Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pertamax Naik, Mengapa Mobil Hybrid Dinilai Jadi Pilihan Paling Rasional? Ini Alasannya

Uray Ronald • Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:56 WIB
Ilustrasi-Mobil hybrid. (Radar Solo)
Ilustrasi-Mobil hybrid. (Radar Solo)

 

PONTIANAK POST - Kenaikan harga Pertamax kembali mendorong masyarakat mencari kendaraan yang lebih hemat dan efisien. Di tengah meningkatnya biaya transportasi rumah tangga, mobil hybrid mulai dilirik karena menawarkan penghematan bahan bakar tanpa mengorbankan kemudahan penggunaan sehari-hari.

Berdasarkan pengamatan di pasar otomotif nasional sepanjang 2025 hingga 2026, pilihan kendaraan yang paling sering dibandingkan konsumen adalah mobil bensin konvensional, mobil hybrid, dan mobil listrik.

Namun, ketika faktor biaya operasional, ketersediaan bengkel, sparepart, harga kendaraan, serta akses pengisian energi diperhitungkan secara bersamaan, mobil hybrid dinilai menjadi titik tengah yang paling realistis.

Harga BBM Meningkat, Daya Beli Rumah Tangga Ikut Tertekan

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama ekonomi Indonesia. Pada triwulan II 2025, konsumsi rumah tangga menyumbang 54,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan pengeluaran rutin, termasuk biaya bahan bakar kendaraan, berpotensi memengaruhi kemampuan belanja masyarakat.

Di sejumlah kota besar, pengguna kendaraan pribadi mengaku pengeluaran bulanan untuk BBM menjadi salah satu komponen yang paling cepat meningkat saat harga Pertamax naik.

Baca Juga: Pemkot Pontianak Kaji Sewa Kendaraan Listrik Usai Harga Pertamax Melonjak, Anggaran Operasional Terancam Membengkak

Sebagaimana diketahui, harga resmi Pertamax (RON 92) di Indonesia Rp16.250 per liter, setelah PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi yang berlaku mulai 10 Juni 2026.

Kenaikan ini membuat harga Pertamax melonjak sekitar 32 persen dari sebelumnya Rp12.300 per liter.

Mobil Bensin Masih Unggul dalam Akses, tetapi Paling Rentan terhadap Kenaikan BBM

Mobil bensin konvensional masih menjadi pilihan utama masyarakat karena harga beli yang relatif lebih terjangkau. Jaringan bengkel dan ketersediaan sparepart juga tersebar luas hingga ke daerah.

Namun, kendaraan berbahan bakar bensin memiliki ketergantungan penuh terhadap BBM. Ketika harga Pertamax naik, biaya operasional ikut meningkat secara langsung.

Bagi pekerja yang menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari, kenaikan harga BBM dapat berdampak signifikan terhadap pengeluaran bulanan keluarga.

Mobil Listrik Paling Hemat Energi, tetapi Infrastruktur Belum Merata

Mobil listrik menawarkan biaya energi yang jauh lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Kendaraan ini juga memiliki biaya perawatan yang relatif lebih murah karena tidak memerlukan penggantian oli mesin maupun komponen pembakaran lainnya.

Pemerintah bersama PT PLN (Persero) terus memperluas infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.

Dalam siaran pers resmi Februari 2026, PLN melaporkan telah mengoperasikan 4.655 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 3.007 lokasi di seluruh Indonesia sepanjang 2025.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 44 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 3.223 unit SPKLU di 2.192 lokasi. Meski demikian, kondisi di lapangan menunjukkan ketersediaan SPKLU masih belum semerata SPBU, terutama di luar Pulau Jawa.

Bagi pengguna yang rutin melakukan perjalanan lintas daerah, perencanaan pengisian daya masih menjadi pertimbangan penting.

Selain itu, perbaikan komponen utama seperti baterai, inverter, dan motor listrik masih banyak bergantung pada jaringan bengkel resmi.

Baca Juga: Pertamax Mahal: Mobil Listrik Berpotensi Makin Diminati, Gaikindo Berharap Pasar Kendaraan Bensin Tidak Tergerus

Mobil Hybrid Menawarkan Keseimbangan antara Hemat dan Praktis

Di tengah dua pilihan tersebut, mobil hybrid menawarkan solusi yang dianggap paling seimbang.

Teknologi hybrid menggabungkan mesin bensin dan motor listrik dalam satu kendaraan. Sistem ini memungkinkan konsumsi BBM lebih efisien dibanding mobil konvensional, terutama saat digunakan di kawasan perkotaan yang padat.

Saat harga Pertamax naik, pengguna hybrid tetap dapat menekan biaya bahan bakar karena sebagian tenaga kendaraan berasal dari motor listrik.

Keunggulan lain yang dirasakan pengguna adalah kemudahan operasional. Mobil hybrid tidak memerlukan pengisian daya eksternal seperti mobil listrik karena baterai akan terisi secara otomatis saat kendaraan digunakan.

Pengguna juga tetap dapat mengandalkan jaringan SPBU yang telah tersedia di seluruh Indonesia.

Dari sisi perawatan, banyak komponen mobil hybrid memiliki kesamaan dengan model bensin konvensional. Hal ini membuat proses servis dan pengadaan sparepart relatif lebih mudah dibanding kendaraan listrik murni.

Pengamat dan praktisi otomotif juga menilai biaya perawatan mobil hybrid tidak selalu lebih mahal dibanding mobil bensin konvensional. Mobil hybrid memang memiliki komponen tambahan berupa baterai dan sistem kelistrikan yang memerlukan perhatian khusus.

Namun, sebagian besar perawatan dasar tetap sama seperti mobil bensin, seperti penggantian oli, coolant, dan pemeriksaan berkala. Kompleksitas perawatan hybrid lebih tinggi karena adanya dua sistem penggerak yang harus dipantau secara bersamaan.

Baca Juga: Purbaya Akui Ada Peralihan Konsumen dari Pertamax ke Pertalite, Belum Hitung Dampak ke Subsidi BBM

Di sisi lain, sejumlah bengkel dan pelaku industri otomotif menyebut biaya servis rutin mobil hybrid umumnya tidak berbeda jauh dengan mobil bensin. 

Servis berkala tetap dilakukan setiap 10.000 kilometer dengan pekerjaan utama berupa penggantian oli, pengecekan rem, serta pemeriksaan sistem kelistrikan.

Bahkan beberapa komponen seperti kampas rem dan busi cenderung lebih awet karena adanya teknologi regenerative braking dan bantuan motor listrik yang mengurangi beban kerja mesin.

Menurut laporan Toyota Astra, biaya servis ringan mobil hybrid berkisar Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta setiap 10.000 kilometer, atau relatif setara dengan mobil bensin di kelas yang sama.

Sementara itu, baterai hybrid yang kerap menjadi kekhawatiran konsumen memiliki usia pakai sekitar 8–10 tahun atau 150.000–200.000 kilometer sehingga tidak termasuk komponen yang rutin diganti.

Untuk mobil listrik murni, biaya perawatan harian umumnya lebih rendah karena tidak memerlukan penggantian oli mesin, busi, filter bahan bakar, maupun komponen sistem pembakaran.

Namun, ketika terjadi kerusakan pada komponen utama seperti baterai traksi, inverter, atau motor listrik, perbaikan biasanya harus dilakukan di bengkel resmi yang memiliki teknisi khusus bertegangan tinggi.

"Kalau melihat kondisi Indonesia saat ini, hybrid menjadi titik tengah yang menarik. Konsumen tetap mendapatkan efisiensi bahan bakar tanpa harus mengubah kebiasaan pengisian energi maupun mencari bengkel khusus seperti pada kendaraan listrik," kata sejumlah pelaku industri otomotif.

Pilihan Terbaik Saat Pertamax Naik?

Jika hanya mempertimbangkan biaya energi, mobil listrik masih menjadi pilihan paling hemat.

Namun jika faktor kemudahan servis, ketersediaan sparepart, akses energi, harga kendaraan, dan fleksibilitas perjalanan jarak jauh ikut diperhitungkan, mobil hybrid menawarkan keseimbangan yang lebih baik.

Bagi banyak keluarga Indonesia, keputusan membeli kendaraan tidak hanya soal teknologi paling modern, tetapi juga tentang kemudahan penggunaan dan kepastian biaya dalam jangka panjang.

Dalam kondisi harga BBM yang terus berfluktuasi, mobil hybrid muncul sebagai pilihan yang mampu menjembatani kebutuhan efisiensi energi tanpa mengorbankan kenyamanan yang selama ini dinikmati pengguna mobil konvensional.*

Editor : Uray Ronald
#harga pertamax naik #kendaraan hemat BBM #biaya operasional mobil #mobil hybrid #mobil listrik