Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

BRIN Kembangkan Teknologi Hidrogeokimia untuk Lacak Mineral Kritis

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 4 Juni 2026 | 23:23 WIB
Ilustrasi serbuk Skandium
Ilustrasi serbuk Skandium

PONTIANAK POST – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset hidrogeokimia sebagai salah satu teknologi pendukung eksplorasi mineral kritis, logam tanah jarang (LTJ), serta sumber energi panas bumi di Indonesia. Teknologi ini dinilai berpotensi memperkuat upaya pencarian sumber daya strategis yang menjadi fondasi industri masa depan dan transisi energi global.

Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN Iwan Setiawan mengatakan hidrogeokimia merupakan pendekatan geokimia yang digunakan untuk memahami asal-usul, karakteristik, kualitas, dan sistem sumber daya air, baik di permukaan maupun bawah tanah.

Menurut dia, pemanfaatan hidrogeokimia tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air, tetapi juga dapat mendukung eksplorasi sumber daya mineral dan mitigasi geologi.

“Selain itu, riset hidrogeokimia dapat menjadi bentuk mitigasi dan monitoring kelayakan ekosistem dan mitigasi menurunnya kesehatan lingkungan. Misalnya memahami asal muasal unsur dan air dalam ekosistem perairan,” kata Iwan dalam diskusi daring, Rabu (3/6).

Dalam perkembangan ilmu kebumian modern, hidrogeokimia menjadi salah satu metode yang banyak digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan sumber daya mineral yang tersembunyi di bawah permukaan.

Melalui analisis kandungan unsur yang terbawa aliran air tanah, peneliti dapat memperoleh petunjuk mengenai keberadaan mineral tertentu, termasuk komoditas yang kini masuk kategori mineral kritis.

Di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi, metode eksplorasi yang lebih efisien menjadi semakin penting.

Hidrogeokimia dinilai mampu membantu mempercepat identifikasi wilayah prospektif tanpa harus bergantung sepenuhnya pada eksplorasi konvensional yang membutuhkan biaya besar.

Riset hidrogeokimia juga dinilai memiliki potensi mendukung pencarian logam tanah jarang atau rare earth elements (REE), komoditas yang saat ini menjadi perhatian banyak negara karena berperan penting dalam industri teknologi modern.

Logam tanah jarang digunakan dalam berbagai produk seperti baterai kendaraan listrik, magnet permanen, turbin angin, telepon pintar, hingga industri pertahanan.

Menurut para peneliti, kandungan unsur tertentu yang terbawa sistem air bawah tanah dapat menjadi indikator awal keberadaan mineral strategis tersebut.

Selain untuk eksplorasi mineral, BRIN juga memanfaatkan hidrogeokimia dalam pengembangan energi panas bumi.

Iwan menjelaskan pemahaman terhadap karakteristik fluida panas bumi dapat membantu mengidentifikasi potensi sumber energi yang dapat dikembangkan menjadi pembangkit listrik maupun pemanfaatan langsung untuk kebutuhan industri dan masyarakat.

“Riset hidrogeokimia dapat dimanfaatkan untuk percepatan pemanfaatan panas bumi melalui pemahaman karakteristik sistem fluida panas bumi yang berpotensi untuk energi listrik atau pemanfaatan langsung panas bumi,” ujarnya.

Indonesia saat ini merupakan salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia sehingga pengembangan teknologi eksplorasi menjadi faktor penting untuk mempercepat pemanfaatannya.

BRIN juga mengembangkan riset pemanfaatan gas radon dalam berbagai kajian kebumian.

Menurut Iwan, radon merupakan gas radioaktif alami yang dapat dimanfaatkan sebagai indikator untuk memetakan struktur geologi, sistem rekahan batuan, hingga aktivitas geologi yang berkaitan dengan panas bumi.

“Riset mengenai aplikasi radon dapat berpotensi untuk eksplorasi panas bumi terutama memanfaatkan anomali konsentrasi gas radon tinggi yang digunakan untuk pemetaan struktur geologi atau sistem rekahan yang berhubungan dengan sumber panas,” katanya.

Selain eksplorasi energi, anomali gas radon juga dapat digunakan untuk mendukung mitigasi bencana geologi.

Konsentrasi radon yang tinggi pada zona patahan aktif dapat menjadi salah satu indikator aktivitas geologi yang berkaitan dengan gempa tektonik maupun vulkanik.

BRIN berharap pengembangan hidrogeokimia dan teknologi pemantauan geokimia terintegrasi dapat memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Penguasaan teknologi eksplorasi dinilai menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu mengoptimalkan pemanfaatan mineral kritis dan energi strategis untuk mendukung industrialisasi nasional.

Di tengah meningkatnya persaingan global dalam perebutan pasokan mineral dan energi masa depan, kemampuan mendeteksi potensi sumber daya secara lebih cepat, akurat, dan ramah lingkungan dapat menjadi salah satu keunggulan strategis Indonesia dalam memperkuat daya saing nasional. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Logam tanah jarang #Rare Earth Elements #mineral kritis #Hidrogeokimia #Energi terbarukan