PONTIANAK POST – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan pengembangan jaringan kereta api di Kalimantan dipercepat sebagai bagian dari strategi pemerintah memperkuat konektivitas nasional dan meningkatkan efisiensi distribusi komoditas unggulan daerah. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan perkeretaapian sebagai salah satu fondasi pembangunan Indonesia modern.
Pengembangan kereta api di Kalimantan menjadi fokus karena wilayah ini memiliki peran strategis sebagai penghasil berbagai komoditas utama nasional. Kehadiran jaringan kereta logistik diharapkan mampu memangkas biaya angkut, mengurangi ketergantungan pada transportasi jalan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Kalimantan Jadi Prioritas Kereta Logistik
Dudy menjelaskan pengembangan jaringan perkeretaapian nasional dilakukan sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
Jika di Sumatera kereta api diarahkan untuk mendukung mobilitas masyarakat dan angkutan barang, maka di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua pengembangannya difokuskan pada distribusi komoditas unggulan serta penguatan aktivitas ekonomi daerah.
Menurutnya, pembangunan rel kereta tidak sekadar menghadirkan infrastruktur transportasi baru, tetapi juga membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha.
"Pengembangan jaringan perkeretaapian bukan hanya pembangunan infrastruktur, tetapi upaya menghadirkan manfaat nyata melalui aksesibilitas yang lebih baik, biaya logistik yang lebih efisien, dan peluang ekonomi yang semakin terbuka," kata Dudy dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/06/2025), dikutip dari ANTARA.
Peluang Besar bagi Kalimantan Barat
Pengembangan kereta logistik dinilai berpotensi memberikan manfaat besar bagi Kalimantan Barat yang selama ini masih bergantung pada transportasi jalan dan sungai untuk distribusi barang.
Sejumlah kajian yang dimuat Pontianak Post menyebut angkutan berbasis rel dapat meningkatkan efisiensi distribusi, menekan biaya logistik, serta mengurangi tekanan kendaraan bertonase besar terhadap infrastruktur jalan. Selain itu, sistem logistik berbasis kereta memungkinkan pengangkutan komoditas dalam volume besar dengan biaya yang lebih kompetitif dibanding angkutan darat konvensional.
Bagi Kalbar, percepatan pembangunan kereta logistik dipandang dapat memperkuat konektivitas antara kawasan produksi, pelabuhan, kawasan industri, dan pusat distribusi. Dalam sistem logistik modern, kereta api dan truk tidak saling menggantikan, melainkan saling melengkapi, dengan kereta menangani angkutan jarak jauh dan truk melayani distribusi hingga ke tujuan akhir.
Menekan Biaya Logistik Nasional
Pemerintah menilai kereta logistik menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi rantai distribusi barang di Indonesia.
Dengan kapasitas angkut yang besar, moda transportasi berbasis rel dinilai mampu menurunkan biaya logistik sekaligus mengurangi kerusakan jalan akibat tingginya mobilitas kendaraan angkutan berat.
Percepatan pembangunan kereta logistik dinilai penting mengingat biaya logistik Indonesia masih tergolong tinggi. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat biaya logistik nasional masih berada di angka 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 8 persen pada 2045 guna meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Bagi Kalimantan yang mengandalkan distribusi komoditas dalam volume besar, pengembangan kereta logistik berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus mengurangi ketergantungan pada angkutan jalan.
Dukung Distribusi Komoditas Unggulan
Kalimantan merupakan salah satu pusat produksi komoditas strategis nasional seperti kelapa sawit, batu bara, bauksit, dan alumina.
Di tingkat nasional, produksi crude palm oil (CPO) pada 2025 mencapai 51,66 juta ton. Besarnya volume komoditas tersebut menunjukkan kebutuhan sistem logistik yang efisien untuk mendukung distribusi dari daerah penghasil menuju pelabuhan dan kawasan industri.
Keberadaan kereta logistik diyakini dapat mempercepat arus barang sekaligus menekan biaya distribusi yang selama ini menjadi tantangan bagi daerah-daerah penghasil komoditas.
Akademisi: Tingkatkan Daya Saing Produk Kalbar
Pengamat transportasi Universitas Tanjungpura (Untan), Said, menilai pembangunan jalur kereta api di Kalimantan Barat akan memberikan manfaat strategis bagi daya saing komoditas daerah.
Menurutnya, sektor perkebunan dan pertanian berpotensi menjadi penerima manfaat terbesar karena Kalbar merupakan salah satu sentra produksi kelapa sawit, karet, dan lada nasional yang selama ini masih menghadapi biaya logistik cukup tinggi.
Kehadiran kereta api diyakini mampu memangkas biaya dan waktu pengangkutan komoditas menuju pelabuhan ekspor sehingga meningkatkan daya saing produk Kalbar di pasar domestik maupun global.
Selain itu, sektor pertambangan juga berpotensi memperoleh keuntungan karena Kalbar memiliki cadangan bauksit, zirkon, dan emas yang signifikan.
"Kereta api bukan sekadar sarana transportasi, tetapi instrumen peningkatan daya saing ekonomi daerah. Penurunan biaya logistik akan memperkuat efisiensi rantai pasok dan membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru," ujarnya kepada wartawan Pontianak Post.
Jaringan Kereta Nasional Terus Diperluas
Kementerian Perhubungan mencatat jaringan kereta api aktif nasional saat ini telah mencapai 6.927 kilometer yang tersebar di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Papua.
Ke depan, pemerintah menargetkan pengembangan jaringan perkeretaapian hingga mencapai 10.524 kilometer, termasuk jaringan kereta perkotaan yang menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat.
Sejumlah proyek strategis yang tengah didorong pemerintah meliputi pembangunan jaringan Trans Sumatera, pengembangan kereta logistik di Kalimantan, penyelesaian operasional Kereta Api Makassar–Parepare, hingga pengembangan layanan kereta perkotaan di berbagai daerah.
Di Pulau Jawa, pengembangan juga mencakup elektrifikasi jalur serta peningkatan layanan kereta semi cepat dan kereta cepat.
Kepercayaan Masyarakat Terus Meningkat
Kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel juga terus menunjukkan tren positif.
Kementerian Perhubungan mencatat jumlah penumpang kereta api meningkat 8,8 persen, dari 500,5 juta penumpang pada 2024 menjadi hampir 550 juta penumpang pada 2025.
Menurut Dudy, tren tersebut menunjukkan bahwa transportasi berbasis rel semakin menjadi pilihan masyarakat karena menawarkan keamanan, kenyamanan, dan efisiensi waktu perjalanan.
"Peningkatan ini menunjukkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel," katanya.
Bagi Kalimantan, percepatan pengembangan jaringan kereta api diharapkan tidak hanya memperkuat distribusi komoditas unggulan, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru dan mempercepat pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa. (ars)
TABEL INFORMASI PENGEMBANGAN KERETA API KALIMANTAN
| Indikator | Data |
|---|---|
| Fokus Pengembangan | Kereta logistik dan distribusi komoditas unggulan |
| Wilayah Prioritas | Kalimantan, Sulawesi, dan Papua |
| Jaringan KA Aktif Nasional Saat Ini | 6.927 kilometer |
| Target Jaringan Nasional | 10.524 kilometer |
| Biaya Logistik Indonesia | 14,29% terhadap PDB |
| Target Biaya Logistik 2045 | 8% terhadap PDB |
| Kenaikan Penumpang KA 2025 | 8,8 persen |
| Penumpang KA 2024 | 500,5 juta orang |
| Penumpang KA 2025 | Hampir 550 juta orang |
| Komoditas Potensial Kalimantan | Sawit, batu bara, bauksit, alumina |
| Produksi CPO Nasional 2025 | 51,66 juta ton |
| Manfaat Utama | Menekan biaya logistik, mempercepat distribusi, mengurangi beban jalan raya |
Sumber: Kementerian Perhubungan, Kemenko Perekonomian, Pontianak Post.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro