PONTIANAK POST – Rencana pembangunan Tol Pontianak–Singkawang yang selama bertahun-tahun diharapkan menjadi penggerak konektivitas Kalimantan Barat hingga pertengahan 2026 masih belum memasuki tahap konstruksi.
Proyek strategis sepanjang sekitar 144 kilometer tersebut juga belum terlihat dalam daftar investasi aktif maupun proses tender yang disiapkan pemerintah.
Kondisi ini membuat masyarakat dan pelaku usaha di koridor Pontianak–Mempawah–Singkawang masih harus mengandalkan jalur nasional yang ada saat ini untuk aktivitas mobilitas dan distribusi barang.
Di sisi lain, pemerintah tetap menilai proyek tersebut memiliki prospek jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah Pernah Menyatakan Proyek Ini Layak
Rencana pembangunan jalan tol ini bukan gagasan baru. Kajian pengembangannya telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu sebagai bagian dari penguatan jaringan transportasi Kalimantan Barat.
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR saat itu, Sugiyartanto, bahkan pernah menyatakan bahwa koridor tersebut memiliki potensi yang menjanjikan.
"Ke depan tol Pontianak-Singkawang (akan dibangun), rencana kajian pengembangannya sudah, cukup feasible karena di Singkawang juga akan ada pelabuhan besar," katanya dilansir binamarga.pu.go.id.
Baca Juga: Membayangkan Dari Pontianak ke Brunei Naik Kereta? Prabasa Sebut Tiga Kunci Lompatan Ekonomi Kalbar
Pernyataan tersebut menunjukkan pemerintah pusat pernah menilai proyek ini layak secara teknis dan ekonomi. Keberadaan Pelabuhan Kijing serta posisi Pontianak sebagai pusat ekonomi Kalimantan Barat menjadi faktor utama yang mendukung kelayakan proyek.
Manfaat yang Diharapkan
Jika terealisasi, jalan tol ini diproyeksikan memangkas waktu tempuh Pontianak–Singkawang secara signifikan.
Selain meningkatkan mobilitas masyarakat, proyek tersebut juga diharapkan memperlancar distribusi komoditas unggulan Kalimantan Barat seperti kelapa sawit, karet, hasil perikanan, dan produk pertanian menuju pelabuhan ekspor.
Status Investasi Belum Menunjukkan Perkembangan Signifikan
Meski kajian kelayakan telah dilakukan, hingga kini belum ada tanda-tanda proyek memasuki tahap transaksi investasi.
Pantauan terhadap proyek aktif Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sepanjang 2025–2026 belum menunjukkan adanya market sounding, lelang investasi, maupun pengumuman tender baru untuk ruas Pontianak–Singkawang.
Situasi tersebut mengindikasikan bahwa proyek masih berada pada fase perencanaan dan belum memasuki tahapan yang lazim dilakukan menjelang konstruksi.
Tantangan Utama Ada pada Kelayakan Finansial
Sejumlah pengamat infrastruktur menilai tantangan terbesar proyek ini terletak pada aspek finansial.
Berbeda dengan jalan tol di Pulau Jawa yang memiliki volume lalu lintas tinggi, investor membutuhkan kepastian bahwa investasi bernilai triliunan rupiah dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai.
Sejumlah pakar menilai tantangan terbesar pembangunan jalan tol di luar Pulau Jawa terletak pada ketepatan proyeksi lalu lintas kendaraan dan kepastian tingkat pengembalian investasi proyek dalam jangka panjang.
Baca Juga: Desak Pembangunan Jalur Kereta Api Kalimantan Masuk PSN, DPRD Kalteng Berharap Pemerintah Serius
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS), MM Gibran Sesunan, menilai banyak proyek jalan tol menghadapi persoalan karena asumsi trafik dalam studi kelayakan terlalu optimistis dibandingkan kondisi riil di lapangan.
"Optimisme yang berlebihan membuat proyeksi lalu lintas dalam studi kelayakan tidak sesuai dengan kenyataan. Akibatnya, banyak proyek yang akhirnya merugi dan sulit memenuhi standar pelayanan minimum,” ujar dia kepada Antara, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, tingginya tarif serta belum terintegrasinya sejumlah ruas dengan pusat distribusi logistik membuat volume kendaraan sering kali berada di bawah target awal.
BPJT Sudah Menyusun Studi Kelayakan
Meski belum bergerak ke tahap investasi, pemerintah memastikan kajian awal telah dilakukan.
Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR saat itu, Mohammad Zainal Fatah, pada 2024 menyampaikan bahwa studi kelayakan dan dokumen lingkungan untuk koridor jalan tol di Kalimantan Barat telah disiapkan.
"Kami memastikan bahwa FS dan Amdal untuk Tol Pontianak-Pelabuhan Kijing sudah berjalan," katanya kepada awak media.
Ia juga menegaskan bahwa kajian teknis telah tersedia.
"Sudah ada FS-nya sekitar 90-an km."
Pernyataan tersebut menunjukkan pemerintah masih menyimpan dokumen dasar yang dapat digunakan apabila proyek kembali masuk dalam prioritas pembangunan nasional.
Pelabuhan Kijing Kini Menjadi Fokus Utama
Dalam perkembangan terbaru, perhatian pemerintah daerah dan pusat tampak lebih banyak tertuju pada penguatan akses menuju Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah.
Pada Musrenbang Kalimantan Barat 2026, sejumlah proyek strategis yang mendapat perhatian antara lain konektivitas menuju Pelabuhan Kijing, Outer Ring Road Pontianak, dan pembangunan Jembatan Kapuas III.
Pelabuhan Kijing dinilai memiliki peran penting sebagai gerbang logistik dan ekspor Kalimantan Barat. Karena itu, peningkatan akses menuju kawasan tersebut dianggap lebih mendesak untuk mendukung aktivitas ekonomi daerah.
Aktivitas Pelabuhan Kijing Terus Tumbuh, Kebutuhan Tol Kian Mendesak
Pertumbuhan aktivitas logistik di Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah, menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat urgensi pembangunan konektivitas darat di Kalimantan Barat.
Data PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menunjukkan sepanjang 2025, Terminal Kijing melayani 741 kunjungan kapal, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 643 kapal.
Dari jumlah tersebut, sekitar 74,5 persen merupakan kapal domestik dan 25,5 persen kapal internasional.
Kinerja arus barang juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Sepanjang 2025, Terminal Kijing menangani sekitar 1,5 juta ton curah cair, 2,5 juta ton curah kering, dan 116 ribu ton general cargo.
Untuk aktivitas ekspor, komoditas curah cair berupa minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya mencapai 460.988 ton.
General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Yanto, mengatakan Terminal Kijing kini menjadi pusat penting ekspor Kalimantan Barat, terutama untuk komoditas perkebunan dan industri pengolahan.
"Aktivitas ekspor komoditi curah cair dan curah kering seperti CPO serta produk turunannya dan alumina terus meningkat, dan ini menjadi bukti bahwa Terminal Kijing memiliki peran strategis bagi ekspor Kalbar," sebutnya, dikutip dari situs resmi Pelindo.
Baca Juga: Proyek Kereta Api Trans-Kalimantan 2.772 Km Bakal Jadi Tulang Punggung Konektivitas IKN
Pelindo Pernah Menyatakan Ketertarikan
Dukungan terhadap proyek tol Pontianak-Kijing juga pernah datang dari PT Pelindo Solusi Logistik.
Direktur Utama PT Pelindo Solusi Logistik saat itu, Joko Noerhudha, menyebut pihaknya terus berkomunikasi dengan Kementerian PUPR terkait rencana pembangunan jalan tol tersebut.
"Mungkin saja Pelindo diminta untuk chip in ke sana," katanya dikutip dari bisnis.com.
Menurut Joko, keberadaan jalan tol akan memperkuat konektivitas antara Pelabuhan Pontianak dan Pelabuhan Kijing yang menjadi pelabuhan laut dalam pertama di Kalimantan Barat.
"Tol tersebut bisa mendukung antara Pelabuhan Pontianak eksisting yang lama dengan Pelabuhan Kijing yang baru yang merupakan deep sea port pertama yang ada di Kalimantan Barat untuk memastikan ekspor komoditas dan agrikultur terlaksana dengan baik."
Pernyataan itu menunjukkan bahwa proyek jalan tol tidak hanya dipandang sebagai sarana transportasi, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat rantai logistik ekspor daerah.
Investor Malaysia Juga Pernah Melirik
Minat terhadap proyek ini tidak hanya datang dari dalam negeri.
Pada 2022, rombongan pengusaha dari Kuching, Sarawak, Malaysia, menyampaikan ketertarikan untuk menjajaki peluang investasi di Kalimantan Barat, termasuk pembangunan jalan tol Pontianak–Singkawang.
Berdasarkan laporan Antara, Executive Chairman Maltimur Resources SDN BHD, Junaidi, mengatakan proyek tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi yang besar bagi kedua wilayah.
"Saya melihat peluang kerja sama yang bisa dilakukan dengan Kota Pontianak antara lain membuat jalan tol. Kami berharap penjajakan pembangunan jalan tol itu bisa dikaji lebih dalam terhadap peningkatan ekonomi."
Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut investasi yang diumumkan secara resmi.
Baca Juga: Akhirnya Tender Masterplan Rampung, Kereta Api Kalimantan Masuk Tahap Baru
Warga dan Pelaku Usaha Masih Menunggu Kepastian
Di balik angka investasi dan dokumen perencanaan, proyek Tol Pontianak–Singkawang menyimpan harapan besar masyarakat Kalimantan Barat.
Bagi pelaku usaha, jalan tol diyakini dapat menekan biaya distribusi barang dan mempercepat akses ke pelabuhan. Sementara bagi masyarakat, keberadaan tol berpotensi memangkas waktu perjalanan antarwilayah yang selama ini menjadi jalur utama aktivitas ekonomi dan sosial.
Mukhlis, seorang warga Pontianak mengatakan kondisi lalu lintas dari Pontianak menuju Singkawang atau sebaliknya kini semakin padat, baik kendaraan pribadi, angkutan umum, maupun logistik.
Akibatnya, waktu tempuh yang diperlukan jadi semakin panjang.
“Lalu lintas padat dan sering macet di beberapa lokasi. Apalagi kalau ada jembatan yang sedang diperbaiki. Ke Singkawang yang biasanya cuma tiga jam bisa jadi lima atau enam jam,” ujarnya.
Oleh karena itu, keberadaan jalan alternatif dinilai kian mendesak. “Kalau ada jalan tol, pasti jalan akan lebih lancar.”
Peluang Masih Terbuka
Per Juni 2026, Tol Pontianak–Singkawang masih berstatus rencana jangka panjang dan belum memasuki tahap pembangunan fisik.
Meski investasi belum bergerak, kajian kelayakan yang telah disusun pemerintah, dukungan sejumlah pemangku kepentingan, serta berkembangnya Pelabuhan Kijing menunjukkan peluang proyek ini belum sepenuhnya tertutup.
Apabila pertumbuhan ekonomi, arus logistik, dan volume lalu lintas di Kalimantan Barat terus meningkat, proyek yang telah lama dinantikan masyarakat tersebut masih berpeluang dihidupkan kembali melalui skema investasi baru atau kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).*
Editor : Uray Ronald