Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Indonesia Bidik Hilirisasi Logam Tanah Jarang Skala Komersial pada 2028, BRIN Gandeng Universiti Teknologi Petronas

Khoiril Arif Ya'qob • Jumat, 26 Juni 2026 | 15:37 WIB
Logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah salah satu mineral yang tersebar di permukaan bumi. Permukaan bumi di zaman dahulu telah berubah seiring berjalannya waktu. (DUNIA ENERGI)
Logam tanah jarang atau unsur logam langka adalah salah satu mineral yang tersebar di permukaan bumi. Permukaan bumi di zaman dahulu telah berubah seiring berjalannya waktu. (DUNIA ENERGI)

PONTIANAK POST - Dua institusi riset lintas negara kini menyatukan keahlian untuk mewujudkan ambisi besar Indonesia. Menjadikan Logam Tanah Jarang (LTJ) sebagai komoditas industri unggulan yang diolah di dalam negeri, bukan sekadar diekspor mentah.

Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar technical visit and strategic collaboration meeting di fasilitas Pilot Plant Plutho, Kawasan Sains dan Teknologi GA Siwabessy, Pasar Jumat, Jakarta, Selasa (23/6).

Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan seremonial di baliknya ada peta jalan konkret menuju hilirisasi LTJ nasional yang ditargetkan menembus skala komersial pada 2028.

Baca Juga: Italia Bangun Pabrik Daur Ulang Logam Tanah Jarang Pertama Uni Eropa

Dua Keahlian, Satu Tujuan

Berdasarkan keterangan pada laman BRIN (24/6), kolaborasi ini mempertemukan dua kekuatan yang saling melengkapi.

BRIN membawa keahlian hidrometalurgi proses pengolahan mineral menggunakan larutan kimia yang telah dimatangkan bertahun-tahun di Pilot Plant Plutho.

Sementara UTP datang membawa inovasi teknologi hijau. Teknik pemisahan fisik dan membran yang meminimalkan penggunaan bahan kimia dalam proses produksi.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN, Kurnia Setiawan Widana, menegaskan bahwa keterlibatan mitra akademis seperti UTP bukan pelengkap, melainkan komponen krusial dalam mempercepat kesiapan industri.

Baca Juga: Percepat Hilirisasi Logam Tanah Jarang Nasional, BRIN Gandeng Universiti Teknologi Petronas

“Kolaborasi dengan institusi akademis seperti UTP sangat krusial, terutama untuk memperkuat basis riset melalui keterlibatan akademisi dan mahasiswa,” ujarnya.

Apa yang Diolah di Pilot Plant Plutho

Fasilitas Pilot Plant Plutho yang beroperasi sejak 2017 menjadi jantung dari kolaborasi ini.

Infrastruktur riset strategis ini berfungsi menjembatani hasil riset skala laboratorium menuju skala industri tahap yang kerap menjadi titik buntu dalam banyak proyek hilirisasi.

Peneliti PRTBNLR BRIN, Riesna Prassanti, menjelaskan bahwa fasilitas ini memiliki kapasitas input 50 kilogram monasit per batch, monasit asal Bangka yang dikenal memiliki kandungan LTJ tinggi.

“Kandungan monasit terdiri dari sekitar 25% fosfat, 60% LTJ, serta unsur torium dan uranium,” jelas Riesna.

Proses pengolahannya menggunakan metode basa dengan natrium hidroksida untuk memisahkan fosfat dari monasit.

Setelah melewati tahapan dekomposisi, filtrasi, dan pengendapan menggunakan amonium hidroksida, fasilitas ini menghasilkan produk akhir berupa hidroksida logam tanah jarang yang bebas dari unsur radioaktif.

Baca Juga: Prabowo Rapat Khusus soal Logam Tanah Jarang di Hambalang, Apa yang Sedang Disiapkan Indonesia?

Produk itu kemudian dimurnikan lebih lanjut di fasilitas BRIN di Yogyakarta menjadi elemen individu (lantanum, serium, dan neodymium) dengan tingkat kemurnian mencapai 99%.

Target akhirnya jelas yaitu menghasilkan produk Mixed Rare Earth (MRE) yang bebas radioaktif dan siap masuk rantai pasok industri global.

Hijau Sekaligus Kompetitif

Salah satu isu terbesar dalam pengolahan LTJ secara konvensional adalah jejak lingkungan yang berat, penggunaan bahan kimia dalam jumlah besar dan pengelolaan limbah radioaktif yang kompleks. Di sinilah kontribusi UTP menjadi sangat relevan.

Universiti Teknologi Petronas menekankan pentingnya mengintegrasikan teknologi pemisahan fisik dan membran dalam proses yang selama ini masih bertumpu pada jalur kimia konvensional.

Baca Juga: G7 Kurangi Ketergantungan pada China, Peluang Mineral Kritis dan Logam Tanah Jarang Indonesia Kian Besar

Pendekatan ini bukan hanya lebih ramah lingkungan, tapi juga berpotensi menekan biaya produksi jangka panjang, dua syarat utama agar industri LTJ Indonesia bisa bersaing di pasar global.

Kurnia menambahkan bahwa BRIN saat ini tengah melakukan revitalisasi dan modifikasi proses di Pilot Plant Plutho guna meningkatkan performa fasilitas agar siap memasuki tahap demo industri. Kolaborasi dengan UTP diharapkan mempercepat proses itu.

Lebih dari Sekadar Riset Bersama

Di balik pertemuan teknis ini tersimpan kepentingan strategis yang lebih besar. LTJ adalah bahan baku esensial dalam teknologi modern dari baterai kendaraan listrik, panel surya, hingga perangkat pertahanan.

Negara yang menguasai rantai pasoknya memegang posisi tawar yang sangat kuat di era transisi energi global.

Indonesia memiliki cadangan monasit yang signifikan, khususnya di Bangka Belitung. Namun selama ini potensi itu belum dikonversi menjadi nilai tambah industri yang nyata. Sinergi BRIN dan UTP adalah salah satu upaya konkret untuk mengubah itu.

Baca Juga: Mamuju Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang, Gubernur Sulbar: Masih Tahap Penelitian

Dengan dukungan badan usaha milik negara di sektor mineral strategis, teknologi yang tengah dimatangkan di Pilot Plant Plutho ditargetkan menjadi fondasi utama kemandirian industri LTJ nasional dan menegaskan posisi Indonesia dalam peta rantai pasok mineral strategis dunia pada 2028. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Logam tanah jarang #Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia #BRIN #hilirisasi