PONTIANAK POST – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis dinilai tidak hanya memperkuat hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok mineral kritis dunia. Di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap bahan baku industri teknologi dan energi bersih, kekayaan bauksit serta mineral strategis lainnya menjadi modal penting Indonesia dalam percaturan ekonomi Indo-Pasifik.
Anggota Komisi II DPR Azis Subekti menilai Indonesia kini semakin diperhitungkan karena memiliki kombinasi kekuatan berupa populasi besar, posisi geografis strategis, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan cadangan mineral penting yang dibutuhkan industri masa depan.
“Indonesia tidak lagi berdiri di pinggiran peta. Dengan populasi besar, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, posisi geografis strategis, serta cadangan mineral penting, Indonesia semakin dipandang sebagai negara kunci dalam percaturan Indo-Pasifik,” kata Azis, Kamis (4/6/2026), sebagaimana dilansir dari ANTARA.
Menurut Azis, dunia saat ini sedang memasuki era persaingan baru yang tidak hanya berkaitan dengan perdagangan dan geopolitik, tetapi juga penguasaan teknologi, energi bersih, serta mineral kritis.
Komoditas seperti nikel, tembaga, bauksit, dan logam strategis lainnya kini menjadi rebutan banyak negara karena dibutuhkan untuk memproduksi baterai kendaraan listrik, panel surya, semikonduktor, hingga berbagai perangkat teknologi tinggi.
Bagi Kalimantan Barat, perkembangan tersebut membuka peluang besar. Provinsi ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu sentra produksi bauksit nasional yang menjadi bahan baku utama industri alumina dan aluminium.
Azis menilai nilai ekonomi terbesar tidak lagi berada pada ekspor bahan mentah, melainkan pada kemampuan mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Karena itu, kerja sama Indonesia-Prancis yang mencakup sektor mineral kritis, teknologi, investasi, riset, dan industri strategis dinilai dapat membuka peluang percepatan hilirisasi di dalam negeri.
Menurut dia, sumber daya mineral hanya akan memberikan manfaat maksimal apabila terhubung dengan investasi, transfer teknologi, pengembangan industri, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Nilai penting kunjungan ini bukan hanya pada angka investasi, melainkan pada kemungkinan transfer teknologi, penguatan kapasitas industri nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan peluang Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Indonesia dan Prancis sepakat meningkatkan hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif.
Kerja sama yang dibangun tidak hanya mencakup perdagangan dan investasi, tetapi juga pertahanan, keamanan maritim, energi bersih, pendidikan, inovasi, riset, teknologi, dan mineral kritis.
Azis menilai pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebut Indonesia sebagai mitra strategis utama di Indo-Pasifik menunjukkan perubahan cara pandang dunia terhadap Indonesia.
“Indonesia tidak lagi dilihat semata sebagai pasar besar, tetapi semakin dipandang sebagai salah satu penentu keseimbangan kawasan,” katanya.
Menurut Azis, kekuatan suatu negara pada abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah atau jumlah penduduk, tetapi juga kemampuan menguasai teknologi, menjaga rantai pasok strategis, dan mengembangkan industri berbasis inovasi.
Karena itu, pengelolaan mineral kritis menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan nasional.
Selain mendukung industri kendaraan listrik dan energi baru terbarukan, pengembangan hilirisasi mineral juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan memperkuat daya saing industri nasional.
[Sisipkan pendapat ekonom atau pengamat industri mengenai peluang Kalbar menjadi pusat industri hilir bauksit dan aluminium nasional]
Azis mengingatkan bahwa keberhasilan kerja sama internasional tetap bergantung pada kemampuan Indonesia menerjemahkan komitmen menjadi program konkret di dalam negeri.
Menurut dia, Indonesia harus memastikan kerja sama dengan Prancis benar-benar memperkuat fondasi ekonomi nasional, meningkatkan kemandirian teknologi, dan memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok global.
“Jika kelak Indo-Pasifik benar-benar menjadi pusat gravitasi dunia abad ke-21, lawatan Presiden Prabowo ke Paris dapat dikenang sebagai salah satu momen ketika Indonesia mulai melangkah dari ruang penonton menuju ruang perancang,” ujarnya.
Bagi daerah penghasil sumber daya seperti Kalimantan Barat, momentum tersebut dapat menjadi peluang untuk mengubah kekayaan mineral menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat melalui industrialisasi dan hilirisasi yang berkelanjutan. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro