAK POST – Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis Indonesia akan tetap mempertahankan status sebagai emerging market dalam tinjauan tahunan MSCI yang akan diumumkan bulan ini. Optimisme tersebut didasarkan pada berbagai reformasi pasar modal yang telah dilakukan serta kinerja fundamental emiten yang dinilai masih kuat.

Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan tidak benar informasi yang beredar bahwa Indonesia telah ditempatkan ke dalam kategori frontier market oleh MSCI. Ia meminta investor untuk selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang beredar sebelum mengambil keputusan investasi.

Menurut Jeffrey, berbagai langkah reformasi yang dilakukan BEI bertujuan meningkatkan transparansi pasar dan memperkuat kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.

“Dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi Indonesia akan tetap di emerging market,” ujarnya di Jakarta, Kamis (5/6), dikutip dari ANTARA.

Ia mengingatkan bahwa keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada rumor yang belum terverifikasi.

“Tentu kami sekali lagi mengimbau agar investor check dan cross check atas informasi yang beredar di pasar sebelum mengambil keputusannya,” katanya.

Di tengah tekanan pasar yang sempat membuat IHSG terkoreksi 3-4 persen, BEI menilai kondisi fundamental perusahaan tercatat masih menunjukkan kinerja positif.

Berdasarkan laporan keuangan per akhir 2025, perusahaan-perusahaan yang tercatat di BEI membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen.

Sementara pada kuartal I 2026, khususnya kelompok saham LQ45, laba bersih tumbuh hampir 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski investor asing masih membukukan aksi jual bersih hampir Rp54 triliun sepanjang 2026, BEI menilai fundamental emiten yang tetap kuat dan kapitalisasi pasar di atas Rp10.700 triliun menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan status sebagai emerging market MSCI.

Menurut Jeffrey, sekitar 80 persen perusahaan tercatat berhasil mencetak laba pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63 persen emiten yang mencatatkan keuntungan. Dalam periode 2021 hingga 2025, angkanya berada pada kisaran 73-76 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa fundamental perusahaan tercatat saat ini berada dalam kondisi yang baik dan dapat menjadi landasan bagi investor dalam mengambil keputusan,” ujarnya.

Status emerging market dalam indeks MSCI memiliki arti penting bagi pasar modal Indonesia karena menjadi salah satu acuan utama investor institusi global dalam menempatkan dana investasi.

Perubahan klasifikasi dapat memengaruhi aliran modal asing, likuiditas pasar, hingga persepsi risiko terhadap suatu negara.

Para investor cemas, jika Indonesia turun ke kategori frontier market, dampaknya bukan sekadar soal reputasi pasar. Dana investasi global yang hanya boleh berinvestasi di emerging market berpotensi melakukan penyesuaian portofolio, sehingga memicu arus keluar modal asing, menekan likuiditas pasar, dan meningkatkan volatilitas IHSG.

Karena itu, hasil Annual Market Classification Review MSCI yang akan diumumkan Juni 2026 menjadi perhatian pelaku pasar.

Sebelumnya, MSCI pada Mei 2026 mengumumkan hasil rebalancing indeks yang mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index.

Saham yang dikeluarkan meliputi AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.

Sementara itu, AMRT masuk ke MSCI Global Small Cap Index bersama sejumlah perubahan lain pada kelompok saham berkapitalisasi kecil.

Meski demikian, BEI menilai perubahan komposisi indeks merupakan proses rutin yang berbeda dengan penentuan status pasar Indonesia dalam klasifikasi MSCI.

Di tengah volatilitas pasar global, BEI menegaskan fokus utama saat ini adalah menjaga kepercayaan investor melalui peningkatan transparansi, kualitas data, dan tata kelola pasar yang lebih baik.

Dengan pertumbuhan laba emiten yang tetap positif dan mayoritas perusahaan masih mencatatkan keuntungan, BEI optimistis Indonesia tetap memiliki fondasi yang kuat untuk mempertahankan statusnya sebagai emerging market dalam indeks MSCI. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#rebalancing MSCI #investor asing #MSCI Emerging Market #Frontier Market #ihsg