Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Purbaya Akui Ada Peralihan Konsumen dari Pertamax ke Pertalite, Belum Hitung Dampak ke Subsidi BBM

Uray Ronald • Kamis, 11 Juni 2026 | 22:28 WIB
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa. (DOK BAKOM RI)
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa. (DOK BAKOM RI)

 

PONTIANAK POST — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter berpotensi mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM bersubsidi Pertalite. Namun, pemerintah belum menghitung kemungkinan tambahan beban subsidi energi yang muncul akibat pergeseran konsumsi tersebut.

Purbaya menyampaikan hal itu saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis. Menurutnya, perpindahan konsumen memang mungkin terjadi, tetapi tidak akan berlangsung secara menyeluruh.

"Kami nggak hitung (potensi tambahan anggaran subsidi). Tapi begini, pasti ada beberapa persen yang pindah, cuma kan harusnya nggak semuanya pindah," kata Purbaya dilansir Antara.

Ia menilai sebagian pengguna Pertamax akan tetap bertahan menggunakan bahan bakar dengan angka oktan yang sesuai spesifikasi kendaraan mereka.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena selisih harga antara Pertamax dan Pertalite kini mencapai Rp6.250 per liter. Kondisi itu berpotensi memengaruhi keputusan rumah tangga dan pengguna kendaraan yang tengah menghadapi tekanan biaya hidup.

Berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), konsumsi Pertalite masih mendominasi pasar BBM nasional.

Sepanjang 2025, realisasi penyaluran Pertalite mencapai 28,06 juta kiloliter atau 89,86 persen dari kuota nasional sebesar 31,23 juta kiloliter.

Sementara hingga kuartal pertama 2026, penyaluran Pertalite telah mencapai 6,88 juta kiloliter atau 23,52 persen dari kuota tahunan sebesar 29,27 juta kiloliter.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik, DPR dan Pemerintah Siapkan Stimulus, Migrasi ke Pertalite Diprediksi Meningkat hingga 12 Persen

Data tersebut menunjukkan bahwa setiap potensi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite pascakenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi menjadi perhatian pemerintah karena dapat memengaruhi pola konsumsi BBM bersubsidi dan kebutuhan anggaran ke depan.

Pemerintah Belum Siapkan Tambahan Anggaran Subsidi

Purbaya menegaskan Kementerian Keuangan belum memiliki rencana menghitung tambahan kebutuhan subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat perubahan pola konsumsi BBM masyarakat.

Menurut dia, proyeksi besaran perpindahan pengguna dari Pertamax ke Pertalite merupakan kewenangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Pemerintah masih menunggu perkembangan di lapangan sebelum mengambil langkah fiskal lebih lanjut.

Bagi negara, perubahan konsumsi BBM menjadi perhatian penting karena setiap peningkatan penggunaan bahan bakar bersubsidi berpotensi memengaruhi besaran dana yang harus disiapkan dalam APBN.

Kementerian ESDM: Pergeseran Konsumsi Belum Masif

Kementerian ESDM memastikan hingga saat ini belum terjadi perpindahan besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan pergeseran konsumsi yang terpantau justru berasal dari pengguna Pertamax Turbo yang beralih ke Pertamax.

"Alhamdulillah tidak terlalu besar shifting-nya," ujar Anggia saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Baca Juga: Dampak Pertamax Rp16.250: Kelas Menengah Ramai-Ramai Beralih ke Pertalite, Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Dinilai Bisa Picu Inflasi

Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan konsumsi Pertalite di masa mendatang.

Salah satunya melalui penerapan sistem kode batang atau QR Code untuk pembelian Pertalite serta peningkatan pengawasan distribusi oleh Pertamina.

Langkah ini dilakukan agar subsidi energi benar-benar diterima kelompok masyarakat yang berhak dan tidak terjadi penyalahgunaan di lapangan.

Harga Pertalite Tetap, Pemerintah Klaim Lindungi Kelompok Rentan

Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.

Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar bertahan pada harga Rp6.800 per liter.

Menurut Anggia, kebijakan tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada masyarakat berpenghasilan rendah di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Bagi pekerja harian, pelaku usaha mikro, nelayan, petani, hingga pengemudi transportasi daring, stabilnya harga BBM bersubsidi menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli dan keberlangsungan usaha.

Karena itu, pemerintah menilai perlindungan terhadap kelompok rentan harus tetap menjadi prioritas meskipun harga energi global mengalami tekanan.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Kadin Kalbar Prediksi Biaya Logistik Melonjak

Pertamax dan Pertamax Green Resmi Naik Mulai 10 Juni

Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026.

Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau meningkat Rp3.950 per liter.

Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter atau bertambah Rp4.100 per liter.

Kenaikan tersebut memperlebar jarak harga dengan Pertalite yang masih dipasarkan Rp10.000 per liter.

Selisih harga yang semakin besar diperkirakan akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku konsumen dalam memilih jenis bahan bakar dalam beberapa bulan ke depan.*

Editor : Uray Ronald
#Pertamax naik harga #Pertalite subsidi #subsidi BBM #pertamina patra niaga #Purbaya Yudhi Sadewa