PONTIANAK POST – Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, masuk dalam peta besar hilirisasi mineral strategis nasional. Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi mampu mengolah logam tanah jarang (LTJ) menjadi produk bernilai tambah tinggi untuk mendukung industri teknologi masa depan.
Potensi besar itu berasal dari cadangan LTJ yang ditemukan di sejumlah wilayah Mamuju. Berdasarkan hasil eksplorasi Badan Geologi Kementerian ESDM, kandungan LTJ di beberapa lokasi mencapai 4.571 part per million (ppm), termasuk unsur neodymium yang menjadi bahan baku penting magnet permanen untuk kendaraan listrik, turbin angin, perangkat elektronik canggih, hingga industri pertahanan.
Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, mengatakan pemerintah pusat telah menyiapkan langkah awal pengembangan industri LTJ melalui pembentukan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).
"BUMN baru Perminas rencananya akan menggarap pilot proyek hilirisasi logam tanah jarang di Mamuju," ujar Suhardi Duka pada Rabu (10/06/2026) dilansir dari ANTARA.
Mamuju Punya Keunggulan Geologi
Berbeda dengan banyak daerah lain yang memiliki LTJ sebagai mineral ikutan, Mamuju menyimpan deposit primer yang terkandung dalam batuan vulkanik Formasi Adang.
Karakteristik geologi tersebut dinilai istimewa karena sebagian besar berada dalam tipe Ion Adsorption Clay (IAC) yang terbentuk dari pelapukan batuan beku fonolit leusit. Tipe ini dikenal lebih mudah dan relatif lebih murah diekstraksi dibandingkan jenis deposit LTJ primer lainnya.
Temuan tersebut membuat Mamuju dipandang memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pengembangan industri LTJ nasional.
Tiga Blok Potensial Jadi Sorotan
Penelitian yang dilakukan Badan Geologi mengidentifikasi sedikitnya tiga blok utama yang menyimpan potensi LTJ di Mamuju.
Blok Potensi Logam Tanah Jarang di Mamuju
| Lokasi | Luas Area | Potensi |
|---|---|---|
| Botteng | 1.011 hektare | Sumber daya tereka 122.505 ton |
| Botteng Utara | 3.165 hektare | Potensi LTJ menjanjikan |
| Ahu Pasabu | 1.659 hektare | Potensi LTJ menjanjikan |
Meski demikian, pengembangan LTJ masih berada pada tahap penelitian dan eksplorasi awal. Area yang diteliti sejauh ini baru mencakup sekitar 10 hektare dari keseluruhan kawasan prospektif yang tersebar di sejumlah blok tersebut.
Tantangan Teknologi Masih Didominasi China
Di balik besarnya peluang ekonomi, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penguasaan teknologi pengolahan LTJ.
Saat ini teknologi pemisahan dan pemurnian LTJ masih didominasi China. Bahkan banyak negara maju masih bergantung pada kemampuan teknologi yang dimiliki negara tersebut.
"Teknologi pengolahan LTJ masih banyak dikuasai China. Indonesia belum memiliki teknologi itu," kata Suhardi Duka.
Karena itu, sejumlah perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia masih melakukan penelitian untuk mengembangkan teknologi pengolahan yang sesuai dengan karakteristik LTJ Indonesia.
Peluang Ekonomi Besar di Tengah Lonjakan Permintaan Dunia
Permintaan global terhadap LTJ terus meningkat seiring berkembangnya industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi digital.
Neodymium, salah satu unsur yang ditemukan di Mamuju, menjadi komponen penting dalam pembuatan magnet permanen berkinerja tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik dan turbin angin.
Kondisi tersebut membuat LTJ sering disebut sebagai "emas baru" abad ke-21 karena perannya yang sangat penting dalam persaingan teknologi global.
Fakta Cepat Logam Tanah Jarang Mamuju
| Indikator | Data |
|---|---|
| Kandungan LTJ Tertinggi | 4.571 ppm |
| Jenis Deposit | Ion Adsorption Clay (IAC) |
| Unsur Strategis | Neodymium |
| Kegunaan | Kendaraan listrik, turbin angin, elektronik, pertahanan |
| Pengembang Pilot Project | Perminas |
| Status Saat Ini | Penelitian dan eksplorasi awal |
Kekhawatiran Lingkungan Muncul
Di sisi lain, rencana pengembangan LTJ juga memunculkan kekhawatiran dari kelompok lingkungan.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sulawesi Barat, Asnawi, mengingatkan sebagian kawasan prospek LTJ berada di wilayah yang memiliki fungsi ekologis penting.
Menurut hasil penelusuran awal, kawasan Botteng dan Botteng Utara diduga bersinggungan dengan daerah resapan air, kawasan perbukitan, lahan pertanian masyarakat, serta sumber mata air yang menopang kehidupan warga di Kecamatan Simboro.
"Kami memandang aktivitas seperti pembukaan jalan tambang, pengeboran, pemotongan lereng maupun pembangunan infrastruktur pertambangan berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan, terutama kawasan hulu dan sistem tata air masyarakat," katanya.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena Sulawesi Barat termasuk daerah dengan tingkat risiko bencana yang relatif tinggi berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2025.
Transparansi Jadi Kunci
Suara kehati-hatian juga datang dari kalangan legislatif daerah.
Anggota DPRD Mamuju, Sugianto, meminta pemerintah membuka informasi seluas-luasnya kepada masyarakat sejak awal agar tidak memunculkan spekulasi maupun konflik sosial di kemudian hari.
Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui tujuan pengelolaan LTJ, proses yang akan dilakukan, manfaat ekonomi yang dijanjikan, hingga potensi risiko yang mungkin muncul.
Sementara itu, Kepala Dinas ESDM Sulawesi Barat, Bujaeramy Hassan, menegaskan bahwa aspek lingkungan akan menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan pengembangan industri LTJ.
"Pengembangan industri LTJ wajib memperhatikan keselamatan lingkungan dan masyarakat secara menyeluruh," ujarnya.
Antara Peluang dan Tanggung Jawab
Mamuju kini berada di persimpangan penting. Di satu sisi, cadangan logam tanah jarang membuka peluang besar menjadikan Sulawesi Barat bagian dari rantai pasok industri teknologi global. Di sisi lain, pengelolaan yang tidak hati-hati berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dan sosial.
Keberhasilan proyek hilirisasi LTJ di Mamuju nantinya tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan mineral yang tersimpan di bawah tanah, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat dalam memastikan pengelolaannya berjalan transparan, berbasis ilmu pengetahuan, serta berkelanjutan. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro