PONTIANAK POST - Melemahnya rupiah dan ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam mengelola utang maupun cicilan konsumtif.
Dilansir dari Jawapos, Financial Planner Rista Zwestika mengingatkan bahwa cicilan yang terlalu besar dapat mengurangi fleksibilitas keuangan rumah tangga.
Batasi Beban Cicilan
’’Ketika kondisi ekonomi melemah, risiko pemutusan hubungan kerja, penurunan omzet usaha, atau penghasilan tersendat, bisa meningkat. Karena itu, total cicilan idealnya tidak lebih dari 30 persen dari penghasilan bulanan dan lebih baik diprioritaskan untuk kebutuhan produktif,’’ jelasnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Saatnya Keluarga Melakukan Financial Check-Up
Menurut Rista, penggunaan paylater dan fasilitas kredit sebaiknya dilakukan secara bijak agar tidak menjadi beban ketika kondisi ekonomi memburuk.
Dana Darurat Bukan Lagi Pilihan
Selain mengendalikan cicilan, dana darurat juga menjadi perhatian penting.
Idealnya dana darurat untuk individu lajang sebesar enam kali penghasilan bulanan. Sementara pasangan menikah membutuhkan sembilan kali penghasilan, dan keluarga dengan anak sekitar 12 kali penghasilan bulanan.
Baca Juga: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Menguras Keuangan Keluarga
’’Dalam kondisi seperti sekarang, dana darurat bukan lagi pilihan, tapi sabuk pengaman,’’ ujarnya.
Bagi masyarakat yang belum memiliki dana darurat, Rista menyarankan memulai dari target yang realistis. Dia menyarankan masyarakat mulai dari target kecil lebih dulu, misalnya mengumpulkan Rp5 juta hingga Rp10 juta pertama secara bertahap. (*)
Editor : Chairunnisya