Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pertamax Mahal: Mobil Listrik Berpotensi Makin Diminati, Gaikindo Berharap Pasar Kendaraan Bensin Tidak Tergerus

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 11 Juni 2026 | 22:53 WIB
Salah satu Mobil Listrik milik pelanggan, tengah melakukan pengisian daya kendaraan listrik di SPKLU PLN UP3 Singkawang. Praktis, cepat, dan ramah lingkungan.
Salah satu Mobil Listrik milik pelanggan, tengah melakukan pengisian daya kendaraan listrik di SPKLU PLN UP3 Singkawang. Praktis, cepat, dan ramah lingkungan.

PONTIANAK POST – Kenaikan harga Pertamax memunculkan potensi perubahan perilaku konsumen di sektor transportasi. Sejumlah pengamat industri menilai kondisi tersebut dapat mendorong minat masyarakat beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) maupun bahan bakar yang lebih murah.

Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap tren tersebut tidak sampai menekan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) yang hingga kini masih mendominasi pasar otomotif nasional.

Ketua Gaikindo Jongkie D. Sugiarto mengatakan pihaknya belum melakukan kajian khusus terkait dampak kenaikan harga Pertamax terhadap pasar kendaraan nasional. Namun, peluang meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik dinilai cukup terbuka.

"Kalau bisa ICE tidak turun, tapi BEV-nya yang bertambah," ujar Jongkie, Kamis (11/6/2026).

Kendaraan Listrik Dinilai Bisa Jadi Alternatif

Menurut Jongkie, pertumbuhan kendaraan listrik seharusnya memperluas pasar otomotif Indonesia, bukan menggantikan pasar kendaraan konvensional yang selama ini menjadi tulang punggung industri.

Ia berharap peningkatan penjualan mobil listrik dapat berjalan beriringan dengan tetap terjaganya penjualan kendaraan berbahan bakar bensin.

Pasar kendaraan berbasis mesin pembakaran masih menjadi kontributor terbesar industri otomotif nasional sehingga keberlanjutannya dinilai penting bagi ekosistem industri dan tenaga kerja.

Penjualan Mobil Nasional Masih Tumbuh

Di tengah isu kenaikan harga BBM, industri otomotif nasional sebenarnya masih menunjukkan kinerja positif.

Data Gaikindo mencatat penjualan kendaraan roda empat atau lebih dari pabrik ke dealer (wholesales) pada Mei 2026 mencapai 69.219 unit. Angka tersebut meningkat 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 60.697 unit.

Sementara itu, penjualan ritel dari dealer ke konsumen mencapai 71.890 unit atau naik 16,8 persen dibandingkan Mei 2025 yang sebanyak 61.546 unit.

Secara kumulatif selama Januari–Mei 2026, penjualan wholesales tercatat 359.015 unit atau tumbuh 12,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Penjualan ritel juga meningkat 8,8 persen menjadi 359.490 unit.

Perlambatan Bulanan Tetap Terjadi

Meski tumbuh secara tahunan, pasar otomotif mengalami koreksi secara bulanan.

Penjualan wholesales Mei 2026 turun 14,3 persen dibanding April yang mencapai 80.779 unit. Penjualan ritel juga turun 5,1 persen dari 75.736 unit menjadi 71.890 unit.

Menurut Jongkie, penurunan tersebut lebih dipengaruhi faktor musiman setelah momentum Lebaran dan sejumlah hari libur nasional.

Sebagian Pengendara Beralih ke Pertalite

Di lapangan, dampak kenaikan harga Pertamax mulai terlihat pada pola konsumsi bahan bakar masyarakat.

Pantauan di sejumlah SPBU di Surabaya menunjukkan sebagian konsumen tetap bertahan menggunakan Pertamax meskipun harga naik menjadi Rp16.250 per liter.

Namun, di sejumlah daerah lain, terutama Gresik, terjadi peningkatan permintaan Pertalite yang menyebabkan stok di beberapa SPBU sempat habis.

Penanggung Jawab SPBU 54.611.01 Kebomas, Dani Setiawan, mengatakan stok Pertalite sebanyak 8.000 liter habis dalam sehari akibat lonjakan pembelian.

"Pasca kenaikan BBM nonsubsidi, banyak yang beralih membeli Pertalite," ujarnya.

Kondisi serupa terjadi di SPBU Kecamatan Manyar. Sejumlah konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax memilih beralih ke bahan bakar bersubsidi karena pertimbangan biaya.

Mahasiswa Soroti Dampak Ekonomi

Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga memicu respons dari kalangan mahasiswa.

Mahasiswa Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) menggelar aksi penyampaian aspirasi di Kendari dengan menyoroti potensi kenaikan biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok.

Sementara itu, ratusan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menggelar aksi bertajuk "Tujuh Desakan Darurat Ekonomi".

Mereka menyoroti pelemahan daya beli masyarakat, meningkatnya biaya hidup, hingga perlunya reformasi kebijakan ekonomi yang lebih berpihak kepada rakyat.

Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi

Di tengah gejolak pasar energi global, pemerintah memastikan pasokan minyak nasional tetap aman.

Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengatakan Indonesia kini memperkuat kerja sama energi dengan sejumlah negara Afrika seperti Aljazair, Nigeria, dan Angola.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang saat ini menghadapi risiko akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

"Sejauh ini pasokan masih berjalan baik," ujarnya.

Dampaknya Langsung ke Kehidupan Masyarakat

Bagi sebagian masyarakat, kenaikan harga BBM bukan sekadar persoalan energi.

Perubahan harga bahan bakar berpengaruh langsung terhadap biaya transportasi harian, pengeluaran rumah tangga, hingga aktivitas usaha kecil yang bergantung pada mobilitas.

Karena itu, perkembangan harga BBM dan respons pasar otomotif menjadi perhatian banyak pihak, terutama di tengah upaya menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Fakta Singkat

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#harga pertamax #mobil listrik Indonesia #penjualan mobil 2026 #konsumsi Pertalite #Gaikindo kendaraan listrik