Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemerintah Beri Subsidi Kedelai Rp2.000 per Kg, Pengrajin Tempe Diharapkan Tetap Bertahan

Uray Ronald • Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35 WIB
Ilustrasi - kedelai. (Antara)
Ilustrasi - kedelai. (Antara)

 

PONTIANAK POST - Pemerintah memutuskan memberikan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram untuk membantu pengrajin tempe menghadapi kenaikan harga bahan baku yang dipicu gejolak pasar global.

Kebijakan ini akan disalurkan melalui Perum Bulog dengan alokasi awal sebanyak 250.000 ton kedelai impor.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan langkah tersebut diambil untuk menjaga keberlangsungan produksi tempe nasional sekaligus menahan dampak kenaikan harga kedelai terhadap pelaku usaha kecil dan konsumen.

"Karena terganggu dengan harga yang sudah naik, jadi kita membantu para perajin tempe," kata Budi Santoso di Bogor, Jawa Barat, Jumat (12/6).

Pemerintah Intervensi Harga Kedelai

Keputusan pemberian subsidi merupakan hasil rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan pada Selasa (9/6). Pemerintah menilai lonjakan harga kedelai dunia mulai memberikan tekanan terhadap biaya produksi industri tempe yang selama ini bergantung pada bahan baku impor.

Pada tahap pertama, subsidi akan diberikan untuk sekitar 250.000 ton kedelai impor. Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya produksi sehingga harga tempe di tingkat konsumen tetap terjaga.

Menurut Budi, kenaikan harga kedelai tidak terlepas dari kondisi global yang memengaruhi rantai pasok pangan internasional. Konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan dunia menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga komoditas tersebut.

Baca Juga: Harga Kedelai Merangkak Naik, Pedagang Tahu Goreng Naikkan Harga, Pemerintah Janji Tindak Importir Nakal

"Ini tujuannya adalah untuk meringankan harga yang semakin tinggi karena imbas pasar global, karena perang, sehingga nanti perajin tetap bisa memproduksi tempenya sesuai harga yang ada sekarang," ujarnya dilansir Antara.

Ketergantungan Impor Jadi Tantangan

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah perlu melakukan intervensi karena kebutuhan kedelai nasional masih didominasi produk impor.

Ketergantungan tersebut membuat harga kedelai domestik sangat sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan fluktuasi harga global.

Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir turut meningkatkan biaya impor yang akhirnya dirasakan langsung oleh pelaku usaha tahu dan tempe.

Menurut Zulhas, subsidi Rp2.000 per kilogram menjadi langkah jangka pendek untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mencegah terganggunya produksi pangan berbasis kedelai.

Menjaga Dapur UMKM Tetap Menyala

Bagi ribuan pengrajin tempe di berbagai daerah, kenaikan harga kedelai bukan sekadar persoalan bisnis.

Biaya bahan baku yang terus meningkat berpotensi mengurangi kapasitas produksi, memperkecil ukuran produk, bahkan mengancam keberlangsungan usaha keluarga yang telah dijalankan turun-temurun.

Kebijakan subsidi diharapkan memberi ruang bagi pelaku usaha mikro untuk tetap mempertahankan produksi tanpa harus membebankan seluruh kenaikan biaya kepada konsumen.

Tempe sendiri merupakan salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia yang dikonsumsi lintas kelompok ekonomi. Stabilitas pasokan dan harga tempe dinilai memiliki dampak langsung terhadap ketahanan pangan rumah tangga.

Baca Juga: Purbaya Akui Ada Peralihan Konsumen dari Pertamax ke Pertalite, Belum Hitung Dampak ke Subsidi BBM

Bulog Ditugaskan Salurkan Subsidi

Pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk menyalurkan subsidi kedelai kepada penerima yang memenuhi kriteria. 

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan mekanisme teknis penyaluran masih dimatangkan bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, serta asosiasi pelaku usaha kedelai.

Menurutnya, pembahasan diperlukan agar subsidi dapat disalurkan secara tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal bagi pelaku usaha yang terdampak kenaikan harga bahan baku.

Berdasarkan skema yang sedang disiapkan, kedelai bersubsidi tidak akan dilepas ke pasar umum. Bulog akan menyalurkannya langsung kepada perajin tahu dan tempe sebagai kelompok penerima utama program.

Dengan pola distribusi tersebut, pemerintah berharap harga bahan baku yang diterima pengrajin menjadi lebih rendah sehingga biaya produksi tetap terkendali dan harga produk di tingkat konsumen tidak mengalami kenaikan signifikan

Harga Kedelai dan Produksi Nasional

Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan kedelai nasional. Kondisi tersebut menyebabkan harga kedelai domestik sangat dipengaruhi perubahan harga internasional dan nilai tukar rupiah.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan kebutuhan kedelai nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun.

Sekitar 95 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor, atau setara sekitar 2,6 juta ton, sehingga Indonesia menjadi salah satu negara dengan ketergantungan impor kedelai tertinggi di kawasan. 

Baca Juga: Bahlil Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tidak Naik, Pemerintah Fokus Jaga Daya Beli Masyarakat

Kondisi ini membuat harga kedelai domestik sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Pasar kedelai global menunjukkan tren penguatan sepanjang 2025 hingga 2026. Data International Monetary Fund (IMF) yang dihimpun Macrotrends mencatat harga kedelai mencapai sekitar US$426,60 per ton pada Maret 2026, mencerminkan kenaikan lebih dari 11 persen dibandingkan pertengahan 2025.

Kenaikan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor global, mulai dari ketidakpastian perdagangan internasional, perubahan pola permintaan negara importir utama, hingga risiko gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar sejumlah mata uang terhadap dolar AS, termasuk rupiah, turut memperbesar biaya impor kedelai yang harus ditanggung pelaku usaha di negara-negara pengimpor.

Laporan terbaru pasar kedelai dunia juga menunjukkan bahwa proyeksi peningkatan konsumsi dan pengolahan (crush) kedelai global pada musim 2026/2027 mendorong sentimen kenaikan harga.

Harapan Pengrajin dan Konsumen

Pelaku usaha berharap subsidi dapat segera direalisasikan agar tidak terjadi gangguan produksi maupun kenaikan harga tempe di pasaran.

Di sisi lain, masyarakat menantikan kebijakan tersebut mampu menjaga keterjangkauan salah satu bahan pangan yang menjadi bagian penting dari konsumsi sehari-hari.

Langkah pemerintah ini menjadi upaya jangka pendek untuk meredam dampak gejolak pasar global. Namun dalam jangka panjang, peningkatan produksi kedelai dalam negeri tetap menjadi tantangan utama guna mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional.*

Editor : Uray Ronald
#subsidi kedelai #harga kedelai impor #pengrajin tempe #budi santoso #bulog