PONTIANAK POST – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh miskonsepsi pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Menurut Purbaya, sebagian analis dan investor menilai defisit APBN berpotensi melampaui batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara program prioritas Presiden Prabowo Subianto seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap membebani keuangan negara.
Selain itu, beredar pula spekulasi mengenai kemungkinan penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional. “Jadi kalau saya pikir ini adalah misconception dari market atau analis yang menganggap kita menjalankan fiskal dengan jelek atau Pak Prabowo menjalankan kebijakan fiskal tidak hati-hati,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Jumat (5/6).
Purbaya menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal. Defisit APBN dipastikan berada di bawah batas 3 persen dari PDB, bahkan pada 2027 ditargetkan berada di kisaran 1,8 hingga 2,4 persen.
Menurutnya, Presiden Prabowo telah mengarahkan seluruh kebijakan fiskal dijalankan secara hati-hati dan terukur. “Kami tahu apa yang kami kerjakan. Memang ada sentimen negatif di pasar yang harus kita perbaiki,” ujarnya.
Ia juga membantah isu memburuknya persepsi lembaga pemeringkat internasional. Saat bertemu langsung dengan Standard & Poor's (S&P), kata Purbaya, pandangan terhadap ekonomi Indonesia justru menunjukkan perbaikan.
Koreksi Terdalam dalam Dua Dekade
Di tengah penjelasan pemerintah tersebut, tekanan di pasar keuangan masih berlanjut. Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan jual bersih sekitar Rp1,27 triliun pada perdagangan Kamis (4/6).
Aksi jual tersebut memperpanjang tren capital outflow yang terjadi sejak awal tahun, seiring pelemahan rupiah dan menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (5/6), IHSG kembali mengalami tekanan berat. Indeks ditutup turun 245,01 poin atau 4,20 persen ke level 5.594,77. Sementara indeks LQ45 melemah 3,99 persen ke posisi 557,75.
Nilai tukar rupiah juga ditutup melemah di level Rp18.049 per dolar AS setelah sebelumnya bergerak di kisaran Rp18.020 per dolar AS. Koreksi yang terjadi saat ini menjadi salah satu yang terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia di luar periode krisis besar.
Dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) 9.174,47 yang tercapai pada Januari 2026, IHSG kini telah kehilangan sekitar 39 persen nilainya.
Sebagai perbandingan, pada 2015 IHSG ditutup di level 4.593,01 atau turun 12,13 persen dibandingkan posisi akhir 2014 sebesar 5.227 poin. Saat itu pelemahan dipicu perlambatan ekonomi China, ancaman kenaikan suku bunga The Fed, serta arus keluar modal asing dari negara berkembang.
Pada krisis finansial global 2008, IHSG bahkan sempat kehilangan lebih dari separuh nilainya dari puncak perdagangan dan memaksa Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara perdagangan. Sementara pada awal pandemi Covid-19 tahun 2020, indeks anjlok sekitar 37 persen hingga menyentuh level 3.937,63.
Meski belum menyamai dampak krisis 1998 maupun 2008, koreksi tahun ini telah menempatkan IHSG dalam tekanan yang setara dengan periode-periode gejolak besar sebelumnya.
Pasar Dibayangi Ketidakpastian Kebijakan
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai tekanan pasar bukan hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga ketidakjelasan sejumlah kebijakan dalam negeri. “Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan rumor pasar yang direspons negatif oleh pasar kembali mendorong tekanan jual pada pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Menurut Ratna, revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menjadi salah satu isu yang memunculkan kekhawatiran mengenai independensi lembaga keuangan.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan melaporkan realisasi APBN hingga Mei 2026 mencatat defisit Rp180,4 triliun atau setara 0,7 persen dari PDB. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat defisit Rp20,9 triliun atau 0,09 persen dari PDB.
Meski demikian, realisasi tersebut masih jauh di bawah target defisit APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.
Ratna menambahkan pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS memunculkan spekulasi bahwa Bank Indonesia akan mengambil langkah tambahan sebelum agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada 17-18 Juni mendatang.
Pada pekan depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting, mulai dari cadangan devisa Mei 2026, indeks keyakinan konsumen, hingga data penjualan ritel. “Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” kata Ratna. (jpc/ars)
Tabel Koreksi Terbesar IHSG*
|
Ranking |
Periode |
Penurunan |
|
1 |
Krisis Moneter 1997-1998 |
±60% |
|
2 |
Krisis Lehman Brothers 2008 |
±53% |
|
3 |
Koreksi 2026** |
±39% |
|
4 |
Pandemi Covid-19 2020 |
±37% |
|
5 |
Krisis Utang Eropa 2011 |
±23% |
|
6 |
Bom Bali 2002 |
±17% |
*) Dari all time high
*) Masih terus berlangsung
Editor : Aristono Edi Kiswantoro