Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

G7 Kurangi Ketergantungan pada China, Peluang Mineral Kritis dan Logam Tanah Jarang Indonesia Kian Besar

Aristono Edi Kiswantoro • Sabtu, 20 Juni 2026 | 00:09 WIB
Ilustrasi mineral tanah jarang Skandium dari limbah bauksit yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak di Kalimantan Barat. (Gemini AI)
Ilustrasi mineral tanah jarang Skandium dari limbah bauksit yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak di Kalimantan Barat. (Gemini AI)

PONTIANAK POST – Rencana negara-negara anggota G7 untuk mengurangi ketergantungan terhadap China dalam rantai pasok mineral kritis berpotensi membuka peluang baru bagi Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar dunia. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi negara-negara maju untuk mengamankan pasokan bahan baku yang dibutuhkan industri kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi digital.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7, para pemimpin negara anggota meluncurkan Aliansi Ketahanan dan Produksi Mineral Kritis yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada satu pemasok dominan, khususnya dalam komoditas tanah jarang, litium, nikel, dan mineral strategis lainnya.

China Kritik Kebijakan G7

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan Beijing tetap berkomitmen menjaga stabilitas rantai pasok global mineral penting.

"Mengenai menjaga keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan global mineral penting, posisi China tidak berubah," kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing.

China juga mendesak negara-negara G7 menghormati prinsip ekonomi pasar dan aturan perdagangan internasional. Menurut Beijing, pembatasan perdagangan dan kebijakan yang dianggap diskriminatif berpotensi mengganggu stabilitas rantai pasok global.

Indonesia Berpotensi Diuntungkan

Di tengah rivalitas ekonomi tersebut, Indonesia berada dalam posisi strategis. Negara ini merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia yang menjadi bahan utama pembuatan baterai kendaraan listrik.

Selain Indonesia, Australia menjadi pemasok utama litium, Chile penghasil tembaga, dan Republik Demokratik Kongo penghasil kobalt. Namun selama ini sebagian besar hasil tambang tersebut masih bergantung pada fasilitas pemurnian di China sebelum masuk ke pasar global.

Kondisi itu membuat negara-negara Barat mulai mencari sumber pasokan alternatif sekaligus memperkuat kerja sama dengan negara penghasil bahan baku.

Indonesia berada pada posisi strategis dalam peta mineral kritis dunia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesia kini memasok sekitar 65 persen kebutuhan nikel dunia, menjadikannya pemain dominan dalam rantai pasok global untuk industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik. Dominasi tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang berpotensi diuntungkan ketika negara-negara G7 berupaya mendiversifikasi sumber pasokan mineral kritis di luar China.

Dari sisi investasi, kebijakan hilirisasi terus menunjukkan peningkatan signifikan. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun, naik 43,3 persen dibanding tahun sebelumnya dan menyumbang sekitar 30,2 persen dari total investasi nasional. Sektor mineral menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi sekitar Rp373,1 triliun, di mana komoditas nikel mendominasi sebesar Rp185,2 triliun.

Data International Nickel Study Group (INSG) menunjukkan Indonesia menyumbang sekitar 63,4 persen produksi tambang nikel global pada 2025, menegaskan peran sentral Indonesia dalam transisi energi dunia dan industri kendaraan listrik. Kondisi ini membuat kebijakan perdagangan mineral negara-negara besar berpotensi berdampak langsung terhadap investasi dan industri pengolahan mineral di dalam negeri.

Bagi daerah penghasil sumber daya alam seperti Kalimantan Barat yang memiliki cadangan bauksit dan tengah mendorong hilirisasi mineral, perubahan strategi rantai pasok global tersebut dapat membuka peluang investasi baru sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tambang di dalam negeri.

Nikel Jadi Komoditas Strategis Transisi Energi

Aliansi baru G7 menargetkan ketergantungan terhadap satu pemasok unsur tanah jarang dan magnet permanen turun menjadi di bawah 60 persen pada 2030, dengan target jangka panjang mencapai 50 persen.

Program tersebut akan diawali pada komoditas litium dan nikel sebelum diperluas ke mineral kritis lainnya.

Langkah tersebut menunjukkan meningkatnya persaingan global untuk menguasai rantai pasok bahan baku energi hijau. Permintaan nikel diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik dan penyimpanan energi.

Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Bagi Indonesia, perubahan peta perdagangan mineral dunia dapat membuka peluang investasi baru di sektor hilirisasi dan pemurnian mineral. Namun, peluang tersebut juga menuntut peningkatan kapasitas industri pengolahan dalam negeri agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.

Dengan cadangan nikel yang besar dan kebijakan hilirisasi yang terus diperkuat pemerintah, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemain utama dalam rantai pasok energi bersih global di tengah persaingan antara China dan negara-negara Barat. (ars)

Fakta Penting

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#mineral kritis dunia #hilirisasi nikel Indonesia #rantai pasok baterai listrik #G7 dan China #investasi industri mineral