PONTIANAK POST - Sebanyak 12 ton biji kakao fermentasi premium dari Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, resmi dikirim ke industri pengolahan pangan di Bandung, Jawa Barat, membuka peluang peningkatan pendapatan bagi ribuan petani yang selama ini bergantung pada penjualan biji kakao mentah.
Pengiriman perdana tersebut dilepas Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di halaman Kantor Bupati Kutai Timur pada 17 Juni 2026, sebagaimana dilaporkan ANTARA.
Biji kakao fermentasi yang dikirim memiliki nilai jual Rp38 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram atau sekitar 35-40 persen lebih tinggi dibandingkan biji kakao kering biasa yang selama ini dipasarkan petani.
Fermentasi Tingkatkan Nilai Jual Petani
Keberhasilan ini menjadi tonggak penting bagi upaya diversifikasi ekonomi Kutai Timur yang selama puluhan tahun dikenal sebagai daerah penghasil batu bara dan kelapa sawit.
Baca Juga: Mentan Amran Dorong Hilirisasi Kakao, Lima Varietas Unggul Baru Siap Tingkatkan Pendapatan Petani
Kecamatan Karangan selama ini merupakan salah satu sentra kakao terbesar di Kutai Timur dengan ribuan keluarga menggantungkan hidup dari komoditas tersebut.
Namun, sebagian besar hasil panen sebelumnya hanya dijual dalam bentuk biji kering tanpa pengolahan lanjutan sehingga nilainya relatif rendah dan sangat dipengaruhi fluktuasi pasar.
Camat Karangan Muhammad Reza Pahlevi mengatakan perubahan mulai terjadi setelah petani mendapat pendampingan mengenai teknik fermentasi kakao dalam dua tahun terakhir.
"Awalnya banyak yang ragu, takut bijinya rusak atau tidak laku. Namun begitu mereka melihat hasilnya, rasanya berbeda dan harganya lebih baik, semangat mereka tumbuh sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Jejak Van Houten, Penemu Cokelat Bubuk yang Mengubah Cara Dunia Menikmati Kakao
Melalui proses fermentasi, biji kakao menghasilkan aroma dan cita rasa yang lebih baik sehingga diminati industri makanan dan minuman.
Industri Beri Kepastian Pasar
Keberhasilan menembus pasar Jawa Barat menjadi bukti bahwa mutu kakao Karangan telah memenuhi standar industri nasional.
Kepala Dinas Perkebunan Kutai Timur Arief Nur Wahyuni mengatakan kemitraan dengan industri memberikan kepastian pasar sekaligus harga yang lebih menguntungkan bagi petani.
"Dengan adanya kemitraan ini, petani tidak lagi bingung mencari pembeli. Harga belinya pun lebih menguntungkan karena sudah melalui proses pengolahan awal," katanya.
Baca Juga: Gubernur Kalbar Dorong HKTI Perkuat Ketahanan Pangan dan Produktivitas Pertanian
Pemerintah daerah bersama kelompok tani menargetkan peningkatan volume pengiriman menjadi 25 hingga 30 ton per bulan mulai semester kedua 2026.
Peningkatan produksi tersebut diharapkan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat desa yang terlibat dalam rantai pasok kakao.
Kurangi Ketergantungan pada Tambang
Pengembangan kakao fermentasi menjadi bagian dari strategi Kutai Timur untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi daerah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kalimantan Timur Puguh Harjanto menilai langkah Kutai Timur dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Baca Juga: DPR RI Setujui Penguatan Anggaran Kementan 2027 untuk Modernisasi dan Produksi Pertanian Nasional
Menurutnya, pengolahan komoditas unggulan hingga memiliki nilai tambah menjadi kunci menciptakan ekonomi yang lebih kuat dan tahan terhadap gejolak pasar.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur juga berencana memperluas pendampingan petani, meningkatkan kapasitas pengolahan, dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk kakao lokal.
Selain menjual biji fermentasi, pemerintah daerah mulai mendorong pengembangan produk hilir seperti bubuk cokelat, cokelat batangan, dan berbagai produk olahan lainnya agar nilai tambah yang dinikmati masyarakat semakin besar.
Keberhasilan pengiriman perdana ini menunjukkan bahwa sektor perkebunan rakyat mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang kerja bagi generasi muda di pedesaan. (*)
Editor : Efprizan