PONTIANAK POST — Presiden Prabowo Subianto melanjutkan rapat terbatas bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/6).
Pertemuan tersebut membahas pengembangan mineral tanah jarang (rare earth) dan kesiapan sumber daya manusia Indonesia untuk mendukung sektor strategis tersebut.
Rapat dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritis yang menjadi bahan baku utama industri teknologi tinggi, energi bersih, dan pertahanan.
Pemerintah menilai penguasaan teknologi serta ketersediaan tenaga ahli menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden ingin memperoleh laporan terbaru terkait pengembangan SDM dan kerja sama yang berkaitan dengan teknologi serta mineral kritis.
"Ini berkenaan dengan persiapan pengawakan sumber daya manusia kita yang beberapa sudah berjalan proses-proses pendidikan maupun latihan dan juga update mengenai beberapa kerja sama yang berkaitan dengan teknologi dan mineral kritis atau logam tanah jarang," kata Prasetyo kepada wartawan di Hambalang.
Baca Juga: Dari HP hingga Mesin Cuci, Ini Alasan Logam Tanah Jarang Jadi Material Penting Teknologi Modern
Sebelumnya, Mendiktisaintek, Brian Yulianto menekankan pentingnya penguasaan teknologi dalam pengolahan unsur tanah jarang sebagai bagian dari strategi memperkuat kedaulatan industri nasional.
"Penguasaan teknologi nasional dalam pengolahan unsur tanah jarang (rare earth elements) sangat penting, sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan industri dan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global," katanya dalam Seminar Nasional Logam Tanah Jarang beberapa waktu lalu.
Menurut dia, penguatan riset, inovasi, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, serta pemerintah menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Mengapa Rare Earth Menjadi Perhatian Pemerintah?
Logam tanah jarang atau rare earth merupakan kelompok mineral strategis yang digunakan dalam berbagai industri modern. Material ini menjadi komponen penting dalam pembuatan kendaraan listrik, turbin angin, baterai, semikonduktor, hingga perangkat pertahanan.
Dalam sektor militer, mineral tanah jarang digunakan pada sistem rudal, radar, mesin pesawat tempur, dan berbagai perangkat komunikasi berteknologi tinggi. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, mineral tersebut hadir pada telepon pintar, komputer, satelit, dan berbagai perangkat elektronik lainnya.
Kebutuhan dunia terhadap rare earth terus meningkat seiring percepatan transisi energi dan perkembangan industri digital. Kondisi ini membuka peluang ekonomi besar bagi negara yang memiliki cadangan mineral kritis dan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Fokus pada SDM agar Indonesia Tidak Hanya Menjual Bahan Mentah
Dalam rapat tersebut, perhatian Presiden tidak hanya tertuju pada eksplorasi dan investasi. Pemerintah juga menekankan pentingnya pembangunan kapasitas manusia yang mampu mengelola industri mineral kritis dari hulu hingga hilir.
Pendekatan ini dinilai penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Pengembangan SDM memungkinkan terciptanya lapangan kerja berkualitas, transfer teknologi, serta peningkatan daya saing nasional.
Di lapangan, kebutuhan tenaga ahli geologi, metalurgi, rekayasa material, hingga teknologi manufaktur diperkirakan akan meningkat seiring berkembangnya industri hilirisasi mineral di Indonesia.
Baca Juga: Alasan Di Balik China Mendominasi Logam Tanah Jarang, Apa Peluang Kalimantan ke Depan?
Prabowo Undang Investasi Asing untuk Hilirisasi Mineral Kritis
Sebelumnya, Presiden Prabowo secara terbuka mengundang investor asing untuk terlibat dalam eksplorasi dan pengolahan mineral tanah jarang di Indonesia.
Ajakan tersebut kembali disampaikan saat menerima kunjungan Presiden Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka.
Menurut Prabowo, Indonesia dan Jerman memiliki peluang besar untuk memperkuat kerja sama investasi di sektor-sektor masa depan yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
"Kami juga mengundang Jerman untuk ikut serta dalam rantai pasok mineral kritis dan tanah jarang, juga dalam pengembangan infrastruktur kita," ujar Presiden Prabowo.
Selain mineral kritis, pemerintah juga menawarkan peluang kerja sama pada sektor transisi energi, kendaraan listrik, semikonduktor, dan pengembangan infrastruktur industri.
Presiden menilai keterlibatan mitra strategis internasional dapat mempercepat transformasi ekonomi Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam yang dimiliki.
Kalimantan Barat Berpeluang Menjadi Pusat Industri Rare Earth Nasional
Bagi Kalimantan Barat, agenda pengembangan mineral tanah jarang yang dibahas Presiden Prabowo membuka peluang ekonomi yang sangat besar.
Provinsi ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia, dan berbagai penelitian menunjukkan keberadaan unsur tanah jarang yang terkandung dalam mineral ikutan maupun residu pengolahan bauksit.
Potensi tersebut semakin mendapat perhatian pemerintah pusat. Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto sebelumnya mengungkapkan bahwa Kalimantan termasuk salah satu wilayah yang masuk dalam delapan blok sumber utama mineral tanah jarang yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Sejumlah kajian BRIN dan lembaga penelitian sebelumnya juga menemukan indikasi keberadaan mineral pembawa rare earth seperti monasit, xenotim, dan zirkon di beberapa wilayah Kalimantan Barat, terutama di Kabupaten Ketapang dan kawasan geologi lainnya yang memiliki keterkaitan dengan endapan granit serta mineral berat.
Jika program hilirisasi mineral kritis berjalan sesuai rencana pemerintah, Kalimantan Barat berpotensi memperoleh berbagai manfaat strategis, antara lain:
- Meningkatnya investasi pada sektor pengolahan mineral bernilai tambah tinggi.
- Terciptanya lapangan kerja baru bagi lulusan teknik pertambangan, metalurgi, geologi, kimia, dan teknologi material.
- Berkembangnya pusat riset dan inovasi mineral kritis yang melibatkan perguruan tinggi di Kalimantan Barat.
- Bertambahnya penerimaan daerah melalui aktivitas industri hilir dibanding hanya mengekspor bahan mentah.
- Tumbuhnya industri pendukung seperti logistik, energi, manufaktur komponen elektronik, dan teknologi kendaraan listrik.
Dari perspektif kemanusiaan, peluang terbesar bukan hanya terletak pada nilai mineralnya, tetapi pada kemampuan daerah mengubah kekayaan alam menjadi kesejahteraan masyarakat.
Hilirisasi yang disertai pendidikan, pelatihan tenaga kerja lokal, serta perlindungan lingkungan dapat menjadikan Kalimantan Barat bukan sekadar daerah penghasil bahan tambang, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis teknologi tinggi di Indonesia. *
Editor : Uray Ronald