Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Bulog Bidik Harga Premium untuk Ekspor Beras ke Sarawak

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 17 Juni 2026 | 23:21 WIB
Sejumlah karung beras tersusun rapi di Gudang Perum Bulog Wilayah Kalbar, Jalan Adisucipto, Kubu Raya. Perum Bulog Kalbar memastikan stok beras cukup untuk menyambut hari besar keagamaan.
Sejumlah karung beras tersusun rapi di Gudang Perum Bulog Wilayah Kalbar, Jalan Adisucipto, Kubu Raya. (MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST – Rencana ekspor beras Indonesia ke Sarawak, Malaysia, memasuki tahap negosiasi akhir. Perum Bulog memastikan harga ekspor akan dipatok di atas harga eceran tertinggi (HET) domestik sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan pangan regional.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan penetapan harga ekspor dilakukan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar ekspor beras tidak hanya menguntungkan negara, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani.

"Karena sesuai arahan Bapak Presiden kemarin harga yang kita ekspor harus menguntungkan untuk petani, untuk bangsa dan negara kita," kata Rizal di Jakarta, belum lama ini.

Harga Ekspor Diproyeksikan di Atas Rp16 Ribu

Menurut Rizal, harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia berpotensi lebih tinggi dibandingkan penawaran awal yang berada di kisaran Rp16.000 per kilogram.

"Ya, insya Allah seperti itu ya (harga ekspor beras di atas Rp16.000 per kilogram)," ujarnya.

Sebagai perbandingan, harga eceran tertinggi (HET) beras premium yang ditetapkan Badan Pangan Nasional saat ini berada pada kisaran Rp14.900 hingga Rp15.800 per kilogram, tergantung wilayah penjualan.

Selisih harga tersebut menjadi kabar positif bagi petani. Jika ekspor terealisasi dengan harga lebih tinggi, permintaan gabah dan beras nasional berpotensi meningkat sehingga memberikan dampak ekonomi langsung hingga ke tingkat produsen.

Bulog dan Kementan Segera ke Sarawak

Untuk mematangkan rencana ekspor, Bulog bersama tim dari Kementerian Pertanian dijadwalkan melakukan kunjungan ke Sarawak dalam waktu dekat.

Kunjungan tersebut bertujuan memastikan kebutuhan beras Malaysia, volume ekspor yang akan disepakati, serta harga final yang akan digunakan dalam transaksi perdagangan.

"Rencana habis Idul Adha ini dalam waktu dekat kami akan ke Sarawak, insya Allah dengan tim dari Kementerian Pertanian untuk sekaligus memastikan berapa jumlahnya dan berapa harga fiksnya," ujar Rizal.

Selain harga dan volume, kedua pihak juga akan membahas mekanisme pengiriman beras. Opsi yang dibicarakan meliputi skema pelabuhan ke pelabuhan (port to port) maupun pembelian langsung oleh pihak Malaysia di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Nanti kita setelah diskusi di sana. Apakah kita port to port atau mereka langsung beli di kita di Pelabuhan Priok," katanya.

Sarawak Jadi Gerbang Perdagangan Pangan Perbatasan

Pemilihan Sarawak memiliki nilai strategis karena wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Kalimantan. Bagi kawasan perbatasan, perdagangan beras berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi lintas negara sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku usaha logistik, pergudangan, dan distribusi pangan.

Hubungan perdagangan Indonesia dan Malaysia sendiri terus menunjukkan tren positif. Data Kementerian Perdagangan mencatat nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar USD 24,22 miliar pada 2025, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 13,09 miliar.

Sebelumnya, kerja sama pangan lintas batas juga telah terjalin melalui ekspor jagung dari Kalimantan Barat ke Kuching, Sarawak. Keberhasilan ekspor beras nantinya dapat menjadi langkah lanjutan dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok pangan di kawasan.

Stok Beras Nasional dalam Kondisi Aman

Rencana ekspor dilakukan di tengah tingginya cadangan beras pemerintah. Perum Bulog mencatat stok beras nasional mencapai sekitar 5,36 juta ton per akhir Mei 2026, tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan cadangan beras pemerintah.

Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah mulai membuka peluang ekspor tanpa mengganggu kebutuhan domestik. Dengan stok yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki kapasitas untuk memasok pasar luar negeri sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

Dari Swasembada Menuju Pasar Ekspor

Bagi petani, rencana ekspor ke Sarawak memiliki makna lebih dari sekadar transaksi perdagangan. Ekspor menjadi simbol perubahan posisi Indonesia dari negara yang kerap mengimpor beras menjadi negara yang mulai memasok kebutuhan pangan negara lain.

Apabila negosiasi berjalan sesuai rencana, Sarawak dapat menjadi pintu masuk bagi ekspansi beras Indonesia ke pasar Malaysia yang lebih luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan pemerintah, tetapi juga petani yang memperoleh peluang mendapatkan harga jual lebih baik atas hasil panen mereka. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#ekspor beras Sarawak #harga beras ekspor #petani indonesia #bulog #malaysia