Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Rupiah Tembus Penguatan 0,88 Persen ke Rp17.900, Efek Kenaikan BBM dan Suku Bunga BI Dorong Sentimen Pasar

Basilius Andreas Gas • Rabu, 10 Juni 2026 | 11:37 WIB
Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj/am).
Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj/am).

PONTIANAK POST- Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu pagi tercatat menguat signifikan sebesar 158 poin atau 0,88 persen ke level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.058 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai penguatan rupiah didorong oleh respons pasar terhadap kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang dipandang positif terhadap kondisi fiskal pemerintah.

“Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi dinilai baik (oleh pelaku pasar) terhadap fiskal pemerintah dan risiko sosial politik yang masih terkendali,” ujarnya di Jakarta, Rabu.

Dari sisi kebijakan energi, Pertamina Patra Niaga telah mengumumkan kenaikan harga BBM jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Kebijakan tersebut, menurut perusahaan, dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan mempertimbangkan mekanisme evaluasi berkala yang mengacu pada harga minyak dunia serta kondisi pasar keekonomian.

Sementara itu, harga BBM non-subsidi lainnya tidak mengalami perubahan. Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) Rp24.800 per liter. Adapun BBM bersubsidi Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Rully menyebut sentimen tambahan datang dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen, yang turut menjaga daya tarik investor asing di pasar keuangan domestik.

Meski demikian, ia menilai penguatan rupiah masih dibayangi faktor global, terutama ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang menjaga harga minyak tetap tinggi, serta penantian data inflasi AS yang diperkirakan masih meningkat.

“Faktor global akan memperberat langkah rupiah untuk penguatan lebih jauh, di antaranya risiko geopolitik eskalasi konflik AS dan Iran terbaru membuat harga minyak masih di level yang tinggi dan pelaku pasar masih menunggu data inflasi AS nanti malam yang diperkirakan akan berada pada tren peningkatan,” ungkap Rully.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah selanjutnya berada dalam kisaran Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
#non-subsidi #as #dolar #bbm #rupiah