PONTIANAK POST – Bauksit menjadi salah satu komoditas strategis yang membuat Indonesia membuka peluang investasi senilai 121 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp1.970 triliun untuk membangun ekosistem manufaktur baterai kendaraan listrik nasional. Pemerintah menargetkan Indonesia masuk lima besar produsen baterai kendaraan listrik dunia pada 2045.
Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Hilirisasi dan Investasi/BKPM Ahmad Faisal Suralaga mengatakan Indonesia memiliki keunggulan karena menguasai empat dari enam bahan utama pembuatan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), yakni nikel, bauksit, mangan, dan tembaga.
“Enam bahan utama untuk membuat baterai EV, empat dari mereka berada di Indonesia. Kita memiliki nikel, bauksit, mangan, dan kita memiliki tembaga, yang merupakan material penting dalam jaringan supply baterai EV,” kata Ahmad dalam Korea-Indonesia Economic Partnership Forum di Jakarta, Rabu (24/6).
Bauksit Jadi Fondasi Hilirisasi Mineral
Menurut Ahmad, ketersediaan sumber daya mineral tersebut menjadi fondasi kuat bagi Indonesia untuk mengembangkan industri pengolahan mineral, manufaktur baterai, hingga kendaraan listrik.
Selain menjadi produsen nikel terbesar dunia dengan penguasaan sekitar 42 persen sumber daya global, Indonesia juga memiliki cadangan bauksit yang besar dan tersebar di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Barat.
Data terbaru Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya bijih bauksit sebesar 7,48 miliar ton dengan cadangan mencapai 2,78 miliar ton berdasarkan neraca sumber daya mineral 2023. Dengan jumlah tersebut, Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan bauksit terbesar keempat di dunia dan menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik global.
Kalimantan Barat menjadi daerah dengan kontribusi terbesar terhadap cadangan bauksit nasional. Kajian Kementerian ESDM mencatat provinsi ini memiliki sumber daya bauksit sekitar 2,07 miliar ton atau setara 57,3 persen sumber daya nasional serta cadangan sekitar 840 juta ton, yang mencapai 66,8 persen dari total cadangan nasional. Besarnya potensi tersebut menjadikan Kalbar sebagai pusat pengembangan industri hilirisasi alumina dan aluminium nasional.
Penelitian terbaru dari Buletin Sumber Daya Geologi Universitas Tanjungpura juga menyebut Kalimantan Barat masih menjadi provinsi dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia, yakni sekitar 850 juta ton dari total 1,26 miliar ton cadangan nasional berdasarkan data Direktorat Jenderal Minerba. Potensi tersebut tersebar di sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Ketapang, Sanggau, Mempawah, Landak, dan Sanggau.
Hilirisasi Bisa Lipatgandakan Nilai Tambah
Ahmad mengatakan hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral. Sebagai contoh, nilai tambah nikel dapat meningkat hingga 67 kali lipat apabila diolah menjadi baterai kendaraan listrik.
Pemerintah saat ini memfokuskan investasi pada pembangunan smelter lanjutan, industri prekursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai kendaraan listrik.
“Pada tahun 2045, Indonesia berniat untuk menjadi salah satu dari lima produsen baterai EV di dunia,” ujarnya.
Potensi Investasi Capai Rp10 Ribu Triliun
Melalui strategi hilirisasi, pemerintah memperkirakan total investasi yang dapat tercipta mencapai 618 miliar dolar AS atau sekitar Rp10 ribu triliun.
Selain itu, nilai ekspor diproyeksikan bertambah hingga 857 miliar dolar AS dan mampu menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja.
Menurut Ahmad, integrasi industri dari hulu hingga hilir menjadi keunggulan Indonesia karena dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing di pasar global.
Kalbar Berpeluang Menjadi Pemain Penting
Keberadaan cadangan bauksit yang besar menjadikan Kalimantan Barat berpotensi memainkan peran penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik nasional.
Hilirisasi bauksit dinilai bukan hanya membuka peluang investasi, tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam yang selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah.
Kalimantan Barat menjadi pusat hilirisasi bauksit nasional. Proyek yang telah beroperasi adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Kabupaten Mempawah. Fasilitas yang merupakan kerja sama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) itu memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun dan membutuhkan sekitar 3,3 juta ton bijih bauksit per tahun sebagai bahan baku. Proyek senilai sekitar 941 juta dolar AS tersebut mulai beroperasi pada 2024 dan menjadi mata rantai penting industri aluminium nasional.
Pemerintah juga menyiapkan pengembangan SGAR Fase II di Mempawah dengan tambahan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun serta pembangunan smelter aluminium terintegrasi berkapasitas 600 ribu ton per tahun. Proyek hilirisasi bauksit-aluminium di Mempawah tersebut masuk dalam daftar proyek strategis hilirisasi nasional dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp60 triliun dan potensi penyerapan tenaga kerja sekitar 14.700 orang.
Selain proyek yang telah berjalan, Kementerian ESDM mencatat masih terdapat sejumlah proyek smelter bauksit yang progres pembangunannya belum optimal. Dari tujuh proyek smelter bauksit yang masih terkendala secara nasional, enam di antaranya berada di Kalimantan Barat. Kondisi ini menunjukkan Kalbar tetap menjadi episentrum pengembangan industri hilir bauksit, sekaligus menghadapi tantangan dalam pendanaan dan realisasi investasi.
Cadangan Bauksit Indonesia
- Sumber daya: 7,48 miliar ton
- Cadangan: 2,78 miliar ton
- Peringkat dunia: Ke-4 terbesar
Kontribusi Kalimantan Barat
- Sumber daya: 2,07 miliar ton
- Cadangan: 840 juta ton
- Porsi cadangan nasional: 66,8 persen
Daerah penghasil utama di Kalbar
- Ketapang
- Mempawah
- Sanggau
- Landak
- Sekadau
Investasi Masih Didominasi Sektor Mineral
Ahmad mengungkapkan investasi hilirisasi di Indonesia masih didominasi sektor mineral dengan nilai sekitar Rp98,3 triliun. Sektor perkebunan dan kehutanan berada di posisi kedua dengan nilai Rp29,8 triliun, disusul minyak dan gas Rp17,6 triliun serta sektor kelautan sekitar Rp1,7 triliun.
Pemerintah berharap strategi hilirisasi mampu mendorong Indonesia naik kelas dari eksportir bahan mentah menjadi pusat industri baterai kendaraan listrik dunia. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro