Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Peti Kemas Perdana Sandar di Kijing, Kalbar Menanti Dampak Ekonomi Nyata

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 11 Juni 2026 | 21:59 WIB
PELABUHAN KIJING: Aktivitas bongkar muat peti kemas perdana di Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah. Layanan baru tersebut menjadi langkah awal pengoperasian terminal peti kemas yang diharapkan mampu memperkuat posisi Kalimantan Barat sebagai gerbang logistik dan ekspor di kawasan barat Pulau Kalimantan.
PELABUHAN KIJING: Aktivitas bongkar muat peti kemas perdana di Terminal Kijing, Kabupaten Mempawah. Layanan baru tersebut menjadi langkah awal pengoperasian terminal peti kemas yang diharapkan mampu memperkuat posisi Kalimantan Barat sebagai gerbang logistik dan ekspor di kawasan barat Pulau Kalimantan.

PONTIANAK POST – Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah akhirnya resmi melayani aktivitas peti kemas setelah hampir empat tahun sejak diresmikan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Kedatangan kapal pengangkut peti kemas perdana menjadi tonggak baru bagi pelabuhan terbesar di Kalimantan Barat yang diproyeksikan sebagai gerbang logistik dan ekspor internasional di kawasan barat Pulau Kalimantan.

Meski demikian, sejumlah pemangku kepentingan mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan Terminal Kijing bukan sekadar dimulainya layanan peti kemas. Yang lebih penting adalah sejauh mana pelabuhan tersebut mampu menghadirkan dampak ekonomi nyata, meningkatkan ekspor daerah, menciptakan lapangan kerja, dan menambah pendapatan Kalimantan Barat.

Kapal Perdana Bongkar 70 Peti Kemas Kosong

Pelayanan perdana peti kemas dilakukan melalui kedatangan kapal TB Megah 1611/TK MMSS 2711 milik PT Pulau Laut Line yang melayani rute Pasir Gudang–Batam–Kijing–ICA–Kijing–Pasir Gudang.

Pada kunjungan perdananya, kapal tersebut membongkar 70 peti kemas kosong (empty container) di Terminal Kijing. Aktivitas ini menandai dimulainya operasional layanan peti kemas setelah berbagai persiapan infrastruktur, sistem operasional, peralatan, serta aspek regulasi diselesaikan oleh Pelindo Group.

General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Yanto, mengatakan pelayanan perdana tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Terminal Kijing sebagai simpul logistik utama Kalimantan Barat.

“Pelayanan perdana peti kemas di Terminal Kijing merupakan tonggak penting dalam pengembangan pelabuhan modern di Kalimantan Barat. Dengan mulai beroperasinya layanan peti kemas, Terminal Kijing semakin siap mendukung kelancaran arus logistik, meningkatkan daya saing ekspor daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi,” ujarnya.

Fasilitas Dirancang Berstandar Internasional

Terminal Kijing saat ini memiliki dermaga peti kemas sepanjang 750 meter dengan kemampuan melayani kapal hingga 100.000 DWT. Selain itu tersedia dermaga multipurpose, terminal curah cair, curah kering, container yard, reefer area, hingga fasilitas pemeriksaan terpadu.

Data resmi PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) menunjukkan Terminal Kijing dirancang sebagai salah satu pelabuhan laut dalam terbesar di Kalimantan. Pada tahap awal operasional, terminal peti kemas Kijing memiliki kapasitas 500.000 TEUs (twenty-foot equivalent units) per tahun. Kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 1,95 juta TEUs per tahun pada pengembangan tahap akhir. Dengan kapasitas tersebut, Terminal Kijing diproyeksikan menjadi salah satu simpul logistik dan perdagangan internasional terpenting di kawasan barat Pulau Kalimantan.

Selain didukung dermaga peti kemas sepanjang 750 meter dan kemampuan melayani kapal hingga 100.000 DWT, Terminal Kijing juga dilengkapi berbagai fasilitas modern seperti container yard, reefer area, Harbour Mobile Crane (HMC), Reach Stacker, Head Truck, serta Quay Container Crane (QCC). Infrastruktur tersebut disiapkan untuk meningkatkan efisiensi bongkar muat sekaligus memperkuat daya saing ekspor-impor Kalimantan Barat di pasar global.

Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, menyebut keberhasilan pelayanan perdana tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam mempersiapkan Kijing sebagai salah satu simpul logistik strategis nasional.

“Keberhasilan pelayanan perdana ini menunjukkan kesiapan Terminal Kijing untuk melayani peti kemas secara optimal. Kami akan terus berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memberikan nilai tambah bagi pelanggan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

DPR RI Minta Evaluasi Menyeluruh

Di balik optimisme yang muncul, DPR RI menilai Terminal Kijing masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk membuktikan manfaat ekonominya.

Anggota Komisi V DPR RI, Syarif Abdullah Alkadrie, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengembangan pelabuhan tersebut agar investasi besar yang telah digelontorkan benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat Kalimantan Barat.

Menurutnya, sejak awal Kijing dipromosikan sebagai pelabuhan strategis karena lokasinya yang dekat dengan jalur pelayaran internasional. Namun operasional pelabuhan hingga kini dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi.

“Dulu ketika dipaparkan, Pelabuhan Kijing disebut memiliki posisi yang sangat strategis karena dekat dengan jalur pelayaran internasional. Namun sampai sekarang operasionalnya belum maksimal,” ujarnya.

Syarif menilai evaluasi perlu dilakukan terhadap berbagai aspek, mulai dari desain pelabuhan, kapasitas layanan, hingga konektivitas logistik yang menjadi faktor penting keberhasilan pelabuhan internasional.

Harapan Besar untuk Ekonomi Kalimantan Barat

Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menilai operasional penuh Terminal Kijing berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurutnya, selama ini sebagian besar komoditas unggulan Kalimantan Barat, termasuk kelapa sawit dan turunannya, masih diekspor melalui pelabuhan di luar provinsi. Kondisi tersebut membuat aktivitas ekonomi dan pencatatan ekspor lebih banyak dinikmati daerah lain.

“Kalau Pelabuhan Kijing berfungsi optimal, dampaknya akan sangat besar bagi Kalimantan Barat,” katanya.

Krisantus memperkirakan potensi tambahan aktivitas ekonomi dan pendapatan daerah yang dapat tercipta dari optimalisasi Pelabuhan Kijing bisa mencapai sekitar Rp1 triliun.

“Ada potensi yang sangat besar. Kalau dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal, nilainya bisa mencapai sekitar Rp1 triliun,” ujarnya.

Peluang Menjadi Gerbang Ekspor Kalbar

Keberadaan Terminal Kijing diharapkan mampu memangkas biaya logistik, mempercepat arus barang, serta meningkatkan daya saing komoditas unggulan Kalimantan Barat di pasar global.

Jika berjalan optimal, pelabuhan ini tidak hanya menjadi pusat logistik regional, tetapi juga pintu utama ekspor-impor yang mampu menghubungkan Kalimantan Barat dengan pasar internasional secara lebih efisien.

Publik Menunggu Pembuktian

Sorotan terhadap kinerja Terminal Kijing juga datang dari mantan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji. Ia meminta Pelindo terbuka kepada masyarakat mengenai kondisi riil operasional pelabuhan tersebut.

Menurutnya, publik berhak mengetahui tingkat utilisasi pelabuhan, volume bongkar muat, hingga berbagai kendala yang masih dihadapi sehingga pengembangan pelabuhan belum berlangsung sesuai harapan.

“Kijing itu saya melihat Pelindo harus jujur. Menurut mereka ekonomis tidak, menguntungkan tidak? Kalau menguntungkan kenapa sampai sekarang begitu-begitu saja, tidak ada pengembangan. Harus disampaikan kepada masyarakat Kalbar kendalanya apa,” katanya.

Pernyataan tersebut mencerminkan harapan besar masyarakat Kalimantan Barat terhadap proyek strategis nasional yang dibangun dengan investasi triliunan rupiah. Setelah peti kemas perdana berhasil sandar, publik kini menunggu pembuktian apakah Terminal Kijing benar-benar mampu menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi daerah. **

Tabel Data Penting

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#ekonomi kalbar #terminal kijing #Pelindo 2 Pontianak #pelabuhan #Peti Kemas